Sabtu, Juli 20, 2024
Google search engine
BerandaOpiniRenungan untuk Rempang: Sultan yang Menyumbang Rakyat yang "Diinjak"

Renungan untuk Rempang: Sultan yang Menyumbang Rakyat yang “Diinjak”

“Tak ada pengorbanan raja-raja di Nusantara sebesar sumbangan yang diberikan Sultan Siak”

— Mantan Bupati Siak, H.Syamsuar —

Catatan H. Dheni Kurnia

ADALAH RAJA NEGERI MELAYU Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin, atau lebih dikenal sebagai Sultan Syarif Kasim II, tercatat dalam sejarah negara ini, sebagai penyumbang terbesar bagi RI di awal kemerdekaan Indonesia.

Sultan Siak Sri Indrapura (sekarang Kabupaten Siak Sri Indrapura) yang mangkat April 1968, dalam usia 60 tahun, adalah Sultan ke-12. Ia dinobatkan sebagai Sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia, tak lama setelah proklamasi.

Dalam catatan Pemerintah Kabupaten Siak yang diajarkan sejak Sekolah Dasar (SD), sebagai muatan lokal, sumbangan itu tidak hanya keris, mahkota kerajaan yang terbuat dari emas dan bertabur intan berlian, Sultan Siak juga menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden (sekarang sekitar Rp1,074 triliun) untuk pemerintah Republik Indonesia.

Selain itu, bersama Sultan Serdang, dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatra (termasuk Kesultanan Melayu Indragiri) untuk bergabung dengan NKRI. Namanya kini diabadikan untuk Bandar Udara Internasional Sultan Syarif Kasim II dan Universitas Islam Negeri (UIN) di Pekanbaru.

Tak sampai di situ, Sultan juga menyerahkan wilayah kerajaannya, sepanjang Sumatera Timur, meliputi Melayu Deli, Serdang, Bedagai, Riau dan Kepulauan Riau (Kepri) saat ini. Bahkan Istana Hasiriyah Hasemmiyah, peninggalan nenek moyangnya, diberikan untuk Pemerintah RI. Setelah itu, dia menjadi warga negara biasa.

“Tak ada pengorbanan raja-raja di Nusantara sebesar sumbangan yang diberikan Sultan Siak. Baik di Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan lainnya,” kata mantan Bupati Siak, H. Syamsuar, beberapa waktu lalu.

Syarif Kasim II juga menyerahkan tanah dan wilayah kekuasannya. Kekayaannya dari zaman Belanda berupa ekplorasi minyak dan gas (Migas), dengan kualitas terbaik, dikelola oleh negara dari ladang Minas, Siak dan Zamrud. Sumbangan dari perut bumi Riau berupa Migas itulah sejak Indonesia merdeka hingga sekarang, ikut menghidupi negara bernama Indonesia ini.

Jika dibandingkan dengan kesultanan lainnya di tanah air, sumbangan Sultan Siak itu memang dahsyat. Raja Jawa Hamengku Buwono IX dari Yogyakarta misalnya, dalam sejarah menyedekahkan sebanyak 6,5 juta Gulden Belanda bagi modal perjuangan kemerdekaan.

Tapi Sultan Yogya tidak menyerahkan tanah dan wilayah kekuasaannya. Bahkan beliau sempat pula menduduki jabatan sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia. Beda dengan Sultan Syarif Kasim II yang tak tinggal di istana lagi, setelah penyerahan kedaulatan. Dia mukim di kampungnya, seperti rakyat biasa lainnya.

Menurut Syamsuar, yang kini sudah menjadi Gubernur Riau, Sultan Syarif Kasim II juga seorang pejuang bagi warga Riau. Dia berjuang hingga ke Aceh. Sultan tergabung dalam Resimen Rencong Aceh, dengan pangkat terakhir kolonel.

“Sultan juga dengan kesadarannya, begitu Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, menaikkan bendera merah putih yang dijahit permaisuri, istrinya Sultanah Latifah, di halaman Istana Siak,” kata Syamsuar.

Ditambahkan, saat berjuang ke Aceh, Sultan Syarif Kasim II ikut menyumbangkan hartanya untuk membeli sebuah pesawat yang diberi nama “Seulawah”. Sultan yang lahir tahun 1908 ini, oleh Pemerintah RI, kemudian dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Sebenarnya, sumbangan terbesar Sultan Melayu ini, bukanlah uang 13 juta gulden, mahkota atau keris itu. Tapi adalah tanah yang mengandung minyak. Dari area Minas dihasilkan minyak berkualitas tinggi, Sumatran Light Sweet Crude Oil. Penemu ladang minyak Minas adalah Richard H Hopper. Dia menggaet PT Caltex Pacivic Indonesia (CPI) sebagai kontraktor.

