BerandaAcehDari Emping Melinjo, Muliana Menjaga Asa 5 Anaknya di Huntara Pidie Jaya

Dari Emping Melinjo, Muliana Menjaga Asa 5 Anaknya di Huntara Pidie Jaya

Suara ketukan alat pemecah melinjo menjadi bagian dari keseharian Muliana, 46 tahun. Di tengah keterbatasan hidup di hunian sementara (huntara), ia tetap berusaha bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Muliana tinggal di huntara (hunian sementara) bersama suaminya, Muzakar, dan lima anak mereka. Di sana, perempuan asal Lhoknga, Meureudu, Pidie Jaya itu menjalani dua pekerjaan sekaligus, membuat emping melinjo dan mengelola kios kelontong kecil.

Kios tersebut menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari minyak, telur, mi instan, sabun hingga makanan ringan untuk anak-anak.

Sementara membuat emping dilakukan ketika ada pesanan dan bahan melinjo tersedia. Belakangan, pesanan mulai kembali berdatangan, baik dari pemilik usaha maupun warga sekitar.

“Kalau ada melinjo dan ada yang pesan, saya bikin. Akhir-akhir ini lumayan ramai yang pesan,” kata Muliana kepada Waspadaaceh.com, Minggu (9/8/2026).

Alat Kerja Hanyut Dibawa Banjir

Namun, pekerjaan itu kini tidak lagi dilakukan dengan alat milik sendiri. Peralatan membuat emping yang sebelumnya mereka punya ikut hanyut saat banjir bandang melanda.

Kini, Muliana hanya bisa bekerja menggunakan alat milik orang lain yang dipinjamkan kepadanya.

“Alat-alat yang kami punya sudah terbawa banjir. Alat yang sekarang dipakai ini punya orang lain. Alat kami sendiri sudah hanyut,” ujarnya.

Tidak adanya alat sendiri membuat pekerjaan menjadi lebih terbatas. Jika mendapat banyak pesanan, Muliana dan suaminya tidak bisa menyelesaikannya sekaligus.

Kalau sudah lelah mengetok melinjo, mereka berhenti sejenak untuk mengerjakan pekerjaan lain. Setelah tenaga kembali, pekerjaan dilanjutkan.

Selepas Ramadan 2026, Muliana mulai kembali menerima pesanan mengetok melinjo. Salah satu pesanan datang dari kerabat di kampungnya.

Pekerjaan tersebut dibayar berdasarkan jumlah bambu melinjo yang dikerjakan. Untuk satu bambu, ongkos yang diterima sekitar Rp22 ribu.

Dalam sehari, Muliana biasanya mampu mengerjakan sekitar dua setengah bambu. Namun, jumlah itu juga bergantung pada kondisi karena ia harus membagi waktu dengan menjaga kios dan pekerjaan rumah tangga.

Penghasilan Suami Tak Selalu Cukup

Bagi Muliana, penghasilan dari mengetok melinjo menjadi tambahan penting bagi keluarganya.

Suaminya, Muzakar, bekerja sebagai tukang becak. Penghasilannya tidak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, terlebih mereka harus menghidupi lima anak.

“Kalau saya mengetok melinjo, hasilnya bisa membantu membeli kebutuhan seperti cabai. Suami bekerja sebagai tukang becak, jadi penghasilannya kadang tidak cukup,” katanya.

Muliana sedang mengolah biji melinjo menjadi keripik emping di kompleks huntara Pidie Jaya. (Foto/Cut Nauval D)

Dua dari lima anak Muliana sudah menyelesaikan sekolah. Sementara dua lainnya masih duduk di bangku SD dan SMA, sedangkan satu anaknya masih berusia empat tahun.

Dengan kondisi tersebut, penghasilan dari suami dan pekerjaannya membuat emping serta berjualan di kios harus dibagi sebaik mungkin.

“Penghasilan suami dan penghasilan dari saya bantu-bantu ini kami cukup-cukupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Anak saya lima, jadi memang harus pintar-pintar mengatur,” ujarnya.

