BerandaAceh21 Tahun Damai Aceh: Dari Inong Balee, Yuni Berjuang Lewat Usaha Kerupuk

21 Tahun Damai Aceh: Dari Inong Balee, Yuni Berjuang Lewat Usaha Kerupuk

“Marjuni atau Yuni pernah menjadi bagian dari Inong Balee. Dua puluh satu tahun setelah perdamaian Aceh, ia membangun hidup melalui usaha kerupuk dan membuka ruang kerja bagi perempuan di sekitar desanya”

Marjuni belum genap dewasa ketika memilih menjadi bagian dari Inong Bale (perempuan kombatan GAM). Kini, usianya 43 tahun.

Dua puluh satu tahun setelah perdamaian Aceh, senjata menjadi bagian dari ingatan. Yuni, begitu ia disapa, menjalani kehidupan yang jauh berbeda. Ia menghabiskan hari-harinya di rumah produksi kerupuk Meutuah Jaya Cap Angsa di Gampong Lam Asan, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar.

Saat ditemui Waspadaaceh.com, Rabu (12/8/2026), Yuni tengah mengawasi produksi kerupuk di rumah produksinya. Sejumlah pekerja sibuk mengisi dan mengemas kerupuk sebelum dibawa pedagang.

Yuni menjalankan usaha tersebut dengan modal sendiri. Sembari mengawasi produksi, ia mengingat kembali masa ketika masih duduk di kelas I SMA dan memutuskan bergabung dengan Inong Balee pada 1999.

Sang abang yang lebih dulu bergabung menjadi salah satu alasan Yuni ikut. Namun, keputusan itu juga datang dari keinginannya sendiri.

“Saya lihat abang. Saya juga mau ikut berjuang. Waktu itu masih muda, semangatnya membara,” kata Yuni.

Setelah bergabung, Yuni mengikuti latihan di Siron, Aceh Besar. Ia belajar fisik, disiplin, militer hingga penggunaan senjata. “Saya ingat waktu latihan itu, kami belajar menembak pakai AK-47,” kenang Yuni.

Yuni mengaku tidak merasa takut saat menjalani latihan tersebut. “Nggak ada. Karena memang niatnya ingin memperjuangkan Aceh,” katanya.

Yuni tinggal di kawasan Blang Krueng, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar Dalam situasi tertentu, ia menjalankan tugas yang diberikan kepada anggota perempuan.

Salah satunya ketika anggota laki-laki tidak bisa turun ke kampung. Yuni dapat diminta membawa surat atau pesan. Tugas itu tidak dilakukan setiap hari. Hanya ketika diperlukan. “Misalnya orang itu kan enggak bisa turun. Misalnya ini ada surat. Orang itu kan enggak bisa karena laki-laki. Disuruh perempuan,” katanya.

Ia juga pernah menjalani latihan yang berkaitan dengan senjata. Ketika terjadi kontak senjata, Yuni bersama orang-orang di sekitarnya memilih bersembunyi.

Setelah menikah pada 2001, Yuni sempat mengikuti suaminya ke Bireuen. Suaminya juga disebut sebagai anggota pasukan. Di sana, kehidupan Yuni perlahan berubah. Ia lebih banyak menjalani peran sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak.

Eks anggota Inong Balee, Marjuni atau Yuni, mengemas kerupuk di rumah produksi Meutuah Jaya Cap Angsa, Gampong Lam Asan, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar, Rabu (12/8/2026). (Foto/Cut Nauval D)

Namun, kehidupan keluarga belum sepenuhnya lepas dari bayang-bayang konflik. Suaminya pernah ditangkap di Bireuen dan dibawa ke Takengon. Bagi Yuni, masa itu menjadi salah satu periode yang paling membuatnya cemas.

“Waktu suami ditangkap, kita sebagai ibu dan istri pasti khawatir. Cemas juga,” ujarnya.

Situasi itu membuat Yuni semakin merasakan bagaimana konflik tidak hanya hadir melalui suara senjata, tetapi juga masuk ke dalam rumah dan kehidupan keluarga. Ketika suaminya tidak ada, ia harus tetap mengurus anak-anak dan menjalani keseharian dengan ketidakpastian.

Pada 2005, Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki. Kesepakatan itu menjadi tonggak berakhirnya konflik bersenjata di Aceh.
Bagi Yuni, salah satu arti paling nyata dari perdamaian adalah kembalinya suami ke rumah.

“Senang. Kita bisa kumpul kembali. Suami bisa pulang,” katanya.

Sejak itu, kehidupannya berangsur memasuki babak baru. Tidak ada lagi situasi yang memaksanya menjalankan tugas dalam konflik. Perannya perlahan bergeser sepenuhnya menjadi ibu dan pengurus keluarga.

Ketika anak-anak masih kecil, Yuni lebih banyak berada di rumah. Suaminya bekerja, sementara ia mengurus rumah tangga dan membesarkan empat anak.

Pasca-perdamaian, Yuni tidak serta-merta menjadi pengusaha. Ia mencoba berbagai cara untuk menopang kehidupan keluarga. Ia pernah membuka usaha laundry, kemudian berjualan atau usaha kelontong. Beberapa usaha itu tidak bertahan seperti yang diharapkan.

Beberapa tahun kemudian, kehidupan Yuni kembali berubah. Ia dan suaminya berpisah. Sejak itu, Yuni menjadi tulang punggung bagi empat anaknya.

Di titik itu, bekerja bukan lagi sekadar pilihan. Ia harus memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

Sekitar dua tahun terakhir, Yuni mulai fokus mengembangkan usaha kerupuk Meutuah Jaya Cap Angsa di Gampong Lam Asan, Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Modal usaha berasal dari uangnya sendiri.

“Karena sudah beberapa usaha yang saya lakukan, nggak ada hasilnya. Jadi saya ketemu orang yang kerja ini. Gabunglah sama dia,” kata Yuni.

Dari rumah produksi itu, Yuni kini menjalani hari-harinya. Sekitar tujuh orang membantu proses pengisian kerupuk, sementara tiga orang lainnya membantu membawa produk untuk dijual.

Para pekerja di rumah produksi tersebut berasal dari lingkungan sekitar. Mayoritas merupakan perempuan. Di antara mereka terdapat pula perempuan yang pernah menjadi bagian dari Inong Balee di sekitar desa tersebut.

Kini, perempuan-perempuan yang pernah menjalani masa hidup dalam situasi konflik itu bekerja dalam rutinitas yang berbeda. Mereka mengisi kerupuk, mengemasnya dan menyiapkan produk untuk dibawa pedagang.

Bagi Yuni, rumah produksi ini bukan hanya tempat mencari penghasilan bagi dirinya. Pekerjaan tersebut juga menjadi ruang bagi perempuan di lingkungan sekitar untuk memperoleh penghasilan dan menjalani kehidupan setelah konflik.

Kerupuk tersebut dipasarkan melalui pedagang yang kemudian menjualnya kembali kepada pengecer maupun pembeli dalam jumlah besar. Dalam sekali pengambilan, seorang pedagang dapat membawa hingga 200 bungkus kerupuk.

Dari usaha itu, Yuni kini menghidupi empat anaknya. Ia menjalankan usaha dengan tabungan sendiri sebagai modal. Setelah perdamaian, ia mengaku tidak pernah mendapat bantuan dalam bentuk modal usaha.

Pada 2017, Yuni sempat menerima bantuan tunai (bantuan sosial) selama sekitar enam bulan. Setelah itu, ia kembali mengandalkan penghasilannya sendiri. Bagi Yuni, hidup setelah konflik bukan soal menunggu keadaan menjadi lebih baik. Ia memilih bekerja dan membangun kembali kehidupannya dengan apa yang dimiliki.

Dulu, saat masih remaja, ia memahami perjuangan dalam situasi konflik. Kini, perjuangannya berbeda. Ia menjadi ibu sekaligus tulang punggung keluarga.

Setiap hari, Yuni mengawasi produksi, mengemas kerupuk dan melayani pedagang. Dari pekerjaan itu, ia memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai anak-anaknya.

Dua puluh satu tahun setelah perdamaian, perjuangan perempuan Aceh tidak semestinya hanya dibaca dari apa yang mereka tinggalkan pada masa konflik. Ada kehidupan yang mereka bangun setelahnya.

Yuni memilih membangun hidup melalui usaha. Ia bekerja, menghidupi keluarga dan mengambil keputusan atas masa depannya sendiri.

Sebab damai bukan hanya tentang tidak adanya konflik. Damai juga tentang kesempatan untuk berdaya, bekerja, berpartisipasi dan memiliki pilihan atas kehidupan sendiri.

Bagi Yuni, perjuangan itu kini berlangsung setiap hari, di antara kerupuk yang dikemas dan kebutuhan empat anak yang harus dipenuhi. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER