Banda Aceh (Waspada Aceh) – Provinsi Aceh mencatat inflasi sebesar 5,05 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) pada Oktober 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Pulau Sumatera dan menempatkan Aceh pada peringkat kesembilan secara nasional dari 38 provinsi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Agus Andria, mengatakan inflasi tahunan Aceh pada Oktober 2026 meningkat dibandingkan September 2026 yang tercatat sebesar 5,03 persen. Sementara secara bulanan (month to month/m-to-m), inflasi Aceh pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,13 persen dibandingkan September 2026.
“Pada Oktober 2026, inflasi tahunan didorong oleh beras, nasi dengan lauk, bensin, tomat dan daging ayam ras,” kata Agus, Senin (2/11/2026).
Secara nasional, inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 8,07 persen. Adapun di Pulau Sumatera, Sumatera Selatan mencatat inflasi terendah sebesar 2,87 persen.
Agus menjelaskan, inflasi tahunan Aceh dipengaruhi kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 5,34 persen.
Kemudian kelompok pakaian dan alas kaki mengalami deflasi sebesar 1,24 persen. Sementara kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 3,25 persen.
Kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga tercatat mengalami inflasi 4,34 persen, kesehatan 1,75 persen, transportasi 5,73 persen, serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 4,88 persen.
Selanjutnya, kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalami inflasi 2,17 persen, pendidikan 0,57 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 13,02 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya 3,91 persen.
Aceh Tengah Tertinggi
Berdasarkan perkembangan inflasi kabupaten/kota, Aceh Tengah mencatat inflasi tahunan tertinggi di Aceh pada Oktober 2026, yakni sebesar 7,11 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 121,52.
Sementara itu, inflasi di Aceh Tamiang tercatat 5,68 persen, Banda Aceh 4,34 persen, Lhokseumawe 4,14 persen, dan Meulaboh 3,54 persen.
Agus menyebutkan, penyumbang utama inflasi bulanan Oktober 2026 berasal dari kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,09 persen, dengan nasi berlauk sebagai salah satu komoditas penyumbang.
Adapun secara tahunan, kelompok makanan, minuman dan tembakau memberikan andil inflasi sebesar 2,04 persen.
Komoditas yang menjadi penyumbang utama pada kelompok tersebut meliputi beras, tomat, daging ayam ras, cabai rawit, Sigaret Kretek Mesin (SKM), minyak goreng, Sigaret Kretek Tangan (SKT), dan ikan tuna. (*)



