Awal tahun 1980-an, ia hidup dalam pengasingan di Swedia, namun tak pernah berhenti berjuang untuk Aceh.
Di bawah langit Banda Aceh terlihat bagai meredup, Sabtu sore, 13 Juni 2026, suasana di dalam dan halaman luas Masjid Raya Baiturrahman tampak ramai, namun diselimuti rasa haru.
Ribuan orang berdesakan, kerabat, tokoh ulama, pejabat negara, hingga warga biasa, semua berkumpul dengan satu tujuan: mendoakan kepergian Dr. H. Zaini Abdullah, yang seumur hidup lebih akrab dipanggil Abu Doto. Tepat pukul 16.15 WIB setelah shalat Ashar, doa dipanjatkan untuk lelaki yang namanya tercatat rapi di lembar sejarah Aceh.
Abu Doto berpulang pada usia 86 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin, sebelum akhirnya jenazah dibawa menuju kampung halamannya di Gampong Trubueh, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie, untuk beristirahat selamanya di “tanah perjuangannya”.
Lahir di Beureunuen, Pidie, pada 24 April 1940, Abu Doto tumbuh di tengah semangat perlawanan yang diwariskan ayahnya, Teungku Abdullah Hanafiah, seorang ulama yang pernah berjuang di masa gerakan DI/TII. Sejak kecil, ia telah merasakan betapa eratnya ikatan antara rakyat Aceh dan tanah tempat mereka berpijak.
Ketika menyelesaikan pendidikannya hingga meraih gelar dokter di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, ia sempat memimpin fasilitas kesehatan di Kuala Simpang, seolah takdir telah menyiapkannya untuk menyembuhkan tubuh yang sakit. Namun, hatinya tergerak oleh panggilan yang lebih luas: menyembuhkan luka yang menganga di seluruh tubuh tanah Aceh.
Ketika Gerakan Aceh Merdeka (GAM) diproklamasikan tahun 1976, ia menanggalkan kenyamanan jas dokter dan masuk ke hutan, bergerilya di lereng Gunung Halimon bersama pendiri gerakan itu, Hasan di Tiro. Di sana ia menempa tekad, hingga perlahan menjadi orang terdekat yang dipercaya memegang peran penting.
Awal tahun 1980-an, ia hidup dalam pengasingan di Swedia, namun tak pernah berhenti berjuang untuk Aceh. Kali ini bukan dengan senjata, melainkan dengan kata‑kata. Di benua Eropa, ia dikenal sebagai “Menteri Luar Negeri” GAM, juru bicara handal yang membuka mata dunia tentang nasib rakyat Aceh selama puluhan tahun.
Puncak kehandalannya terlihat jelas di meja perundingan. Ia menjadi anggota utama delegasi yang menandatangani Perjanjian Helsinki pada 15 Agustus 2005, titik di mana peluru berhenti beterbangan dan perdamaian mulai tumbuh.
Tidak suka berpidato dengan suara menggelegar, Abu Doto memilih berbicara dengan ketegasan yang halus, kesabaran yang tak mudah goyah. Banyak yang meyakini: tanpa keteguhan hati Abu Doto, jalan menuju damai pasti lebih berliku dan menyisakan lebih banyak air mata.
Takdir kemudian membawanya pulang. Mantan “pelarian” itu kembali berdiri di tanah kelahirannya, Aceh, dan memenangkan Pemilihan Kepala Daerah tahun 2012 dan dilantik menjadi Gubernur Aceh bersama wakilnya Muzakir Manaf. Kini Muzakir Manaf alias Mualem menjabat sebagai Gubernur Aceh.
Bagi banyak orang, kemenangan itu bukan sekadar kemenangan politik, melainkan bukti nyata perubahan besar: dari jalur hutan menuju ruang pemerintahan, dari senjata menuju peraturan.
Selama menjabat, ia terus menanam apa yang diperjuangkannya: menjaga kesepakatan damai, memperkuat syariat Islam, membangun jalan dan jembatan, serta melayani rakyat. Karyanya yang paling terlihat jelas ada di Masjid Raya Baiturrahman yang kini tampak megah, ada payung raksasa yang kini menjadi ikon Banda Aceh, dan langkah awal mengubah status Bank Aceh menjadi lembaga berlandaskan syariat, Bank Aceh Syariah.
Dalam buku Abu Doto: Perjuangan Tanpa Akhir, ditulis Mohsa El Ramadan dan Mujahid Arrazi, serta editor Maskur Abdullah, sosoknya digambarkan hidup dalam tiga zaman sekaligus: masa pergolakan DI/TII yang disaksikan sejak kecil, masa perjuangan bersenjata dan diplomasi, hingga masa damai saat ia memimpin pemerintahan.
Satu benang merah tak pernah putus: kesetiaan pada Aceh. Mulai dari ruang operasi rumah sakit, meja perundingan di luar negeri, hingga ruang kerja gubernur, ia tak pernah berhenti berjuang.
Bahkan saat tak lagi menduduki jabatan, rumahnya tetap menjadi tempat bertanya, tempat mencari nasihat bagi siapa saja yang mengurus nasib Aceh.
Dan kini, saat ia berbaring tenang di kampung halaman, ribuan orang yang hadir di masjid maupun yang mendoakan dari jauh sadar benar: Abu Doto telah pergi secara fisik, namun jejak perjuangannya tak akan pernah berakhir. Ia tetap hidup dalam setiap jalan yang dibangun, setiap ketenangan yang dirasakan, serta setiap halaman sejarah yang menceritakan perdamaian di tanah rencong.
Sang pejuang telah menutup mata, namun perjuangannya terus berjalan, abadi selamanya. (*)



