Medan (Waspada Aceh) – Foto-foto yang ditampilkan dalam Pameran Foto Bencana bertema “Prahara Pulau Emas” seolah mampu bercerita tanpa batas dan mengabarkan tanpa narasi, namun sangat menyentuh hati.
Demikian disampaikan Penasihat Persatuan Pewarta Foto Indonesia (PFI), Dedi Nelson F, kepada media pada Rabu (26/8/2026).
“Sangat sedih hati ini melihat terjangan banjir akibat kerusakan alam yang semakin parah, tak terkendali oleh orang-orang yang tak peduli,” ujar Dedi, menanggapi pameran yang telah dibuka sejak Selasa (19/8/2026) di Atrium Plaza Medan Fair, Jalan Gatot Subroto, Medan.
Pameran ini menghadirkan ratusan foto dokumentasi bencana banjir besar yang melanda pada 27 November 2025, meliputi wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, termasuk Kota Medan yang juga turut terdampak. Ratusan gambar itu merekam tangis warga, lumpur yang menyelimuti kawasan terdampak, hingga semangat gotong royong yang tetap menyala di tengah musibah.

Pameran yang berakhir pada Jumat (21/8/2026) ini secara resmi dibuka oleh Wali Kota Medan Rico Triputra Waas, yang hadir bersama sejumlah Kepala SKPD.
Dalam sambutannya, Rico menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para penyelenggara dan para pewarta foto yang telah mendokumentasikan peristiwa tersebut.
Ketua Korwil PFI, Hendra Syamhari, turut menitipkan pesan haru saat pembukaan. “Fotografer jurnalis terkadang melupakan dirinya sendiri, bahkan keluarga, anak dan istri, demi memberikan informasi secara luas kepada masyarakat. Seperti pada peristiwa bencana kemarin, mereka tetap di lapangan, basah, lapar, tapi terus memotret. Ini dedikasi,” ungkapnya.
Senada, Ketua Panitia Pameran Foto “Prahara Pulau Emas”, Irsan Mulyadi, menegaskan bahwa pameran ini bukan untuk menebar ketakutan, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran publik.
“Kami ingin publik melihat fakta, dari Aceh ke Sumbar lalu ke Medan. Dari situ kita belajar bahwa bencana bisa datang kapan saja. Mari jadikan ini pengingat untuk lebih siap,” ujar Irsan.
Ketua PFI Medan, Rizky Cahyadi, menjelaskan bahwa Medan merupakan kota ketiga yang menjadi lokasi pameran ini, setelah sebelumnya sukses digelar di Sumatera Barat dan Aceh. “Harapannya setelah ini masyarakat semakin paham arti mitigasi dan kemanusiaan,” tambahnya.
Di setiap sudut atrium, pengunjung disuguhi foto-foto evakuasi warga, rumah yang hanyut terbawa arus, dapur umum yang tetap beroperasi, hingga senyum para relawan yang tetap hadir di tengah tumpukan lumpur. Setiap karya dilengkapi narasi dan data kebencanaan, menjadikan pameran ini bukan sekadar penampilan gambar, melainkan ruang refleksi publik.
Pameran “Prahara Pulau Emas” diharapkan tidak hanya mengingatkan pada duka masa lalu, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa mendatang. Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis bagi seluruh pengunjung. (*)



