Beranda Aceh Rizal Ramli Heran, Dana Otsus Besar Tapi Aceh Termiskin

Rizal Ramli Heran, Dana Otsus Besar Tapi Aceh Termiskin

BERBAGI
Rizal Ramli dan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Aceh usai memberikan kuliah umum, Senin (16/4/2018). (Foto/Dani Randi)
Rizal Ramli dan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Aceh usai memberikan kuliah umum, Senin (16/4/2018). (Foto/Dani Randi)

Banda Aceh (WaspadaAceh): Ekonom kritis, Dr.Rizal Ramli, merasa kehilangan “akal” setelah melihat kenyataan bahwa Aceh menjadi daerah termiskin di Sumatera dan termiskin kelima di Indonesia, padahal puluhan triliun dana otonomi khusus (Otsus) masuk ke daerah ini.

“Saya kaget dan sedih, kok hasilnya nyaris tidak ada. Seharusnya Aceh sudah bisa bersaing dengan provinsi lain,” kata mantan Menko Maritim, Rizal Ramli, kepada wartawan usai mengisi kuliah umum di Kampus Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha), Senin (16/4/2018).

Mantan Menteri Koordinator Perekonomian di masa Presiden Abdurrahman Wahid ini merasa bingung dengan kondisi Aceh sekarang. Aceh mempunyai dana Otsus paling besar sejak 2007 lalu itu, tetapi kini menjadi provinsi paling miskin di Sumatera, angka pengangguran tinggi, dan bahkan paling miskin ke 5 di Indonesia.

Padahal, kata dia, Aceh merupakan daerah yang kaya baik dari segi pendapatan, sumber daya alam, rakyat yang berani melakukan inovasi dan juga pintar. Namun dirinya merasa sedih karena ekonomi Aceh pada tahun lalu hanya tumbuh 4,2 persen, di bawah rata-rata nasional 5 persen.

Rizal meminta kepada masyarakat Aceh untuk mendesak pemerintah agar mengumumkan jumlah anggaran serta penggunaan dana Otsus melalui media massa. Diumumkan juga penanggung-jawabnya, target atau output hingga manfaat dari proyek yang akan dilaksanakan.

“Untuk apa saja, proyek apa saja, yang tanggungjawab siapa, koordinatornya siapa, manfaatnya apa, itu harus dijelaskan oleh pengguna dana Otsus ke masyarakat,” tegas mantan aktivis mahasiswa ini.

Ia melihat, proses penggunaan dana Otsus tersebut selama ini tidak dijalankan secara transparan, bahkan belum tepat sasaran. Sehingga, dari puluhan triliun dana yang digelontorkan ke Aceh, nyatanya masih belum mengangkat indeks ekonomi Aceh. (Dani Randi)

BERBAGI