BerandaSumatera PulihSatgas PRR Tinjau Rehab Sawah di Bireuen, Harap Desember Bisa Tanam Kembali

Satgas PRR Tinjau Rehab Sawah di Bireuen, Harap Desember Bisa Tanam Kembali

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Tim Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Satgas PRR) Aceh dan Satgasnas, meninjau langsung lokasi rehabilitasi lahan sawah di Desa Buket Panyang dan Desa Pante Baro, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, pada kunjungan ke Bireuen, pada 21–22 Oktober 2026.

Sebagai bagian dari pemantauan menyeluruh pelaksanaan Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Renduk PRR) Pascabencana Sumatera 2026–2028, Tim Satgas telah menyampaikan laporan hasil peninjauan lapangan tersebut kepada Ketua Satgas PRR Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, pada Minggu (25/10/2026).

Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, dalam arahannya menegaskan bahwa kegiatan pemulihan tidak boleh tertunda. “Setiap hektare lahan yang tertunda adalah masa depan keluarga petani yang tertunda pula,” ujarnya. Tito meminta agar kendala irigasi segera dikoordinasikan dengan instansi teknis terkait, sehingga seluruh lahan sawah di Bireuen dapat kembali berproduksi secara optimal.

Fokus utama kunjungan adalah pemulihan lahan pertanian pangan yang terdampak banjir bandang akhir November 2025. Di Desa Buket Panyang, tim memantau penanganan lahan seluas 26 hektare. Sementara di Desa Pante Baro mencakup 6,9 hektare. Pekerjaan meliputi pengerukan dan pemerataan sedimentasi yang menimbun lahan, pembersihan saluran irigasi tersier, serta penggalian saluran irigasi yang tertimbun lumpur.

Kegiatan yang didukung anggaran Kementerian Pertanian ini, ditargetkan rampung pada awal Desember 2026. Sehingga lahan dapat kembali ditanami pada pertengahan Desember 2026, dalam laporan Tim Satgas PRR tersebut.

Ketua Tim Satgas PRR Wilayah Aceh, Imran, mengapresiasi kerja keras para petani, penyuluh pertanian, dan pemerintah daerah yang telah bahu membahu memulihkan kondisi lahan pertanian. Dalam pertemuannya dengan Wakil Bupati Bireuen, Razuardi, di Kantor Bupati Bireuen, Kamis (22/10/2026), Imran mendorong percepatan perbaikan agar petani dapat kembali menanam sesuai jadwal musim tanam dan produktivitas lahan dapat segera pulih.

Laporan menyebutkan, secara keseluruhan Kabupaten Bireuen mencatat sekitar 4.731 hektare sawah rusak akibat bencana, dengan rincian: 2.736 hektare rusak ringan, 677 hektare rusak sedang, dan 1.323 hektare rusak berat. Dari lahan rusak berat tersebut, sekitar 1.019 hektare telah diusulkan untuk ditangani sebagai lahan rusak sedang dan kini memasuki tahap kontrak dengan TNI untuk pengerjaan.

Harapan Baru dan Kendala yang Masih Ada

Di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng secara keseluruhan, penanganan lahan telah mencakup 238 hektare. Lahan yang telah dipulihkan menunjukkan hasil yang menggembirakan, dengan perkiraan produktivitas panen mencapai 6–7 ton per hektare dan indeks pertanaman 1,5 hingga 2 kali setahun. Sekitar 1.000 hektare lahan bahkan telah berhasil ditanami jagung oleh petani, dengan perkiraan panen pada akhir November 2026.

Namun, pemulihan masih menghadapi kendala utama berupa kerusakan jaringan irigasi primer, terutama Bendungan Pante Lhong dan jaringan irigasi yang bersumber dari Sungai Krueng Peusangan. Masyarakat menyampaikan harapan agar penanganan infrastruktur pengairan segera dipercepat, mengingat sekitar 99% penduduk di kawasan ini bergantung pada sektor pertanian.

Peninjauan lapangan diikuti rapat koordinasi di Kantor Bupati Bireuen pada Kamis, 22 Oktober 2026, yang dihadiri Tim Satgas PRRP, Perwakilan Itjen Kemendagri, Wakil Bupati Bireuen, Sekdakab Bireuen, serta para Kepala SKPK lingkup Pemkab Bireuen. Dalam laporannya, tim menegaskan bahwa pemulihan sektor pertanian merupakan prioritas utama untuk mengembalikan perekonomian masyarakat yang paling terdampak bencana.

Masyarakat di Desa Buket Panyang dan Pante Baro menyampaikan apresiasinya atas perhatian dan kehadiran langsung tim Satgas PRR. Bagi mereka, sawah yang kini perlahan bersih dari sisa banjir menjadi harapan harapan untuk bisa kembali menanam, memanen, dan menghidupi keluarganya.

Pedoman Renduk PRRP Sumatera

Pemulihan lahan sawah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, juga menjadi agenda yang penting dalam proses pemulihan dan percepatan rehabilitasi oleh Satgas PRR Pascabencana Sumatera. Rehabilitasi dilakukan untuk mengembalikan fungsi lahan pertanian, menjaga produksi padi, dan memulihkan sumber penghidupan petani.

Renduk PRRP Sumatera mengarahkan pemulihan infrastruktur agar tidak hanya mengembalikan fungsi fasilitas yang rusak, tetapi juga meningkatkan ketahanan terhadap bencana berikutnya. Untuk penanganan jalan dan jembatan: memulihkan konektivitas wilayah, termasuk akses antarkabupaten/kota dan jalur strategis.

Pada penanganan sungai dan pengendalian banjir: merehabilitasi tanggul dan tebing sungai di segmen kritis, menangani perubahan alur sungai, serta mengendalikan sedimentasi.

Penanganan sektor Irigasi: merehabilitasi bendung dan jaringan irigasi primer maupun sekunder agar musim tanam tetap berjalan.  Serta koordinasi pelaksanaan: menyelaraskan rencana aksi kementerian/lembaga dengan kebutuhan pemerintah daerah serta menggunakan peta zona rawan bencana sebagai acuan pembangunan kembali. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER