Beranda Laporan Khusus Pertashop, Solusi Bisnis SPBU Mini dari Pertamina

Pertashop, Solusi Bisnis SPBU Mini dari Pertamina

BERBAGI
Pertashop 1P.211.42 di Jalan Siantar-Parapat Km 21 dekat objek wisata Kota Parapat. (foto/sulaiman achmad)

“Secara bisnis lebih mudah dijangkau konsumen, karena kehadirannya lebih dekat ke masyarakat tanpa harus ke SPBU yang mungkin jaraknya cukup jauh”

————–

Laporan: Sulaiman Achmad

Sore itu, Jumat (8/10/2021), rombongan jurnalis yang difasilitasi PT Pertamina MOR I, berkesempatan mengunjungi berbagai lokasi operasional, salah satunya Pertashop 1P.211.42. Lokasinya berada di Jalan Siantar-Parapat Km 21, Desa Dolok Parmonangan, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Pertashop merupakan outlet penjualan berskala tertentu yang dipersiapkan untuk melayani kebutuhan konsumen BBM non subsidi, LPG non subsidi, dan produk ritel Pertamina lainnya dengan mengutamakan lokasi pelayanannya di desa atau di kota yang membutuhkan pelayanan produk dari perusahaan migas milik pemerintah ini.

Pemilik usaha Petrashop di Dolok Parmonangan, Petrus Stuart Miller Sirait, yang ditemui di lokasi bersama rombongan FT (Fuel Terminal) Pematangsiantar, mengaku baru memulai bisnis Pertashop ini pada Mei 2021. Usaha itu dia mulai atas saran orangtua yang sudah lebih dulu mengelola bisnis stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Simalungun dan beberapa lokasi di daerah lain.

Petrus mengaku sudah sangat familiar dengan bisnis penjualan BBM atau gas, karena warisan usaha keluarga turun temurun sejak lama. Bisnis ini pula yang sudah membawanya meraih pendidikan hingga perguruan tinggi. Tentu saja, pepatah lama, “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya,” ini berlaku bagi Petrus.

Pengalaman tentu saja sudah menjadi bekalnya untuk memulai usaha ini. Apalagi, untuk memulai bisnis Pertashop tersebut tidak perlu modal besar hingga miliaran rupiah seperti membangun sebuah SPBU. Kapasitas tangki timbun untuk penyimpanan BBM juga tidak besar termasuk pompa atau nozzle mini saja sudah cukup.

“Penjualan atau konsumsi BBM itu 300-500 liter per hari, kalau hari besar atau hari libur bisa meningkat 20%. Untuk pembelian modular (perangkat), saya habis Rp250 juta, modal kerja Rp20 juta hingga Rp30 juta. Estimasinya modal keseluruhan sekitar Rp400 juta, di luar lahan. Untuk kapasitas tangki timbun kita 3.000 liter,” kata Petrus yang masih berusia 24 tahun ini.

Lokasi Pertashop ini berada di lahan miliknya sendiri yang strategis di pinggir jalan lintas Sumatera, Jalan Medan-Siantar-Parapat. Selain itu, dia juga tidak perlu mengeluarkan uang untuk sistem deposit layaknya membuka sebuah SPBU.

“Modal lebih kecil, perhitungan margin transaksi BBM juga sama dengan SPBU. Memang, kita hanya menjual satu jenis BBM saja yakni Pertamax 92. Tapi tidak ada protes dari pengendara yang bertanya kenapa tidak menjual Pertalite atau Premium,” ujar Petrus yang masih kerabat dengan Ketua Hiswana Migas Sumbagut Rajamin Sirait.

Tidak adanya sistem deposit ini lebih memudahkan dia untuk bisa beroperasi. Jika stok di Pertashop miliknya hampir habis, maka dia bisa langsung memesan untuk tambah pasokan baru. Hal ini lebih memudahkannya memenuhi permintaan pasar ketimbang mengelola SPBU.

Pertashop ini juga diyakini sebagai salah satu sarana baginya, untuk belajar dasar cara mengelola sebelum benar-benar membangun SPBU. Petrus yakin, Pertashop menjadi salah satu unit bisnis Pertamina agar tetap bisa menjangkau masyarakat di pelosok.

Apalagi, jarak Pertashop dengan SBPU terdekat mencapai 20 Km. Kehadiran Pertashop menjadi salah satu, inovasi bisnis Pertamina untuk membangun kolaborasi secara eksternal guna mendukung prekonomian lokal tetap bangkit dengan kehadiran Pertamax atau Perta Series.

Petrus menilai bisnis Pertashop ini sangat cocok bagi pemula yang berniat membuka bisnis bidang bahan bakar. Apalagi, BBM yang dijual juga bukan BBM subsidi atau PSO. Jadi, margin transaksi juga lebih fluktuatif dan menjanjikan daripada menjual BBM subsidi atau PSO sejenis Premium dan Bio Solar.

“Modal lebih kecil, yang penting memiliki lahan berstatus milik sendiri. Modal pun lebih kecil daripada membuka sebuah SPBU karena membutuhkan miliaran rupiah. Ini menjadi salah satu inovasi bisnis Pertamina untuk membangun kolaborasi dengan lingkungan eksternal guna mendukung lokomotif prekonomian nasional dan daerah,” jelasnya.

Secara Bisnis Mudah Dijangkau

Unit Manager Communication & Relation (Comrel & CSR) PT Pertamina MOR I, Taufikurahman, melalui Officer Comrel, Haris, menjelaskan kehadiran Pertashop ini merupakan salah satu unit bisnis yang ditonjolkan Pertamina guna melayani kebutuhan dan menjangkau masyarakat khususnya yang tidak terjangkau SPBU. Meski dibilang SPBU mini, Pertashop tetap mengoptimalkan bisnis dengan teknologi terdepan yang sama dengan SPBU besar.

“Secara bisnis lebih mudah dijangkau konsumen, karena kehadirannya lebih dekat ke masyarakat tanpa harus ke SPBU yang mungkin jaraknya cukup jauh. Komitmen Pertamina tetap berkolaborasi dan tumbuh bersama, baik dari kalangan pengusaha dan masyarakat atau konsumen,” ungkapnya.

Haris mengatakan, PT Pertamina terbuka dengan semua pihak yang ingin membangun bersama untuk melayani masyarakat khususnya bisnis Pertashop. Jika memenuhi syarat, dia menyakini maka proses membuka bisnis ini akan berjalan dengan lancar.

Skema dan Spesifikasi

Mengutip laman resmi Pertamina, kemitraan.pertamina.com, ada tiga jenis Pertashop yang dapat dipilih calon mitra sesuai dengan kemampuan budgetnya.

Skema Gold

Skema ini membutuhkan modal Rp250 juta, mencakup biaya pembangunan dan pengiriman barang, dengan rincian: Modal pembelian produk (Pertamax): Rp20 juta (Rp8.150 x 2.000 – liter/hari + biaya lain-lain) Keuntungan/liter: 850/liter (untuk sales 1-1.000 liter/hari) Estimasi pendapatan/hari: minimal 400 liter/hari Estimasi pengembalian modal maksimal 5 tahun (tergantung pendapatan penjualan).

Skema Diamond

Membutuhkan modal Rp400 juta, mencakup biaya pembangunan dan instalasi dengan rincian: Modal pembelian produk (Pertamax): Rp70 jt (Rp8.400 x 8.000 liter/hari + biaya lain-lain). Keuntungan/liter: 600/liter (untuk sales min 1.001- 3.000 liter/hari). Estimasi pendapatan/hari: minimal 1.000 liter/hari. Estimasi pengembalian modal maksimal 4 tahun (tergantung pendapatan penjualan). Dimungkinkan menjual LPG Bright Gas dan Pelumas.

Skema Platinum

Modal yang diperlukan untuk skema Platinum Rp500 juta, untuk kebutuhan biaya pembangunan dan instalasinya. Rinciannya, Modal pembelian produk (Pertamax): Rp70 jt (Rp8.565 x 8.000 liter/hari + biaya lain-lain). Keuntungan/liter: 435/liter (untuk sales > 3.000 liter/hari). Estimasi pendapatan/hari: minimal 3.000 liter/hari. Estimasi pengembalian modal maksimal 3 Tahun (tergantung pendapatan penjualan). Dimungkinkan menjual LPG Bright Gas dan Pelumas.

Tertarik untuk buka Pertashop di daerah anda? Silahkan konsultasi langsung dengan PT Pertamina MOR I atau PT Pertamina di lokasi anda.

Pertashop juga menjamin sebagai bisnis yang berizin serta kompeten, usaha dengan keamanan yang standard dan takaran yang pasti pas. (**)

  • Penulis adalah wartawan Waspadaaceh.com
  • Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Anugerah Jurnalistik Pertamina (AJP) 2021 yang digelar PT Pertamina.
BERBAGI