BerandaSumatera PulihProyek Wih Delung Semayun Bener Meriah: Investasi Rp4,84 Miliar Pulihkan Jalur Antarwilayah

Proyek Wih Delung Semayun Bener Meriah: Investasi Rp4,84 Miliar Pulihkan Jalur Antarwilayah

Bener Meriah (Waspada Aceh) – Sebuah langkah penting bagi pemulihan konektivitas masyarakat di dataran tinggi Gayo, tengah berlangsung di Kampung Reje Guru, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Pembangunan box culvert (struktur beton bertulang berbentuk kotak) dan retaining wall (dinding penahan tanah) Wih Delung Semayun, kini memasuki tahap awal pengerjaan dengan progres fisik 10 persen.

Proyek yang menelan anggaran Rp4,8 miliar (Rp4.840.995.000) ini dikerjakan oleh CV Cipta Indah dengan masa pelaksanaan sekitar 100 hari dan ditargetkan rampung pada 31 Desember 2026.

Tepatnya di sekitar Jalan Buntul Nangka yang menghubungkan Kecamatan Bukit dengan Kecamatan Bandar, merupakan jalur vital sekaligus berfungsi sebagai rute alternatif dari Kenawat menuju Delung dan sejumlah kampung di wilayah sekitar.

Sejak diterjang banjir bandang akhir tahun 2025, akses ini terputus total. Memaksa warga yang menuju Kampung Delung dan Ujung Gele harus menempuh jalur memutar melalui Simpang Tiga Pondok Baru. Sehingga menambah waktu tempuh sekaligus biaya perjalanan warga sehari-hari.

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bener Meriah, Majak, menjelaskan kerusakan parah terjadi setelah bongkahan kayu menyumbat di mulut gorong-gorong, sehingga aliran air meluap dan menggerus tebing jalan di sisi kanan hingga akses terputus.

Untuk mengembalikan fungsi jalan dengan ketahanan yang lebih baik, dinding penahan tanah dibangun dengan ketinggian bervariasi antara 6,5 hingga 8 meter. Box culvert yang sudah ada tetap dimanfaatkan namun telah melalui peninjauan kapasitas aliran air agar lebih memadai.

Standar mutu konstruksi dijaga ketat, besi tulangan telah diuji tarik di laboratorium Medan, beton menggunakan spesifikasi mutu fc’ 20, dan pengambilan sampel beton dilakukan setiap lima meter kubik saat pengecoran. Pengawasan melibatkan konsultan pengawas, PPTK, serta tim teknis dinas secara berkala di lapangan.

“Target utama saat ini adalah masyarakat dapat kembali melintasi jalan ini. Namun keamanan dan keawetan tetap menjadi prioritas utama pembangunan,” ujar Majak.

Di lokasi, empat segmen fondasi dinding penahan tanah telah selesai. Sementara tiga segmen lainnya masih dalam pengerjaan. Sebanyak 35 pekerja ditempatkan di lokasi, bekerja dalam dua shift. Hujan menjadi kendala utama, sehingga pekerjaan pembengkokan dan pengikatan besi dilakukan di gudang saat cuaca belum mendukung, memastikan waktu tidak terbuang sia-sia. Material utama telah tersedia di lokasi sehingga pengerjaan dapat segera dilanjutkan ketika cuaca membaik.

Pembangunan box culvert dan retaining wall (dinding penahan tanah) Wih Delung Semayun akan membuka kembali konektivitas antar kampung Kecamatan Bukit dan Kecamatan Bandar. (Foto: Tim Media Satgas PRR)

Membangun Kembali dengan Lebih Baik

Ketua Pengarah Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Sugiono, menegaskan arah strategis seluruh upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.

“Kita harus membangun kembali dengan lebih baik, lebih aman, dan lebih berkelanjutan. Pemulihan ini juga harus berorientasi jangka panjang dan mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana serupa,” ujarnya pada Senin (26/10/2026).

Kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas antarwilayah, kata Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera yang juga Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, adalah yang paling urgen dibutuhkan masyarakat.

“Yang dibutuhkan masyarakat saat ini di sana itu jelas, nomor satu adalah masalah jalan. Jalan-jalan yang rusak, jembatan rusak,” katanya.

Pernyataan ini sejalan dengan pendekatan yang diterapkan di Wih Delung Semayun. Dinding penahan tanah bukan sekadar menggantikan yang hilang, melainkan dibangun lebih tinggi dan lebih kokoh untuk menahan gerusan air di masa mendatang. Perhatian juga diberikan pada kelancaran aliran air agar risiko penyumbatan seperti yang terjadi sebelumnya dapat diminimalisir.

Proyek ini merupakan salah satu dari sekian banyak upaya pemulihan infrastruktur di Kabupaten Bener Meriah. Kabupaten ini mencatat kerusakan dan kerugian akibat bencana pada akhir November 2025, mencapai Rp5,73 triliun, dengan kebutuhan pemulihan diperkirakan mencapai Rp5,93 triliun.

Kerusakan menjangkau 1.261 rumah warga serta jaringan jalan dan jembatan yang menghubungkan antarwilayah. Secara keseluruhan di Provinsi Aceh, Rencana Induk (Renduk) Satgasnas PRR mencatat kerusakan pada 1.631 ruas jalan dan 636 jembatan, yang akan dipulihkan secara bertahap pada 2026–2028.

Pembangunan di Wih Delung Semayun diharapkan akan membangkitkan kembali denyut nadi ekonomi warga, akses anak-anak menuju sekolah, jalur pasokan kebutuhan pokok, serta jangkauan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di kawasan pedalaman Bener Meriah. Meskipun lingkup kontrak saat ini baru mencakup pemulihan badan jalan agar dapat dilalui, pemerintah berkomitmen menyempurnakan hingga pengaspalan melalui pendanaan tahap berikutnya.

Renduk PRRP Sumatera dan Rekonstruksi Jembatan

Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera, merencanakan pembangunan permanen jembatan dan jalan nasional dengan standar ketahanan bencana yang tinggi.

Penguatan konstruksi, jaringan transportasi diarahkan menggunakan desain jalan dan jembatan yang tahan bencana (reinforcement and disaster-resilient design).

Konektivitas wilayah. Rehabilitasi jaringan jalan dan jembatan yang rusak diarahkan untuk menjaga konektivitas antarwilayah, terutama koridor strategis serta akses penghubung antarkabupaten/kota dan kawasan terdampak.

Prinsip pembangunan kembali. Rekonstruksi menggunakan pendekatan Build Back Better, yakni meminimalkan potensi kerusakan pada masa mendatang.

Renduk PRRP adalah dokumen kebijakan nasional yang disahkan melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Nomor 25 Tahun 2026. Dokumen ini berfungsi untuk memandu pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di Sumatera. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER