Sabtu, April 19, 2025
spot_img
BerandaAcehUnjuk Rasa Ricuh di Kampus Unaya, 1 Anggota Satgas Tewas

Unjuk Rasa Ricuh di Kampus Unaya, 1 Anggota Satgas Tewas

Aceh Besar (Waspada Aceh) – Seorang anggota satuan tugas (Satgas) Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh Besar, Wahidin, meninggal dunia setelah terinjak massa saat mengamankan aksi unjuk rasa di depan gerbang kampus tersebut, di Gampong Lampoh Keude, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, Kamis (17/4/2025).

Rektor Universitas Abulyatama, Dr. Nurlis Effendi, mengecam keras aksi yang dinilainya telah berubah menjadi anarkis dan mengorbankan nyawa.

“Saya mengecam unjuk rasa yang anarkis. Satgas kami meninggal satu orang, dan beberapa lainnya mengalami luka-luka. Di antaranya bahkan harus dirawat di Rumah Sakit Pertamedika,” ujar Nurlis saat dikonfirmasi, Kamis sore.

Korban bernama Wahidin. Ia meninggalkan seorang istri dan lima anak. Nurlis menyatakan pihak kampus bertanggung jawab atas insiden tersebut.

“Tapi saya bertanggung jawab. Korban meninggalkan lima orang anak dan seorang istri,” ucap Nurlis.

Menurut Nurlis, aksi massa dilakukan oleh ribuan orang yang terdiri dari mahasiswa, dosen, serta pihak eksternal yang tidak berasal dari lingkungan kampus. Ia menyebut aksi itu tampak terorganisir dan berujung pada kekerasan.

“Kelihatan memang direncanakan untuk anarkis. Mereka menyerang kampus, melempari batu, mendobrak gerbang, padahal kampus masih kosong dan hanya ada tim satgas yang dibentuk oleh pemilik kampus, Rusli Bintang,” lanjutnya.

Peristiwa tragis itu terjadi saat Wahidin tengah menjaga gerbang utama kampus. Massa yang mendesak masuk menyebabkan Wahidin terjatuh dan terinjak. Ia sempat mengamankan diri ke dalam masjid di dekat gerbang, namun meninggal dunia di dalam masjid tersebut.

Nurlis mengatakan, pihaknya tidak pernah melarang mahasiswa maupun sivitas akademika untuk menyuarakan pendapat, namun menolak keras aksi kekerasan.

“Saya tidak melarang unjuk rasa, tapi jangan membunuh dan menganiaya,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa gelombang protes itu dipicu oleh ketidakjelasan kepemimpinan kampus. Bahkan pihak rektorat telah menyampaikan keluhan resmi kepada Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) terkait campur tangan dari pimpinan lama kampus yang dinilai tidak sah.

“Kami juga protes ke LLDIKTI karena kondisi kampus kami dibiarkan menggantung. Ada pihak yang menurut kami tidak berhak mengontrol kampus, tapi tidak ada kepastian soal penyelesaiannya,” ujar Nurlis. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER