Beranda Tulisan Feature Bersama mobil-mobilan, Junaidi Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19

Bersama mobil-mobilan, Junaidi Bertahan Hidup di Tengah Pandemi Covid-19

BERBAGI
Junaidi memperlihatkan sejumlah mobil miniatur hasil karyanya. (Foto/Zammil)

Pandemi ini begitu terasa bagi saya. Mobil buatan saya ini kurang laku. Pembeli pun menurun dan pendapatan saya juga ikut berkurang

Tangannya tak henti-henti memegang kain putih kombinasi kotak-kotak biru. Dengan kain itu, dia membersihkan debu di bus buatannya. Sesekali, kain disematkan ke pundak sembari matanya memerhatikan mobil-mobilan yang terpajang rapi.

Junaidi, 46, memulai usaha membuat mobil miniatur berbahan kayu tersebut sejak tahun 2014. Tempat usahanya di Gampong Baro, Kecamatan Teunom, Aceh Jaya, begitu sempit.

Kios dibangun hanya berukuran empat kali empat meter. Begitu juga luas halaman sama dengan luas kiosnya, berdampingan langsung dengan jalan nasional lintas Banda Aceh-Meulaboh.

Kios tersebut berada di teras rumahnya. Di tempat itu, Junaidi membuat dan menjual mobil-mobilan.

“Sejak kecil saya sudah suka membuat mobil-mobilan. Dari hobi ini akhirnya berubah jadi pekerjaan. Hasilnya, cukup untuk menyekolahkan anak,” ujar Junaidi.

Junaidi mengaku penjualan mobil-mobilan buatannya sudah ke seluruh Aceh. Pembelinya kebanyakan penumpang minibus L300.

“Terkadang, ada juga pembeli dari luar Aceh. Dua bus miniatur sudah dibeli sama orang Jakarta. Alhamdulillah, hasil penjualan ini cukup untuk kebutuhan keluarga,” kata Junaidi.

Junaidi membersihkan bus hasil karyanya. (Foto/Zammil)

Ayah dua anak ini kini mempekerjakan seorang pemuda setempat. Kegelisahannya begitu terlihat, saat ditanya pandemi COVID-19 berimbas terhadap pendapatan usahanya.

“Pandemi ini begitu terasa bagi saya. Mobil buatan saya ini kurang laku. Pembeli pun menurun dan pendapatan saya juga ikut berkurang,” ujar junaidi

Namun, kondisi itu tidak menyurutkan Junaidi mengais rezeki. Sang istri, Murni Y, 40, memilih untuk berjualan gorengan membantu perekonomian keluarga.

Junaidi menunjuk pondok-pondok di kanan dan kiri badan jalan lintas Calang-Meulaboh. Jaraknya sekitar 200 meter dari kios mobil-mobilannya.

Murni Y, istri Junaidi, menjual gorengan. (Foto/Zammil)

“Di antara penjual gorengan di pondok-pondok itu, ada istri saya. Alhamdulillah, hasilnya cukup membantu kebutuhan pokok selama pandemi ini,” ujar Junaidi

Kendati usahanya terdampak wabah virus corona melanda dunia, namun Junaidi masih punya asa. Ia berharap mampu memperbesarkan usahanya dan bisa menampung sejumlah karyawan, terutama para pemuda desanya yang belum memiliki pekerjaan.

“Saya sangat berkeinginan, di suatu saat nanti, dapat memperbesar usaha mobil-mobilan ini, sehingga para pemuda desa dapat bekerja bersama saya,” pungkas Junaidi. (Zammil)