Aceh Tengah (Waspada Aceh) – Di tepian Danau Laut Tawar, kini deretan bangunan baru mulai berdiri tegak. Tepatnya di kawasan Mendale, Kecamatan Kebayakan Kabupaten Aceh Tengah. Pekerja terlihat sibuk menurunkan material besi untuk pondasi, sementara sebagian bangunan sudah memasuki tahap akhir pengecatan dan pemolesan dinding.
Progres revitalisasi yang mencapai 75 persen per Oktober 2026 ini menjadi harapan baru bagi warga dan wisatawan yang lama menantikan kebangkitan kembali ikon pariwisata Aceh Tengah pascabencana akhir tahun 2025 itu.
Penataan kawasan Mendale mencakup area seluas 0,410 hektare dengan garis tepian sepanjang 420 meter, dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Aceh, dengan PT Nindya Karya (Persero) sebagai pelaksana. Program ini merupakan bagian dari Penanganan Kawasan Pascabencana Aceh yang mencakup 27 titik di lima kabupaten se-Aceh.
Fasilitas yang disiapkan sangat lengkap: jalur pedestrian selebar 1–2,4 meter termasuk jalur tunanetra, ruang terbuka hijau dengan 12 kotak tanaman, area parkir untuk 42 kendaraan bermotor, serta satu bangunan pengelola, dua toilet difabel, empat toilet umum, dan taman bermain anak.
Tak ketinggalan, 30 unit kios UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dengan desain khas arsitektur Gayo akan menjadi tempat warga menawarkan cenderamata, kuliner lokal, kerawang Gayo, dan kopi daerah.

Harapan Bangkitnya Ekonomi Warga
Kepala Dinas Pariwisata Aceh Tengah, Erwin Pratama, menjelaskan, kawasan ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan upaya menghidupkan kembali denyut nadi perekonomian masyarakat setempat. Dia percaya ekonomi warga akan bangkit kembali setelah sempat terhambat akibat bencana alam pada akhir November 2025.
“Lokasi ini adalah pintu masuk utama Danau Laut Tawar. Ke depannya, kami ingin menjadikan kawasan ini ikon wisata yang ramah lingkungan, bernuansa Islami, dan memberdayakan masyarakat,” ujarnya. Target penyelesaian ditetapkan pada Desember 2026.
Harapan yang sama disampaikan Saifullah, Kepala Desa Mendale. Dia bercerita bahwa sebelum bencana, sekitar 20 keluarga menggantungkan hidup dari berdagang di tepian danau. Banjir dan longsor menghancurkan semuanya, memaksa mereka berjualan di tenda darurat.
Kini, dengan selesainya pembangunan yang akan dikelola melalui BUMK Sejahtera, mereka siap bangkit kembali. “Penghasilan kami dulu dari sini. Kebun kopi pun banyak yang longsor. Semoga selesai tepat waktu, agar kami dapat kembali menghidupi keluarga,” ungkapnya.
Sejalan Renduk PRRP Sumatera
Penataan kawasan Mendale tercantum dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRR) Sumatera 2026–2028, yang menempatkan pemulihan pariwisata sebagai bagian penting dari pemulihan ekonomi masyarakat. Prinsip utamanya: membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas atau Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pentingnya kecepatan dan kesinambungan pembangunan.
“Jangan sampai anggaran hangus. Karena itu sudah ada jelas titiknya untuk pemulihan jalan, rumah, tambak, sawah, dan kawasan wisata. Kalau dihanguskan, programnya berhenti, dan yang menderita adalah masyarakat yang sedang berjuang bangkit,” tegasnya.
Dia meminta kementerian dan lembaga segera menyiapkan pengajuan anggaran bersama Kementerian Keuangan. Penyelesaian dokumen dan persetujuan lebih awal diharapkan dapat mempercepat pengadaan sehingga masyarakat tidak harus menunggu lebih lama untuk memperoleh manfaat pembangunan.
“Kalau seandainya baru diajukan Januari, kemudian di-approve-nya bulan April, Januari sampai April itu akan terjadi kekosongan, kevakuman. Ini yang kita tidak harapkan karena masyarakat membutuhkan kecepatan untuk pemulihan,” kata Tito usai rapat koordinasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Tito juga mengingatkan perlunya persiapan sejak dini agar pekerjaan tahun depan tidak vakum. “Kita tidak boleh kehilangan momentum. Setiap bulan yang berlalu adalah waktu yang hilang bagi warga yang menanti kehidupan normal mereka kembali,” tambahnya.
Dalam Rencana Induk PRR, kebutuhan anggaran 2026 untuk Sumatera ditetapkan sebesar Rp39,1 triliun, sedangkan anggaran yang diterima dari Kementerian Keuangan mencapai Rp29,9 triliun. Sejumlah kementerian dan lembaga menyesuaikan pengajuan kegiatan dengan mempertimbangkan kecukupan waktu pelaksanaan hingga akhir tahun.
Tito menyampaikan selisih kebutuhan anggaran sekitar Rp9 triliun tersebut direncanakan untuk dilaksanakan bersama rencana anggaran 2027 sebesar Rp32,94 triliun. Dengan demikian, dukungan anggaran yang disiapkan untuk melanjutkan pemulihan pada tahun depan mencapai sekitar Rp42 triliun.
Menuju Masa Depan Lebih Cerah
Ketika pekerjaan rampung nanti, kawasan Mendale tak hanya akan menampilkan danau yang indah, tetapi juga kehidupan yang kembali berwarna. Anak-anak bermain di taman, wisatawan berjalan nyaman di sepanjang tepian, dan warga tersenyum saat melayani pembeli di kios mereka.
Itulah wajah pemulihan yang sesungguhnya: alam yang pulih, fasilitas yang tertata, dan manusia yang diberi ruang untuk bermartabat. Warga berharap, bisa menata kembali ekonominya di tepian Danau Laut Tawar ini, yang sempat porak-poranda akibat bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025. (*)



