Banda Aceh (Waspada Aceh) – Polisi masih menunggu hasil visum et repertum dan CT scan jenazah untuk mengetahui penyebab pasti kematian Muhammad Rasya Fadilla (18), mahasiswa Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati Aceh yang meninggal dunia di RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh, Minggu sore (27/9/2026).
Mahasiswa Program Diploma III (D-III) Studi Nautika asal Kota Lhokseumawe itu sebelumnya mengalami demam tinggi dan nyeri tenggorokan. Kondisinya kemudian disertai munculnya ruam kemerahan di sekujur tubuh sebelum dirujuk ke RSUDZA.
Kapolresta Banda Aceh Kombes Pol Teguh Priyambodo Nugroho melalui Kasatreskrim Kompol Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan, pihaknya telah melakukan penyelidikan awal terkait kematian mahasiswa tersebut.
Polisi juga telah mendatangi lokasi kejadian di lingkungan Poltekpel Malahayati Aceh, Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, serta Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUDZA.
“Berdasarkan keterangan awal, korban sebelumnya mengalami demam dan nyeri tenggorokan, kemudian menjalani perawatan di klinik Poltekpel Malahayati Aceh sebelum dirujuk ke RSUDZA,” kata Kompol Dizha.
Berdasarkan kronologi yang dihimpun polisi, korban mendatangi Poliklinik Poltekpel Malahayati Aceh pada Sabtu (26/9/2026) sekitar pukul 16.21 WIB.
Saat itu, korban yang sedang mengikuti pendidikan D-III Studi Nautika mengeluhkan demam dan nyeri tenggorokan.
Dokter klinik kemudian memeriksa tanda-tanda vital korban. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 131/74 mmHg, denyut nadi 104 kali per menit, dan suhu tubuh mencapai 39,7 derajat Celsius.
Setelah pemeriksaan, korban mendapat penanganan medis berupa pemasangan infus dan pemberian obat minum untuk mengurangi keluhan nyeri.
Namun, pada Minggu (27/9/2026) sekitar pukul 10.17 WIB, muncul ruam kemerahan pada tubuh korban.
Pihak medis kemudian melakukan observasi. Namun, ruam tersebut dilaporkan semakin banyak. Sekitar pukul 12.13 WIB, korban akhirnya dirujuk ke RSUDZA Banda Aceh dengan didampingi tim medis dari klinik Poltekpel Malahayati Aceh.
“Setibanya di RSUDZA, korban mendapatkan penanganan medis. Namun, pada pukul 16.14 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia,” ungkap Dizha.
Penyebab Kematian Masih Menunggu Pemeriksaan
Untuk mengetahui penyebab pasti kematian korban, polisi berkoordinasi dengan dokter forensik RSUDZA.
Korban telah menjalani pemeriksaan luar melalui visum et repertum serta CT scan jenazah. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi tubuh korban, termasuk melihat adanya memar atau ruam kemerahan.
Namun, pemeriksaan tidak dilanjutkan dengan autopsi karena pihak keluarga tidak memberikan izin.
“Berdasarkan keterangan dokter forensik, dr. Taufik, dugaan sementara korban meninggal dunia karena sakit,” tutur Kompol Dizha.
Meski demikian, penyebab pasti kematian korban masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan forensik.
Menurut Dizha, pihak keluarga dapat menerima penjelasan awal dari dokter forensik, namun tetap menunggu hasil visum et repertum dan CT scan.
Hasil visum et repertum diperkirakan baru keluar sekitar tujuh hari, sedangkan hasil CT scan diperkirakan dapat diketahui pada Senin (28/9/2026).
Meski keluarga dapat menerima penjelasan dari dokter, Kompol Miftahuda Dizha Fezuono mengatakan penyelidikan akan terus dilakukan untuk memperoleh gambaran lengkap mengenai rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal dunia.
Polisi akan berkoordinasi dengan pihak RSUDZA terkait hasil pemeriksaan forensik dan CT scan jenazah.
Selain itu, penyidik akan meminta keterangan dari pihak Poltekpel Malahayati Aceh serta sejumlah saksi yang mengetahui kondisi korban sebelum dirujuk ke rumah sakit.
“Penyelidikan tersebut dilakukan untuk melengkapi keterangan dan memastikan rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal dunia,” katanya.
Sebelumnya, korban diketahui tinggal di Asrama Cut Nyak Dhien, kamar C-201, Poltekpel Malahayati Aceh, bersama lima mahasiswa lainnya, yakni Faizan Wahid Surahman Simanjuntak, Khairul Hartanwi, Dimas Syahputra, Putra Joshua Lubis, dan Ghazi Rabbani Hibatullah Prabu.
Setelah seluruh proses pemeriksaan awal selesai, jenazah korban diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke Kota Lhokseumawe dan dikebumikan.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti meninggalnya Muhammad Rasya Fadilla masih menunggu hasil pemeriksaan visum et repertum dan CT scan dari RSUDZA.
Sebelumnya, Laila, ibunda Rasya, menyebut terdapat kejanggalan pada kondisi anaknya sebelum meninggal dunia. Ia mengatakan mendapat informasi bahwa wajah Rasya mengalami lebam dan tubuhnya membengkak setelah mengonsumsi obat. (*)



