BerandaAcehCuaca Aceh Terasa Panas, BMKG Ungkap Sejumlah Penyebabnya

Cuaca Aceh Terasa Panas, BMKG Ungkap Sejumlah Penyebabnya

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Cuaca panas yang dirasakan masyarakat Aceh dalam beberapa waktu terakhir tidak sepenuhnya disebabkan fenomena El Nino. BMKG menyebut pengaruh El Nino terhadap Aceh relatif kecil dibandingkan wilayah Indonesia bagian timur.

Forecaster SIM Aceh BMKG, Muhammad Niza Andria, mengatakan dampak El Nino lebih kuat dirasakan di wilayah Indonesia bagian timur. Sementara Aceh yang berada di bagian barat Indonesia hanya terdampak dalam skala kecil.

“Dampak El Nino di Aceh cukup kecil jika dibandingkan di wilayah lainnya,” kata Niza, Senin (31/8/2026).

Menurut Niza, kondisi panas di Aceh saat ini dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya adalah gerak semu matahari yang membuat posisi matahari berada di sekitar wilayah ekuator.

Selain itu, Aceh masih dipengaruhi sisa monsun timuran yang berlangsung sejak Juni dan Juli. Angin tersebut membawa massa udara yang relatif kering dan hangat dari Australia menuju Indonesia.

“Cuaca panas di wilayah Aceh juga didukung oleh faktor lainnya seperti gerak semu matahari, aktivitas manusia seperti pembakaran hutan dan lahan, serta sisa monsun timuran sejak bulan Juni dan Juli yang membawa massa udara kering dan hangat dari Benua Australia,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, Niza menegaskan cuaca panas di Aceh tidak bisa langsung dikaitkan dengan El Nino. Kondisi atmosfer regional dan faktor lingkungan turut memengaruhi suhu serta curah hujan di wilayah Aceh.

Curah Hujan Diprediksi Naik

Di tengah kondisi panas yang dirasakan masyarakat, BMKG justru memprediksi curah hujan di Aceh akan mulai meningkat dalam beberapa bulan ke depan.

“Curah hujan diprediksi perlahan meningkat di bulan September, Oktober, November,” ujar Niza.

Berdasarkan peta prediksi curah hujan BMKG yang diperbarui 1 Agustus 2026, sejumlah wilayah Aceh masih berada pada kategori curah hujan rendah hingga menengah pada Agustus.

Memasuki September, potensi curah hujan mulai meningkat di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut diperkirakan berlanjut pada Oktober dan November, meski distribusinya berbeda antarwilayah.

Sementara itu, berdasarkan peta anomali suhu muka laut dasarian II Agustus 2026, wilayah Nino 3.4 menunjukkan anomali suhu muka laut positif. Indeks Nino 3.4 tercatat 2,99.

Adapun Dipole Mode tercatat 0,394 dan Modoki Index -0,43. Meski terdapat anomali suhu muka laut di kawasan Pasifik, dampaknya terhadap kondisi cuaca tidak sama di seluruh Indonesia. Wilayah barat Indonesia, termasuk Aceh, memiliki respons atmosfer yang berbeda dengan wilayah timur.

Karena itu, masyarakat Aceh diminta tidak langsung mengaitkan kondisi panas yang terjadi dengan El Nino. Pola angin musiman, posisi matahari, kondisi atmosfer regional hingga aktivitas manusia juga dapat memengaruhi kondisi cuaca.

BMKG mengimbau masyarakat tetap memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini. Terlebih, Aceh mulai memasuki periode peningkatan curah hujan pada September hingga November. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER