BerandaInternasionalGrand Strategi: Pakistan dan Turki dalam Incaran Israel Berikutnya? (Bagian II)

Grand Strategi: Pakistan dan Turki dalam Incaran Israel Berikutnya? (Bagian II)

Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan Mesir kini semakin mempererat koordinasi. Keempat negara ini sadar bahwa jika tidak bersatu, mereka akan ditelan satu per satu.

Oleh: Mayjen TNI (Purn) Fulad

Bagi Israel, Erdogan adalah ancaman yang tidak bisa ditoleransi. Namun, Turki merupakan anggota NATO, aliansi militer terkuat di dunia.

Secara teoritis, jika Turki diserang secara langsung oleh negara manapun, seluruh negara anggota NATO, termasuk Amerika Serikat, wajib membela. Israel tentu tidak akan nekat melakukan serangan frontal. Lantas, bagaimana cara mereka melumpuhkan Turki?

Poros Yunani-Siprus: Menjepit Turki di Laut Tengah

Israel telah menjalin aliansi militer yang erat dengan dua negara yang secara historis berseteru dengan Turki, yaitu Yunani dan Siprus. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka telah menandatangani serangkaian perjanjian pertahanan trilateral bernilai miliaran dolar AS. Apa saja substansi perjanjian tersebut?

Pertama, pembangunan Pusat Pelatihan Penerbangan Israel-Yunani. Para pilot Yunani dilatih dengan taktik tempur Israel, diajarkan cara menerbangkan pesawat dengan standar yang sama. Ini bukan sekadar latihan rutin, melainkan proses standarisasi kemampuan militer.

Kedua, penyediaan sistem rudal Spike NLOS untuk Yunani. Rudal ini mampu menyerang target darat maupun laut dari jarak jauh dengan akurasi presisi. Jika terjadi konflik, sistem ini akan menjadi ancaman serius bagi kekuatan militer Turki.

Ketiga, pemasangan radar dan sistem pertahanan udara canggih di Siprus. Karena letaknya yang sangat dekat dengan pantai selatan Turki, radar ini mampu memantau setiap pergerakan kapal perang maupun pesawat militer Turki di Laut Tengah. Tidak ada gerakan yang luput dari pantauan.

Yang membuat situasi ini semakin paradoks adalah kenyataan bahwa Yunani dan Turki sama-sama anggota NATO. Artinya, Israel berhasil memecah belah aliansi tersebut dari dalam, menjadikan satu anggota sebagai penekan bagi anggota lainnya.

Perang dari Dalam: Menggoyahkan Erdogan

Selain tekanan eksternal, Israel juga bermain di panggung politik internal Turki. Meskipun Erdogan adalah pemimpin yang kuat, ia memiliki banyak lawan politik di dalam negeri. Partai oposisi, kelompok sekuler, hingga etnis Kurdi senantiasa mencari celah untuk melemahkan kekuasaannya.

Laporan intelijen menunjukkan bahwa Israel dan sekutunya mulai “berinvestasi” di kalangan oposisi. Pendanaan, pelatihan media, hingga dukungan kampanye diberikan secara diam-diam kepada tokoh-tokoh yang dianggap lebih moderat dan bersahabat.

Tujuannya jelas: memenangkan pemilu atau setidaknya melemahkan pengaruh Erdogan, sehingga ia tidak lagi bisa menjadi suara lantang penentang kebijakan Israel.

Ini adalah perang proksi versi politik. Musuh tidak perlu menembakkan peluru; mereka cukup memenangkan kursi kekuasaan.

Poros Perlawanan yang Lahir dari Kepungan

Namun, ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan. Seperti besi yang ditempa oleh api, tekanan yang dilakukan Israel terhadap Pakistan dan Turki justru memicu lahirnya aliansi perlawanan yang semakin solid.

Pakistan, Turki, Arab Saudi, dan Mesir kini semakin mempererat koordinasi. Keempat negara ini sadar bahwa jika tidak bersatu, mereka akan ditelan satu per satu. Keunggulan masing-masing saling melengkapi dengan sempurna:

– Pakistan membawa kekuatan senjata nuklir dan pengalaman perang gerilya.
– Turki menyumbangkan teknologi militer modern, khususnya dalam bidang drone dan kapal perang.
– Arab Saudi hadir dengan kekuatan finansial dan sumber daya energi.
– Mesir menyumbang kekuatan militer konvensional terbesar di Afrika serta kendali strategis atas Terusan Suez.

Secara kolektif, mereka mewakili lebih dari 500 juta penduduk, kekuatan ekonomi yang signifikan, dan posisi geografis vital dari Asia Selatan hingga Afrika Utara. Mereka bahkan menjadi jembatan komunikasi penting antara Iran dan Amerika Serikat, serta menuntut solusi dua negara bagi Palestina sebagai syarat normalisasi.

Ini adalah kabar yang jarang tersorot media arus utama. Upaya Israel mengisolasi Pakistan dan Turki justru gagal dan berbalik mempercepat terbentuknya poros kekuatan Islam yang paling tangguh dalam beberapa dekade terakhir.

Mengapa Indonesia Harus Peduli dan Bertindak

Mungkin timbul pertanyaan: “Apa urusan Indonesia dengan semua ini? Kita jauh dari Timur Tengah.”

Jawabannya tegas: Kita harus peduli, karena jika Pakistan dan Turki jatuh, tidak akan ada lagi kekuatan yang mampu menahan hegemoni Israel. Dan ketika dominasi itu terbentuk, Indonesia berpotensi menjadi target berikutnya.

Saat ini, hanya Iran, Pakistan, dan Turki yang secara kredibel mampu melawan tekanan tersebut. Setelah Iran, fokus Israel akan beralih ke dua negara terakhir. Jika mereka berhasil dilumpuhkan, Israel akan bebas mendominasi dunia Muslim tanpa perlawanan berarti.

Negara-negara lain seperti Arab Saudi, Mesir, atau Yordania cenderung memilih jalur normalisasi demi kepentingan ekonomi dan keamanan. Mereka bukan lagi benteng perlawanan.

Akibatnya, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar akan semakin terisolasi. Tekanan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel dan mengesampingkan isu Palestina akan semakin besar. Apakah kita menginginkan itu? Tentu tidak.

Seruan untuk Para Pengambil Keputusan

Sebagai mantan Penasihat Militer Indonesia di PBB, saya sampaikan peringatan dini ini:

Pertama, jangan lengah. Perang tidak selalu datang dentuman bom. Ia bisa hadir dalam bentuk kontrak dagang, perjanjian kerja sama, atau transfer teknologi yang dibungkus istilah “stabilisasi”. Kita wajib waspada dan teliti membaca setiap gerakan.

Kedua, perkuat hubungan dengan Pakistan dan Turki. Mereka adalah saudara seperjuangan. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian menghadapi kepungan. Kirimkan sinyal dukungan yang jelas, tingkatkan kerja sama intelijen, dan selaraskan posisi di berbagai forum internasional.

Ketiga, kaji ulang kerja sama pertahanan dengan India. India kini menjadi ujung tombak strategi Israel di Asia. Setiap persenjataan canggih yang mereka miliki pada akhirnya dapat mengancam stabilitas kawasan, termasuk kepentingan Indonesia. Sikap kita harus jelas dan berimbang.

Keempat, angkat isu “invasi proksi” di forum hukum internasional. Saat ini belum ada aturan spesifik yang melarang praktik ini, padahal dampaknya sangat destruktif. Indonesia, dengan pengalaman panjangnya, harus memelopori upaya mendefinisikan invasi proksi sebagai bentuk agresi yang ilegal.

Penutup

  • Tulisan ini bukan seruan perang, bukan pula manifesto kebencian. Ini adalah peringatan dini yang disampaikan secara diplomatis, berdasarkan analisis fakta dan pengalaman bertugas.Dunia sedang berubah. Iran kini menjadi sasaran utama. Pertanyaannya bukan lagi apakah akan terjadi pergeseran strategi, melainkan ke arah mana pergeseran itu akan terjadi.Pakistan dan Turki adalah kandidat terkuat untuk menjadi fokus perhatian berikutnya, bukan semata karena dianggap “musuh”, melainkan karena mereka adalah sedikit negara Muslim yang masih memiliki kemampuan dan keberanian untuk menentang hegemoni.

    Indonesia tidak bisa tinggal diam. Jalan yang harus kita tempuh adalah kewaspadaan tanpa permusuhan, kesiapan tanpa provokasi, dan diplomasi aktif tanpa konfrontasi.

    Semoga Allah SWT senantiasa melindungi bangsa ini dan seluruh umat manusia dari bencana perang. Semoga para pemimpin negeri ini diberikan kebijaksanaan untuk membaca tanda zaman dan mengambil langkah terbaik demi masa depan. (*)

  • Tulisan Bagian I: Grand Strategi: Pakistan dan Turki dalam Incaran Israel Berikutnya? (Bagian I)
  • Penulis adalah Penasihat Militer Republik Indonesia untuk PBB (2017-2019).

Cisaranten, Bandung, 23 April 2026

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER