Kamis, Juni 20, 2024
Google search engine
BerandaPrihatin Pabrik Tempe Terpaksa Tutup, KPPU Peringatkan Importir dan Distributor Tak Mainkan...

Prihatin Pabrik Tempe Terpaksa Tutup, KPPU Peringatkan Importir dan Distributor Tak Mainkan Harga Kedelai

Medan–Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha (KPPU) Wilayah I, mengingatkan kepada seluruh pelaku pasar kedelai, baik importir, distributor dan suplier, tidak memainkan harga bahan baku utama produk tahu dan tempe tersebut. Apalagi, sampai memanfaatkan momentum wabah virus Corona atau COVID-19 yang terjadi saat ini.

“Kita ingatkan, jangan sampai nanti kedapatan oleh KPPU adanya praktik curang di lapangan. Kedelai ini salah satu jenis pangan yang cukup dibutuhkan masyarakat. Selain untuk kebutuhan produsen tahu, tempe atau kecap, kedelai juga sumber pangan yang dibutuhkan,” kata Kepala KPPU Wilayah I, Ramli Simanjuntak, kepada Waspadaaceh.com, Minggu (29/3/2020).

KPPU prihatin dengan tingginya harga kedelai di pasaran saat ini, baik di Sumatera Utara mau pun di Provinsi Aceh. Bahkan naiknya harga kedelai ini telah membawa korban, tutupnya sebuah usaha produksi tempe di Aceh Besar, yakni pabrik tempe Soya, yang mempekerjakan 50 orang karyawan. Akibatnya 50 karyawannya dirumahkan gara-gara harga kedelai yang meroket.

Berita Terkait: Besok! Pabrik Tempe Soya Tutup, 50 Karyawan Dirumahkan

Ramli mengatakan, untuk itu pengusaha jangan menjadikan kedelai sebagai ajang untuk bisa meraup keuntungan besar dalam situasi ini. Karena, dalam rantai distribusi mulai dari importir, jika menaikan harga perkilogramnya Rp500 saja, maka sampai ke end user (pengguna akhir atau konsumen) harganya akan semakin tinggi.

“Contoh dari importir udah naik. Maka ke distributor, suplier sampai ke pengecer pasti harga akan naik juga. Maka sampai ke end user bisa melonjak harganya. Kami ingatkan lagi, jangan permainkan harga apalagi di tengah wabah ini,” tegasnya.

Berita Terkait: Imbas Corona, Harga Kedelai di Medan “Meroket”

Justru Ramli mengajak pelaku usaha baik importir hingga distributor, jika memiliki informasi terkait tidak beresnya rantai distribusi kedelai ini, silahkan melapor kepadanya. KPPU akan menindaklanjuti dengan melakukan analisis, pengumpulan data hingga penyelidikan nantinya.

“Sekali lagi, jangan sampai nanti kita temukan di pasar ada rantai distribusi yang tidak beres. Apalagi, ada tengkulak. Jika sampai menahan atau menimbun stok juga bisa pidana. Jika punya informasi juga silahkan laporkan ke kita bisa melalui email: kpd_medan@kppu.go.id/kanwil1@kppu.go.id,” tegasnya.

Sebelumnya seorang pengusaha tempe dengan branding (merk) Wan Tempe di Marendal Deli Serdang, Irwan, mengaku harga kedelai saat ini melonjak Rp8.500/Kg dari sebelumnya Rp6.300/Kg. Harga kedelai itu bahkan untuk produk kedelai kelas 2 merek Bola Dunia.

“Sekarang Rp8.500 per kg, itu harga untuk pengambilan banyak. Sekarang stok hanya tinggal untuk beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Pengusaha Wan Tempe yang merupakan seorang mahasiswa dan memperkerjakan 12 karyawan ini, mengaku bingung, sampai kapan kondisi seperti sekarang terus terjadi. Dia berharap pemerintah mencari solusinya sehingga para pengusaha tempe dan tahu di Sumatera Utara tetap bisa bertahan.

“Banyak pelaku usaha mikro di sini. Harga kedelai ini harusnya menjadi perhatian pemerintah. Harganya terus meroket. Padahal dengan kondisi ekonomi sekarang, tahu dan tempe menjadi bahan lauk alternatif yang bergizi bagi masyarakat,” lanjut Irwan.

Sementara di Aceh Besar, dilaporkan, sebuah pabrik tempe merk Soya, mengatakan akan menutup usahanya dan merumahkan sekitar 50 karyawannya, akibat meroketnya harga kedelai, sejak merebaknya virus Corona. (sulaiman achmad)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER