Selasa, Februari 24, 2026
spot_img
BerandaDisbudpar AcehDanau Aneuk Laot, Permata Air Tawar di Kota Sabang

Danau Aneuk Laot, Permata Air Tawar di Kota Sabang

Danau Aneuk Laot adalah jantung kehidupan bagi masyarakat Pulau Sabang, menjadi sumber air bersih utama yang menyuplai kebutuhan air minum seluruh warga kota.

Bayangkan permukaan air yang tenang, nyaris tanpa riak, seolah menjadi cermin raksasa yang memantulkan langit biru dan gumpalan awan putih yang melayang lembut.

Di kejauhan, perbukitan hijau yang masih asri dan rimbun mengurung cekungan danau itu, membentuk lanskap alami yang begitu memukau, seolah karya seni alam yang tak bisa ditandingi oleh buatan manusia.

Di ujung barat Indonesia, tepatnya di Pulau Weh, bentang alam indah ini dikenal sebagai Danau Aneuk Laot—danau air tawar terbesar di Kota Sabang yang menyimpan pesona dan makna jauh lebih dalam dari sekadar keindahan mata.

Dengan luas mencapai kurang lebih 37,5 hektare, Danau Aneuk Laot menyambut setiap pengunjung dengan udara yang sejuk dan menyegarkan, hadiah alami dari perbukitan hijau yang masih terjaga kelestariannya di sekelilingnya.

Airnya yang jernih bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menjadi bukti kesehatan ekosistem yang ada di sana. Namun, keberadaan danau ini melampaui sekadar estetika lanskap yang memikat.

Danau Aneuk Laot adalah jantung kehidupan bagi masyarakat Pulau Sabang, menjadi sumber air bersih utama yang menyuplai kebutuhan air minum seluruh warga kota. Posisi strategisnya sebagai infrastruktur ekologis yang vital membuat kawasan ini tidak bisa diperlakukan sembarangan seperti destinasi wisata biasa.

Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Sabang, Zulfikar, menegaskan, pengembangan kawasan Danau Aneuk Laot dilakukan secara sangat terbatas dan berhati-hati.

“Danau ini tidak bisa dikembangkan berlebihan karena merupakan sumber air minum masyarakat. Ada aturan ketat yang mengatur. Aktivitas di atas air seperti wahana permainan tidak diperbolehkan sama sekali. Area penyangganya pun merupakan hutan lindung. Yang bisa dilakukan hanya penataan ringan seperti pembuatan taman atau tempat duduk di luar area inti danau,” ujarnya dalam wawancara dengan Waspadaaceh.com, Senin (23/2/2026).

 

Keindahan Danau Aneuk Laot dari kejauhan. (dok.website aneuklaot.gampong.id)

Pernyataan itu menjadi kunci mengapa Danau Aneuk Laot tetap tampak begitu alami dan asri hingga saat ini. Tidak ada suara bising mesin wahana air yang mengganggu ketenangan, tidak ada bangunan komersial besar yang menjorok ke badan air dan merusak pemandangan.

Ruang yang tersedia bagi pengunjung sebatas jalur pejalan kaki yang nyaman, gazebo-gazebo sederhana untuk bersantai, dan taman-taman kecil yang ditata rapi di luar zona inti. Keterbatasan ini justru menjadi daya tarik tersendiri, menciptakan suasana damai yang sulit ditemukan di destinasi wisata lain yang terlalu ramai dan komersial.

Di sisi lain, danau ini tetap menjadi ruang hidup yang berdenyut bagi warga sekitar. Airnya dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari dan juga menopang usaha-usaha kecil masyarakat, mulai dari warung-warung sederhana hingga kebun-kebun yang menghasilkan hasil bumi segar.

Artinya, fungsi ekologis dan kebutuhan ekonomi warga berjalan berdampingan secara harmonis, membuktikan bahwa pariwisata dan kelestarian alam bisa bersinergi tanpa harus saling menyingkirkan.

Panorama Danau Aneuk Laot, Sabang. (Foto/Ist)

Salah seorang wisatawan, Wahyu Majiah, asal Aceh Selatan, mengaku selalu tertarik berkunjung ke Sabang karena keindahan alamnya yang luar biasa dan suasananya yang tenang.

“Saya suka ke Sabang karena pantainya indah, suasananya juga tenang,” ujarnya.

Kali ini, ia memilih untuk menikmati sisi lain Sabang yang tak kalah memikat di kawasan Danau Aneuk Laot. Menurutnya, destinasi ini masih sangat terjaga kealamiannya. Meski terdapat beberapa kafe di titik-titik tepian danau untuk memanjakan lidah wisatawan, pengelola tetap mempertahankan keasrian lingkungan sehingga suasana tenang dan damai tetap terasa kental di setiap sudutnya.

Prestasi pun diraih oleh kawasan yang juga menjadi bagian dari Desa Wisata Aneuk Laot ini. Kawasan ini pernah masuk dalam 75 besar nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023, sebuah pengakuan atas keberhasilan mereka dalam mengelola potensi wisata.

Basis wisata alam yang berpadu apik dengan kekayaan budaya dan kuliner lokal memperkuat identitas Aneuk Laot sebagai destinasi unggulan di ujung barat Indonesia, tanpa harus mengorbankan daya dukung lingkungannya yang berharga.

Di tengah arus ekspansi pariwisata yang kerap kali agresif dan cenderung mengeksploitasi alam, Danau Aneuk Laot hadir sebagai contoh model pariwisata yang berbeda dan patut ditiru. Di sini, pembatasan dilakukan bukan untuk membatasi kesenangan, melainkan untuk menjaga sumber daya yang ada agar tetap lestari untuk generasi mendatang.

Keindahannya terpelihara rapi karena adanya regulasi yang ditegakkan dengan tegas. Daya tariknya justru lahir dari ketenangan yang tidak dieksploitasi, sebuah kemewahan tersendiri di era modern yang serba cepat dan bising.

Danau Aneuk Laot bukan sekadar permata air tawar di Sabang, melainkan bukti nyata bahwa menjaga alam adalah cara terbaik untuk mencintai kehidupan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER