Hamparan kebun yang rusak dan akses jalan belum sepenuhnya pulih menjadi saksi bahwa bencana masih menyisakan luka.
Tawa riang anak-anak pecah di halaman sekolah darurat Dusun Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur, Jumat (3/7/2026).
Dengan wajah sumringah, mereka berlarian sambil memeluk tas sekolah yang baru saja dibagikan relawan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Aceh.
Pantauan Waspadaaceh.com, sebagian siswa langsung membuka tas dan melihat isi perlengkapan sekolah yang mereka terima. Ada yang memperlihatkan buku tulis dan pensil warna kepada teman-temannya, sementara yang lain tak henti-hentinya tersenyum.
Pemandangan itu menjadi kebahagiaan sederhana setelah tujuh bulan mereka menjalani proses belajar dalam keterbatasan.
Untuk mencapai dusun tersebut bukan perkara mudah. Perjalanan harus melewati jalan tanah yang berlubang, licin, dan berlumpur. Di sejumlah titik, bekas banjir bandang yang menerjang kawasan itu pada 26 November 2025 masih terlihat jelas.
Hamparan kebun yang rusak dan akses jalan yang belum sepenuhnya pulih menjadi saksi bahwa bencana masih menyisakan luka.

Di tengah dusun yang dihuni sekitar 68 kepala keluarga itu kini berdiri tiga ruang kelas darurat. Bangunan berukuran sekitar 6,4 x 9 meter itu dibangun dari kayu hasil gotong royong warga, memanfaatkan pohon-pohon durian yang mati diterjang banjir.
Selama tujuh bulan terakhir, hampir 90 siswa SD Negeri Saragala terpaksa belajar di tenda darurat yang berada sekitar lima kilometer dari permukiman mereka. Setiap pagi mereka harus menempuh perjalanan menuju sekolah sementara. Saat matahari mulai meninggi, suhu di dalam tenda menjadi sangat panas.
Ketika hujan atau angin kencang datang, kegiatan belajar kembali terganggu karena tenda beberapa kali mengalami kerusakan.
“Jam sembilan pagi saja sudah tidak nyaman. Anak-anak sulit bertahan lama di dalam tenda,” kata guru SD Negeri Sarahgala, Siti Sari.
Melihat kondisi tersebut, warga bersama relawan KAGAMA Aceh bergotong royong membangun sekolah darurat di atas lahan hibah milik masyarakat. Pembangunan dilakukan selama delapan hari pada Juni lalu hingga akhirnya berdiri tiga ruang kelas sederhana.
Bangunan itu memang belum sepenuhnya layak. Dindingnya masih berupa papan, lantainya masih sederhana, dan fasilitas belajar belum lengkap. Sekolah darurat itu juga belum memiliki fasilitas sanitasi, MCK, serta sarana air bersih yang memadai.
Kebutuhan tersebut kini menjadi harapan berikutnya agar anak-anak dapat belajar dengan lebih sehat dan nyaman sambil menunggu sekolah permanen dibangun.

Perwakilan KAGAMA Aceh, Lestari Suci Dian, mengatakan bantuan itu lahir dari keprihatinan melihat anak-anak yang masih bertahan belajar di tenda darurat.
“Kami menggalang donasi dari alumni KAGAMA di berbagai daerah. Harapannya, anak-anak memiliki ruang belajar yang lebih aman dan nyaman sambil menunggu sekolah permanen dibangun,” ujarnya.
Selain membangun ruang kelas, KAGAMA juga membagikan tas sekolah, buku tulis, alat tulis, dan perlengkapan belajar kepada seluruh siswa.
Menanti Sekolah Permanen
Kepala Dusun Sahraja, Ismail, mengatakan masyarakat telah menghibahkan lahan untuk pembangunan sekolah permanen. Menurutnya, persoalan lahan yang selama ini menjadi kendala kini telah selesai.
“Harapan kami pemerintah segera membangun sekolah permanen. Anak-anak juga membutuhkan fasilitas dasar seperti sanitasi dan MCK agar bisa belajar dengan nyaman,” katanya.
Sekolah darurat itu memang hanya bangunan kayu sederhana. Namun, bagi anak-anak Sahraja, ruang kelas tersebut menjadi awal untuk kembali menata mimpi yang sempat terhenti akibat banjir bandang.
Kini, yang mereka nantikan bukan hanya sekolah permanen, tetapi juga hadirnya fasilitas dasar yang layak agar mereka bisa belajar dengan aman, sehat, dan nyaman. (*)