Rumah Tertimbun Lumpur

Sebelum tinggal di huntara, Muliana bersama keluarganya menetap di Lhoknga, Meureudu, Pidie Jaya.

Rumah mereka memang tidak sampai hancur diterjang banjir. Namun, lumpur dan kayu-kayu besar memenuhi rumah.

Karena rumahnya dua lantai, Muliana dan keluarga sempat menyelamatkan sejumlah barang penting ke bagian atas rumah, termasuk dokumen seperti sertifikat.

Pengalaman menghadapi banjir sebelumnya membuat mereka lebih sigap ketika air mulai naik.

“Pernah, tapi tidak separah banjir yang kemarin. Karena sudah belajar dari pengalaman banjir sebelumnya, kami sempat membawa dokumen penting seperti sertifikat ke tempat yang lebih tinggi sehingga bisa diselamatkan,” katanya.

Meski rumah masih berdiri, kondisi tersebut membuat Muliana dan keluarganya kini tinggal di huntara yang berada di kompleks Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya.

Belum ada kepastian kapan mereka akan kembali ke rumah tetap. Informasi yang diterima keluarga hanya menyebut kemungkinan lokasi hunian tetap berada di kawasan dekat gunung, namun belum ada kepastian.

Bertahan di Huntara

Hari-hari di huntara juga tidak selalu mudah. Kata Muliana. Saat cuaca panas, kondisi di dalam hunian sementara terasa sangat menyengat.

Ketika angin kencang dan hujan datang, bangunan memang masih cukup aman, tetapi beberapa barang di sekitar huntara bisa beterbangan.

Untuk kebutuhan air, Muliana dan warga mengandalkan sumur bor. Airnya relatif bersih dan tidak berwarna kuning.

Namun, pasokan air bisa terganggu ketika mesin Sanyo mengalami kerusakan. “Kalau Sanyo rusak, air tidak bisa naik,” ujarnya.

Selama tinggal di huntara, bantuan pemerintah juga tidak lagi rutin diterima. Muliana mengatakan, bantuan yang pernah mereka dapat beberapa kali, namun kini sudah berhenti.

Salah satu bantuan yang diterima keluarga berupa beras sebanyak 20 kilogram. Setelah itu, belum ada lagi bantuan yang diterima untuk kebutuhan sehari-hari maupun mendukung usaha mereka.

Untuk modal usaha dan peralatan kerja pun, Muliana mengaku belum pernah mendapat bantuan. Padahal, peralatan untuk membuat emping yang mereka miliki sebelumnya sudah hanyut terbawa banjir.

Menyambung Penghidupan dari Emping

Bagi Muliana, mengetok melinjo bukan sekadar pekerjaan tambahan. Dari pekerjaan sederhana itu, ia berusaha membantu suaminya menjaga dapur tetap mengepul dan kebutuhan lima anak tetap terpenuhi.

Di sela menjaga kios, mengurus keluarga, dan pekerjaan rumah, ia kembali mengetuk satu demi satu melinjo yang datang sebagai pesanan.

Penghasilannya memang tidak besar. Namun, Rp22 ribu dari setiap bambu melinjo tetap berarti bagi keluarga yang sedang berusaha bangkit.

Kini, harapannya sederhana. Ia ingin mendapat bantuan untuk mengembangkan usaha, memiliki kembali alat kerja, mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak, serta memastikan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan.

“Semoga Bupati bisa membantu kami. Kalau bisa, kami dibantu untuk usaha jualan, dibantu rumah, dan pendidikan anak-anak,” harap Muliana.

Setelah banjir membawa banyak hal dari kehidupan mereka, Muliana kini mencoba menyambung kembali penghidupan dari apa yang masih bisa dikerjakannya.

Dari sebuah kios kecil dan ketukan melinjo yang berulang, ia menjaga satu harapan yaitu kehidupan keluarganya perlahan kembali normal, dan lima anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan tanpa harus kehilangan masa depan akibat bencana.(*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER