BerandaOpiniKebangkitan Fuel Terminal Krueng Raya Berbasis Tata Kelola GCG di Tengah Bencana...

Kebangkitan Fuel Terminal Krueng Raya Berbasis Tata Kelola GCG di Tengah Bencana Sumatera

Di bawah tekanan luar biasa: stok menipis di satu sisi, sementara ribuan warga menanti di sisi lain, Pertamina Patra Niaga tetap berpegang pada prinsip transparansi, keadilan, dan akuntabilitas

Oleh: Sulaiman Achmad

Di ujung paling barat Pulau Sumatera, keberadaan sebuah fasilitas begitu penting bagi jutaan warga Aceh. Fuel Terminal Krueng Raya, berdiri di atas lahan seluas 6,4 hektare sejak tahun 1986 di Gampong Meunasah Mon, Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Fasiltas ini sebagai nadi yang memompa energi ke jantung dan seluruh penjuru Provinsi Aceh.

Selama puluhan tahun, terminal ini berdiri tenang. Ia menyimpan dan menyalurkan bahan bakar yang membuat roda kehidupan dan ekonmi terus berputar, hingga akhir November 2025, ketika langit seakan terbuka dan bencana besar datang menerjang.

Bencana hidrometeorologi akhir November 2025 adalah peristiwa yang tak akan mudah dilupakan oleh warga Aceh. Dari perbatasan Langkat di timur hingga Nagan Raya di barat, dari Gayo Lues di pegunungan hingga pesisir pantai barat, hampir seluruh wilayah Aceh diterjang banjir bandang dan tanah longsor.

Jalan lintas Sumatera yang menjadi urat nadi distribusi barang terputus di Aceh Tamiang. Kota Kuala Simpang dan Karang Baru hampir rata dengan tanah. Kayu-kayu hutan berserakan di jalan arteri yang tertimbun lumpur sedalam satu hingga dua meter. Di Bireuen, Jembatan Krueng Tingkeum hancur lebur diterjang arus deras. Jalur darat lumpuh total.

Akibatnya, Aceh ketika itu sempat terisolasi. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam. Listrik padam di hampir seluruh wilayah karena menara SUTT roboh diterjang banjir. Internet terputus. Di tengah kelangkaan yang luar biasa itu, Bahan Bakar Minyak (BBM) dan gas elpiji menjadi barang yang paling dicari sekaligus paling sulit didapatkan.

Di tingkat pengecer, harga satu liter Pertalite sempat melonjak hingga Rp100.000 per liter. Tabung elpiji 3 kilogram yang biasanya terjangkau, dijual antara Rp150.000 hingga bahkan Rp300.000 per tabung. Kondisi ini bertahan selama hampir satu bulan penuh — masa yang terasa selamanya bagi warga yang terdampak.

Ujian Berat Sebuah Terminal

Di tengah situasi darurat yang luar biasa itu, Fuel Terminal Krueng Raya pun tak luput dari dampak bencana. Ombak laut yang tinggi dan cuaca ekstrem menghambat kedatangan kapal tangker pemasok. Stok di dalam tangki penyimpanan yang berjumlah 12 unit itu perlahan menipis.

Manager FT Krueng Raya, Hilman Pambudidoyo, Kamis (22/10/2026) di Hotel Azana Oasis Banda Aceh, memaparkan terminal ini melayani kebutuhan 41 SPBU, 68 Pertashop, serta 33 instansi dan 19 perusahaan industri yang tersebar dari Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, hingga Aceh Jaya. Kapasitas pasoknya berkisar antara 900 hingga 1.000 kiloliter per hari, yang bersumber dari Kalbut (15%), Tanjung Uban (30%), dan Medan (55%).

“Ketika jalur darat tertutup lumpur dan laut sedang bergelora, dua jalur distribusi utama terhambat sekaligus,” kata Hilman.

Inilah momen krusial di mana tata kelola perusahaan yang baik, Good Corporate Governance (GCG), bukan sekadar dokumen kebijakan di lemari kantor, melainkan pedoman nyata yang menuntun setiap keputusan.

Di bawah tekanan luar biasa: stok menipis di satu sisi, sementara ribuan warga menanti di sisi lain, Pertamina Patra Niaga tetap berpegang pada prinsip transparansi, keadilan, dan akuntabilitas. Tidak ada penimbunan, tidak ada spekulasi harga. Justru di saat yang paling sulit itulah prinsip-prinsip tata kelola diuji dan dipertahankan.

Mengubah Keterbatasan Menjadi Solusi

Ketika jalur darat tertutup lumpur dan jalur laut utama terhambat ombak, Pertamina Patra Niaga mengambil keputusan berani namun terukur. Mengacu pada protokol mitigasi bencana yang telah disusun sebelumnya, perusahaan mengalihkan jalur distribusi melalui akses laut alternatif: Pelabuhan Ulee Lheue dan Pelabuhan Laksamana Malahayati yang berdekatan dengan terminal.

Puluhan mobil tangki BBM jenis Biosolar dan Pertalite dikirimkan menggunakan kapal lambat langsung ke Banda Aceh. Demikian pula puluhan truk elpiji 3 kilogram dan Bright Gas didatangkan dari berbagai wilayah di Sumatera. Langkah ini dilakukan bukan atas keuntungan sesaat, melainkan atas dasar tanggung jawab sosial Perusahaan, bagian tak terpisahkan dari GCG yang menempatkan kepentingan masyarakat di atas segalanya.

Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Comm, Rel. & CSR Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, menegaskan saat itu, penguatan penyaluran elpiji dan BBM menjadi prioritas utama kebutuhan dasar warga terdampak bencana. Distribusi hingga pemulihan bertahap serta pembagian secara gratis dilakukan sebagai bagian komitmen PT Pertamina (Persero) dalam mitigasi dampak bencana.

Pernyataan ini bukan sekadar ungkapan niat baik, melainkan cerminan dari tata kelola yang menempatkan pelayanan publik dan kepedulian sosial sebagai bagian dari keberhasilan perusahaan, bukan beban tambahan.

Pembelajaran Berharga

Bencana November 2025 menyisakan banyak pelajaran berharga. Pertama, bahwa ketangguhan sebuah fasilitas strategis tidak hanya diukur dari ketebalan dinding tangkinya, melainkan dari seberapa siap dan adaptif manajemennya saat krisis datang.

Kedua, bahwa tata kelola perusahaan yang baik, yang jujur, transparan, dan bertanggung jawab, adalah fondasi terkuat di masa sulit. Ketika kepercayaan masyarakat terjaga, ketegangan dapat diredam dan bantuan dapat diterima dengan ketertiban.

Ketiga, bahwa kemandirian energi di daerah rawan bencana seperti Aceh adalah kebutuhan mendesak yang harus terus diperkuat, agar di masa depan, ketika bencana kembali datang, dan kita tidak pernah tahu kapan itu akan terjadi, warga tidak perlu lagi berdebar menanti kiriman BBM dan elpiji dari jauh.

Dan yang terpenting, di balik segala infrastruktur, teknologi, dan sistem manajemen yang canggih, ada jiwa warga Aceh yang luar biasa tangguh. Mereka yang tak manja, yang bangkit dari reruntuhan dengan semangat yang tak pernah padam, layaknya obor yang tak padam tertiup angin kencang maupun ombak besar.

Bersama Pertamina, ketangguhan warga dan keandalan sistem penyaluran BBM di masa bencana yang sudah terbukti, dan akan terus diperbaiki, masa depan Aceh akan tetap cerah, meski badai mungkin belum berakhir. (*)

  • Penulis adalah Wartawan Waspadaaceh.com yang bertugas di Kota Banda Aceh
  • Tulisan ini diikutsertakan pada Apresiasi Jurnalistik Pertamina (AJP) tahun 2026

 

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER