“Bahkan setelah Abu Doto tidak lagi menjabat gubernur, ia tetap menjadi tempat bertanya bagi para tokoh dan pemimpin baru.”
Bagi wartawan sekaligus penulis, Mohsa El Ramadan, mengenal Dr. H. Zaini Abdullah atau yang akrab disapa Abu Doto bukan sekadar hubungan antara pewarta dan narasumber.
Hubungan yang bermula setahun sebelum masa jabatan Abu Doto sebagai Gubernur Aceh berakhir pada 2017, akhirnya berkembang menjadi kerja sama mendalam yang melahirkan buku biografi lengkap perjalanan hidup tokoh tersebut.
Awalnya, pertemuan mereka hanya terbatas pada peliputan berita dan wawancara di kediaman mantan gubernur itu. Kesempatan menulis buku baru terbuka berkat rekomendasi Akhiruddin, Kepala Eksekutif AJNN sekaligus mantan penasihat ekonomi Abu Doto.
Saat itu, tokoh perdamain Aceh tersebut ingin seluruh perjalanan hidupnya, mulai dari dokter, anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM), pengasingan di Swedia, hingga memimpin Aceh, tercatat rapi dalam satu karya tulis. Gagasan ini pun ternyata lahir dari saran langsung Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang pernah menegaskan: “Dengan bukulah pengalaman itu dapat disampaikan kepada orang lain, serta menghindari penafsiran yang keliru.”
Sejak tahun 2018, Mohsa bersama tim yang terdiri Mujahid Ar Razi sebagai penulis pendamping dan Maskur Abdullah sebagai penyunting, serta dibantu wartawan KBA.ONE, mulai menelusuri jejak hidup Abu Doto. Penelitian dimulai dari Gampong Teurubue, kampung halamannya di Pidie.
Proses penyusunan hingga siap dicetak memakan waktu dua tahun penuh. Kesulitan melacak teman seangkatan untuk verifikasi keterangan serta peninjauan naskah selama tujuh bulan langsung oleh Abu Doto yang saat itu sedang berada di Swedia menjadi tantangan terberat.
Buku berjudul Abu Doto: Perjuangan Tanpa Akhir, akhirnya diluncurkan tahun 2020, tersebar luas di seluruh toko buku Gramedia dan kini juga dapat dibeli secara online atau dalam jaringan.
Selama proses penulisan dan pertemuan berulang, kesan paling mendalam yang melekat pada diri Ramadan adalah keteguhan Abu Doto terhadap janji dan komitmen. Hal sepele seperti jadwal temu selalu dipastikan kembali sebelumnya, jika ada perubahan, ia selalu memberi kabar lebih dulu. Baginya, menghormati waktu orang lain adalah bentuk penghormatan terhadap diri orang itu sendiri.
Di balik ketenaran politiknya, ia tampil bersahaja, rendah hati, taat beribadah, serta selalu menjaga shalat berjamaah. Saat berbicara, ia memancarkan kehangatan seorang ayah yang bijaksana, membuat siapa saja merasa dihargai.
Menurut Ramadan, karakter paling menonjol yang menjadi landasan seluruh perjalanan hidup Abu Doto adalah integritas yang tak tergoyahkan. Ia memegang teguh kesepakatan damai Helsinki tahun 2005 sebagai titik akhir perselisihan bersenjata sekaligus titik awal perjuangan baru dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun, sikap itu bukan berarti pasrah: jika pemerintah pusat belum memenuhi janji, ia mengajak seluruh warga Aceh untuk terus mengingatkan dan memperjuangkannya lewat jalur hukum, dialog, serta politik secara bermartabat. Baginya, damai bukan berarti menyerah, melainkan cara yang lebih beradab untuk mempertahankan hak-hak daerah.

Dari seluruh lembar kisah yang ditulis, Mohsa menekankan satu hal yang wajib diwariskan ke generasi penerus: Abu Doto, adalah saksi hidup sekaligus pelaku utama tiga babak sejarah besar Aceh.
Ia tumbuh menyaksikan pergolakan DI/TII, ikut serta langsung dalam gerakan perjuangan selama puluhan tahun, lalu memimpin transisi menuju masa damai. Keunikan terbesarnya terletak pada kesetiaan pada satu tujuan meski medan berubah: dari ruang operasi rumah sakit, ke meja diplomasi internasional, hingga kursi pimpinan pemerintahan.
Bahkan setelah Abu Doto tidak lagi menjabat gubernur, ia tetap menjadi tempat bertanya bagi para tokoh dan pemimpin baru.
Kini, setelah Abu Doto berpulang ke Rahmatullah pada usia 86 tahun, perjalanan panjangnya yang membentang dari Beureunuen ke Stockholm, dari meja perundingan Helsinki ke ruang kerja gubernur, akhirnya bermuara kembali di tanah kelahirannya.
Bagi Ramadan, buku yang disusunnya bukan sekadar riwayat hidup seorang tokoh: ia adalah bukti tertulis sejarah yang tak boleh hilang, kisah dokter yang menjadi pejuang, pejuang yang menjadi diplomat, dan diplomat yang akhirnya memimpin tanah kelahirannya menuju kedamaian.
Dalam proses penyusunan buku tersebut, Abu Doto juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Ramadan beserta tim penulis yang telah mendokumentasikan perjalanan hidupnya. Ia mengaku bangga karena biografinya ditulis oleh wartawan senior yang memahami dinamika sejarah Aceh secara mendalam.
Menurutnya, salah satu bagian yang paling sensitif dalam penulisan buku itu adalah pembahasan mengenai masa Daerah Operasi Militer (DOM). Namun, Abu Doto menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan bagian penting dari sejarah Aceh yang tidak boleh dihilangkan atau diabaikan.
Karena itu, ia menghargai keberanian tim penulis yang tetap menghadirkan fakta-fakta sejarah tersebut secara utuh dan proporsional, sehingga buku Abu Doto: Perjuangan Tanpa Akhir tidak hanya menjadi catatan perjalanan hidup seorang tokoh, tetapi juga menjadi dokumentasi sejarah Aceh yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang. (*)