Pemerintah Indonesia yang mengelola aset-aset milik Riau di industri hulu itu, mengoperasikan semua blok migas, berdasarkan kontrak bagi hasil atau Production Sharing Contract (PSC) dengan PT California Texas (Caltex).

Dalam catatan Richard H Hopper, Mei 1973, Caltex mencatatkan produksi puncak 1 juta barel per hari. Sejak pertama kali berproduksi pada awal 1950-an, lapangan-lapangan migas di Riau yang dikelola PT CPI telah memberikan kontribusi terhadap produksi nasional lebih dari 12 miliar barel secara kumulatif, di antaranya bersumber dari lapangan minyak raksasa Minas.

Hopper menulis, industri “emas hitam” telah mengubah perekonomian Indonesia dan Riau seperti sekarang. Dan, produksi itu masih berjalan hingga kini. Tapi dia lupa menyebut, bahwa lahan dimana tempat minyak-minyak itu bersembunyi, adalah tanah-tanah milik Sultan Syarif Kasim II atau peninggalan Kesultanan Melayu yang dihibahkan kepada Pemerintah RI dengan sukarela.

Kalau dihitung dengan kasat mata, mungkin sumbangan tanah dan migas yang diberikan orang Melayu ke negeri ini, jumlahnya sejak tahun 1950-an sudah jutaan triliun rupiah. Angka yang sangat fantastis dan luar biasa.

Orang Melayu tahu itu. Karena mereka selalu mencatatnya. Belum lagi sumbangan Kesultanan Melayu Indragiri yang menyerahkan tanah mereka untuk produksi minyak PT Stanvac Indonesia (PTSI) sejak 1955-an.

Bukan Balas Jasa

Kini, tanah Melayu sedang bergolak di Rempang, Galang dan Bulang, Kepri. Mereka diminta angkat kaki dari kampung mereka dengan alasan investasi. Rakyat tentu saja menolak. Karena sudah ratusan tahun, nenek moyang mereka tinggal dan berjuang menegakkan bendera Melayu dari penjajahan Portugis, Inggris dan Belanda di sana.

Rakyat berontak. Mereka bersikukuh tak mau pindah. Akibatnya, mereka diintimidasi, diserang dengan gas airmata dan diinjak-injak ketika melakukan perlawanan. Bahkan yang lebih dahsyat, mereka dianggap anti NKRI, menghalangi pembangunan, melanggar undang-undang dan sebagainya.

“Kelompok pengganas” yang tega pada rakyat Rempang itu, seketika menjadi lupa akan catatan sejarah orang Melayu. Karena, ketika Indonesia merdeka tahun 1945, sultan-sultan mereka yang masih berdaulat, dengan sadar menyerahkan kerajaannya untuk bergabung, menjadi NKRI, menjadi Indonesia. Jasa baik Sultan Melayu itu, mungkin belum terbalas hingga kini. Tapi lihatlah, sebahagian anak cucunya saat ini dirundung derita.

Budayawan Riau, Alhaj Aris Abeba, kepada wartawan mempertanyakan tindakan para investor di Rempang itu. “Kurang cukupkah sumbangan sultan-sultan Melayu ke negara ini. Para Sultan yang merelakan hartanya, tanahnya, istananya bahkan jiwanya. Begitu teganya mereka pada puak Melayu,” tanya Aris dalam satu diskusi mengenai Rempang.

Aris menyebut; jika adab sudah hilang, semua bisa sewenang-wenang. Jika nafsu didahulukan, adab jadi mainan. “Mereka tidak beradab dan beradat. Kekayaan Melayu dinikmati, tapi tak ada rasa terima kasih. Kekayaan alam diluru, tapi tak ada rasa malu,” tegasnya.

Begitulah! Bagi orang Melayu, budi adalah rasa dan jasa, yang tak bisa dibayar dengan apapun. Budi baik yang ditanam akan diingat sampai mati. Bak kata pantun Melayu; Pisang emas bawa berlayar/masak sebiji di dalam peti. Utang emas bisa dibayar/utang budi dibawa mati. Takkan lari gunung dikejar/makin hari bertambah tinggi. Utang emas bisa dibayar/utang rasa bernama budi. Salam! (*)

  • Dheni Kurnia; Mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau 2008-2017.
  • Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau 2020-2025.
  • Penguji UKW PWI
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER