Sabtu, Maret 2, 2024
Google search engine
BerandaOpiniPertemuan yang Membuka Fakta tentang Palestina dan Israel

Pertemuan yang Membuka Fakta tentang Palestina dan Israel

“Terdengar suara letupan berondongan senjata  yang ditembakkan oleh tentara Israel”

Catatan Rian Apriesta Ramsadefa

Sejarah kelam seekor anak anjing yang dibesarkan oleh majikannya dan kemudian mencabik-cabik wajah majikannya tanpa merasa bersalah sedikitpun. Begitulah bentuk abstrak dari orang-orang Palestina saat ini dengan apa yang telah bangsa Yahudi/Israel lakukan terhadap mereka.

Sedikit cerita dari saya di mana pada tahun 2017 saya melakukan perjalan rohani (Umroh) ke Arab Saudi. Kala itu tak sedikit hal-hal yang tidak saya lihat dan lupakan. Orang-orang di sana begitu ramah apalagi jika bertemu dengan orang Indonesia.

Para pedagang Arab selalu dibuat tertawa dengan polah tingkah orang Indonesia yang jago dalam menawar harga belanjaannya. Bahkan salahsatu pedagang Arab dengan sangat terpaksa mengalah dengan tawaran harga salah seorang ibu-ibu Indonesia. Ibu ini berhasil membeli sesuatu aksesoris dengan harga yang sangat murah.

Pedagang tersebut mengatakan kepada ibu tersebut “bakhil,” dengan sangat lucu. Tak heran para pedagangnya sangat lihai dalam berbahasa Indonesia. Mungkin karena orang-orang Indonesia suka berbelanja dan pastinya sepulang dari tanah suci tersebut selalu membawa oleh-oleh ketika kembali ke kampung halamannya masing-masing.

Pada suatu pagi di kota Madinah saya berkunjung ke Masjid Quba yang katanya merupakan masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah SAW pada tahun 1 Hijriyah. Jaraknya sekitar 5 Kilometer di sebelah tenggara kota Madinah dengan keindahan di atas kubahnya banyak sekali burung-burung merpati.

Pada saat itu seorang tour guide saya mengatakan jika shalat sunat di Masjid Quba, semakin banyak rakaat yang dikerjakan semakin banyak pula pahala yang didapat.

Ketika itu saya sangat antusias shalat sunat dan tepatnya di barisan terdepan dengan penuh khidmat serta menikmati tenangnya shalat di masjid tersebut. Tak lupa pula saya membaca beberapa surat dalam Al-Qur’an.

Saya juga menikmati jajanan di seputaran halaman masjid tersebut sampai saya melupakan satu hal. Teman-teman dan tour guide saya meninggalkan saya di masjid tersebut.

Ketika saya menyadari dan mencari di mana teman-teman saya, pada saat itu pula saya lupa mengganti kartu handphone saya dengan kartu luar negeri. Sampai pada saat saya bertemu meminta tolong dengan polisi setempat untuk meminjamkan handphone-nya untuk menelpon teman saya.

Sang polisi tidak mengerti bahasa inggris akhirnya saya kembali ke masjid tersebut dan bertemu dengan seorang tua. Orang tua ini menanyakan, “ada apa anak muda apakah kamu tersesat? Apakah kamu dari Indonesia?“ dalam bahasa Inggris. Saya mengatakan tertinggal dengan teman-teman saya, kemudian orang tua tersebut mengajak saya untuk minum teh di sebuah kafé di seputaran Masjid Quba.

Kemudian dia memperkenalkan dirinya namanya Husein Ibnu Qasim, umurnya kurang lebih 70 tahun. Dia berasal dari Palestina dan saat ini menetap menjadi warga negara Arab Saudi. Dia sangat lancer dalam berbahasa Inggris. Tidak heran, dia mengaku alumni universitas terkenal di Arab Saudi.

Di situlah awal mula cerita saya dengan orang tua tersebut dimulai dengan membahas tentang keluarganya yang diusir oleh Israel/Yahudi. Dia juga bercerita tentang seperti apa kejamnya orang-orang Yahudi tersebut. Nenek dari ayah Husein pada tahun 1949.

Saat itu Husein masih berusia remaja saat pasukan Israel memasuki perkampungan dekat Rehaniya (sebuah perkampungan di Palestina). Pada saat itu para laki-laki Palestina yang usia militer dibariskan di tempat dan dieksekusi dengan sadis. Dan para pengungsi baik itu perempuan, anak-anak dan usia lanjut diusir dari rumahnya. Anak laki-laki usia 10 Tahun dan juga para pria berusia di antara 50 tahun dikirim ke Kamp Tahanan Perang.

Saat itu pula ribuan warga Palestina berbondong-bondong berlarian di pantai mencoba kabur. Terdengar suara letupan berondongan senjata  yang ditembakkan oleh tentara Israel.

Sangat disayangkan di antara warga Palestina yang berusaha kabur ada yang tenggelam dalam pelarian tersebut. Bahkan seorang anak laki-laki remaja menggendong ayahnya yang sudah tua saat pelarian tersebut dan tertembak keduanya di tempat.

Ribuan pengungsi Palestina melarikan diri dengan berjalan kaki. Bahkan orang tua dengan segala keterbatasannya dipaksa berjalan ratusan mil. Penduduk perkampungan berebutan naik ke perahu dan juga yang menggunakan kendaraan truk untuk melarikan diri.

Di antaranya ada yang berlari ke Gaza, Mesir dan bahkan Lebanon seperti keluarga Husein yang pindah ke Arab Saudi. Saat mereka berjalan keluar untuk mengungsi salah seorang pengungsi bertanya kepada nenek Husein, siapa yang tertembak.

Ketika nenek Husein sedang berbicara dengan mereka, peluru menghujani di balik tembok tempat mereka semua bersembunyi. Salah satu pengungsi ada yang tertembak di paha dan seorang wanita tua tertembak tepat di paru-parunya. Ketika nenek Husein mencoba menolong wanita tua tersebut dengan napas yang terengah-engah membisikkan untuk berdoa seolah-olah ajal segera menjemputnya. Wanita tua tersebut berhenti bernapas.

“Cerita yang tidak bisa dilupakan walaupun umurku kini sudah 70 tahun,” ujar Husein.

Husein mengatakan ada juga keluarganya pada saat itu lari ke Lebanon. Mereka tinggal dan mengungsi di tenda-tenda dan salah satu dari keluarganya ada yang bergabung di Hizbullah Lebanon. Sepupunya adalah seorang hafiz Qur’an dan saat ini bergabung dengan HAMAS, ujarnya.

Orang-orang di dunia tau Israel hanyalah sekelompok orang-orang yang telah dibantai pada masa perang dunia kedua oleh Nazi. Kemudian setelah perang dunia, usai mereka dengan wajah memelas dan berantakan, meminta pertolongan ke Palestina untuk mendapatkan tempat tinggal. Orang-orang Palestina dengan keramahannya tidak mengetahui niat apa yang sebenarnya Yahudi rencanakan, ujar Husein.

Dalam rangka kepemilikan atas tanah yang dijanjikan yang mereka yakini, Israel mengusir jutaan orang Palestina dari rumah mereka dengan todongan senjata. Orang-orang Palestina yang tidak bersalah dibantai, dan kampung-kampung tempat orang Palestina tinggal dihancurkan.

Coba lihat negara-negara Islam lainnya yang dekat dengan Palestina, seperti Suriah, Irak, Mesir, Libya, mereka adalah negara-negara dengan kekuatan yang hebat. Seperti Irak yang pada saat kepemimpinan Saddam Husein, sangat ditakuti oleh bangsa-bangsa Arab lainnya. Kemudian Saddam Husein dieksekusi dan Irak dilemahkan.

Kemudian Libya di bawah kepemimpinan Muamar Khadafi dengan mudahnya  digulingkan lalu dibunuh secara brutal oleh warganya sendiri.

Yahudi merancang dan bekerjasama dengan Amerika menyebarkan propaganda. Dengan segala tipu muslihatnya membuat negara-negara Arab sekeliling Palestina bertikai sesamanya, berperang sesamanya. Tujuan Yahudi agar tidak ada bantuan terhadap orang-orang Palestina dan mereka dengan mudah mengusir dan membantai warga Palestina.

Dalam perbincangan saya denga Husein tanpa kami sadari sudah waktunya shalat Ashar dan kami shalat bersama. Kemudian Husein memberikan saya handphone untuk menelpon teman saya dan saya berhasil menghubunginya.

Kemudian teman saya mengatakan mereka semua sedang berada di Masjid Nabawi, dan saya katakan kepada Husein untuk membantu saya menuju ke Masjid Nabawi, yang katanya tidak jauh dari Masjid Quba.

Kemudian saya dibawa oleh Husein melalui jalan raya di mana Husein memberhentikan kendaraan umum seperti mobil van. Salah seorang di mobil berteriak layaknya kenet, mengatakan Haram…Haram…. Di situ pula saya baru tahu “haram” yang dimaksud adalah Masjid Nabawi.

Perpisahan saya dengan Husein diakhiri dengan keberangkatan saya. Di dalam mobil tersebut orang-orang berhimpitan duduk rapat dan ada juga yang jongkok. Ini seperti mengingatkan saya dengan kendaraan labi-lani di Aceh, cukup membayar 2 riyal tak lama sampai ke Masjid Nabawi.

Dari cerita Husein tersebut sebegitu luar biasanya bangsa laknatullah Israel menguasai secara pelan-pelan Negeri Palestina. Mereka membunuh dan membunuh setiap hari, bahkan tidak pandang usia. Orang tua, perempuan bahkan anak-anak yang sampai saat ini kita lihat baik di media cetak maupun media online.

Semoga kita memiliki mental seperti orang-orang Palestina yang tegar dan iman yang kokoh. Juga kita dapat mengambil hikmah dari pengalaman orang-orang Palestina yang dapat kita petik, yaitu jangan terlalu mempercayai orang-orang lemah di awal dan kemudian kita sambut dengan sepenuh hati. Tapi kemudian justru menjadi musuh bagi kita, sebagaimana orang-orang Israel. (*)

  • Penulis mahasiswa Pascasarjana Magister Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala (USK)
RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments