Jumat, Juni 21, 2024
Google search engine
BerandaSetelah Erupsi Kini Corona Jadi Momok, Kota Wisata Berastagi Bagai "Kota Mati"

Setelah Erupsi Kini Corona Jadi Momok, Kota Wisata Berastagi Bagai “Kota Mati”

Medan–Mewabahnya virus Corona atau COVID-19 di Provinsi Sumatera Utara, sangat  berdampak ke sektor pariwisata, bahkan menjadi “momok” yang menakutkan, terutama di daerah tujuan wisata seperti kota Berastagi.

Kota wisata Berastagi di Kabupaten Karo, kini bagaikan “kota mati,” hampir tanpa pengunjung. Kondisi ini mirip ketika kota dingin ini ditimpa musibah erupsi Gunung Sinabung, yang sempat beberapa kali terjadi. Kala itu, wisatawan pun sempat enggan datang untuk berlibur.

Padahal kota wisata ini sangat terkenal dan selalu menjadi pilihan keluarga di Sumut, sebagai tujuan untuk berlibur. Tapi situasi dan kondisinya berbeda dalam beberapa hari ini, sebagaimana pengamatan Waspadaaceh.com, pada Selasa (24/3/2020).

“Saat ini kota wisata Berastagi, dari siang sampai malam ini, kelihatanya sangat sepi. Menyedihkan.., sepi dan sunyi. Beberapa kedai (warung) di pasar kaget tidak buka. Mereka sangat proaktif mengikuti imbauan pemerintah,” kata Deddy Nelson, GM Sibayak Hotel Internasional Berastagi, Selasa malam.

Kini Kota Berastagi sepi dan seperti kota mati. Wisatawan sama sekali hampir tidak ada yang berkunjung ke sana. Ditambah lagi dengan upaya antisipasi dan membatasi gerakan sosial dengan tetap di dalam rumah selama beberapa waktu kedepan, akibat kekhawatirannya terhadap wabah Corona.

Deddy mengatakan, kekhawatiran muncul di masyarakat, dan mereka bertanya-tanya, sampai kapan wabah Corona ini akan berlalu. Akibat virus ini, prekonomian di Kota Berastagi menjadi tak menentu.

“Ekonomi sangat terganggu, penghasilan nyaris gak ada. Seorang warga di Berastagi sore tadi, Bapak Ramadhan di Sibayak Cafe Berastagi, mengatakan pada saya. Beberapa hotel hampir tidak ada bookingan sama sekali,” lanjut Deddy.

Deddy berharap, bagaimana pemerintah besikap lebih cepat dalam mengatasi penyebaran virus Corona, jangan sampai membuat masyarakat pesimis dengan keadaan.

Kata Deddy, saat ini hanya sekitar 10% bookingan kamar. Untuk rumah makan juga hanya beberapa yang masih buka.

“Rumah makan masih buka. Buka hanya beberapa untuk mengantisipasi transportasi yang akan ke Aceh Selatan dan Aceh Tenggara, yang biasanya selalu singgah di sini. Biasanya penumpang turun dan makan malam di sini,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan Kurnaen, seorang pengusaha warung (kuliner) Sakinah, di kawasan puncak Penatapan, tidak jauh dari Kota Berastagi. Menurutnya, omset usahanya turun hingga mencapai 70% dalam beberapa minggu terakhir, sejak mewabahnya virus Corona.

Sementara itu Ketua PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia) Kabupaten Karo, Dickson Pelawi, sependapat dengan Deddy dan Kurnaen. Kata Dickson, akibat wabah Corona itu, ekonomi lesu dan menjadi kacau.

“Kita terpaksa menghibur diri kita sendiri,” katanya.

Tapi Dickson Pelawi hari ini mengaku sedikit lega. Presiden RI, Joko Widodo, mengatakan, pemerintah akan memberikan keringanan atau relaksasi kepada para pelaku UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), termasuk sektor pariwisata, dalam hal membayar cicilan kreditnya di bank dan lembaga keuangan non bank.

“Bila benar apa yang disampaikan pak Jokowi, UMKM mendapat keringanan, tidak membayar cicilan selama 1 tahun ke depan, itu sudah sangat membantu pengusaha. Sebab virus Corona ini benar-benar telah membuat ekonomi pelaku usaha wisata menjadi terpuruk,” kata Dickson.

Namun demikian, ada kekhawatiran Dickson, kalau niat baik Presiden Jokowi itu mengalami hambatan di lapangan. “Semoga instruksi pak Jokowi itu dilaksanakan bawahannya sehingga bisa diimplementasikan,” lanjut Dickson. (sulaiman achmad)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER