BerandaAcehPemasok Biomassa Hadapi Tantangan Serapan di Tengah Pengembangan Cofiring

Pemasok Biomassa Hadapi Tantangan Serapan di Tengah Pengembangan Cofiring

Meulaboh (Waspada Aceh) – Pengembangan program cofiring biomassa di PLTU 1&2 Nagan Raya dinilai belum sepenuhnya memberikan kepastian bagi pelaku usaha pemasok.

Meski rantai pasok biomassa terus berkembang dan melibatkan masyarakat, serapan biomassa di pembangkit yang menurun sejak awal 2026 membuat keberlanjutan usaha menghadapi tantangan.

Komisaris PT Kurma Karya Global, Muzakir, mengatakan volume biomassa yang diserap pembangkit saat ini hanya sekitar 100 ton per bulan. Angka itu jauh menurun dibandingkan sebelumnya yang pernah mencapai 500 hingga 1.000 ton per bulan, terutama untuk biomassa jenis sekam padi dan serbuk kayu (sawdust).

“Sejak awal tahun ini tren pasokan kembali menurun karena penerimaan biomassa di PLTU masih terbatas,” kata Muzakir kepada Waspadaaceh.com, Kamis (6/8/2026).

Menurut dia, bahan baku biomassa sebenarnya masih tersedia. Namun, keterbatasan serapan membuat pasokan dari masyarakat tidak seluruhnya tersalurkan.

“Dulu sekam padi dan sawdust bisa mencapai sekitar 1.000 ton. Sekarang hanya sekitar 100 ton. Bahan bakunya ada, tetapi pasarnya belum ada,” ujarnya.

Penurunan serapan tersebut berdampak langsung pada masyarakat yang menjadi bagian dari rantai pasok biomassa. Saat kebutuhan biomassa masih tinggi, banyak warga, terutama perempuan, memperoleh tambahan pendapatan dari kegiatan mengumpulkan, memilah, dan mengolah sekam padi maupun limbah pertanian lainnya. Kini, aktivitas tersebut ikut berkurang seiring menurunnya permintaan.

PT Kurma Karya Global telah memasok biomassa ke PLTU 1&2 Nagan Raya sejak 2023. Bahan baku yang dipasok meliputi sekam padi, serbuk kayu, kulit ari kopi, cangkang sawit, hingga serpihan kayu. Biomassa tersebut dimanfaatkan dalam program cofiring, yaitu pencampuran biomassa dengan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik untuk mengurangi penggunaan energi fosil.

Selain terbatasnya serapan, Muzakir mengatakan pelaku usaha juga menghadapi tantangan berupa belum adanya kontrak jangka panjang. Menurut dia, kepastian kontrak diperlukan agar perusahaan memiliki dasar untuk berinvestasi dan memperluas usaha.

“Ketika penerimaan biomassa di PLN dibatasi karena alasan tertentu, pelaku usaha harus mencari alternatif pasar agar usaha tetap berkelanjutan,” katanya.

Meski demikian, ia menyebut tidak semua jenis biomassa mengalami penurunan permintaan. Cangkang sawit (palm kernel shell) justru masih menunjukkan tren permintaan yang meningkat.

Di sisi lain, pengembangan biomassa dinilai membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat. Rantai pasok biomassa melibatkan UMKM dan warga yang mengumpulkan limbah pertanian maupun perkebunan, termasuk perempuan yang memperoleh tambahan pendapatan dari aktivitas tersebut.

Untuk menjaga keberlanjutan usaha, PT Kurma Karya Global berencana mengembangkan hutan tanaman energi dan memproduksi biomassa bernilai tambah dalam bentuk berbagai jenis pelet, seperti pellet sawdust, pellet sekam padi, pellet palm fiber, pellet cangkang kopi, serta pellet janjang kosong sawit.

Muzakir berharap pengembangan produk tersebut dapat memperluas pasar biomassa sekaligus memperkuat industri biomassa nasional. Namun, ia menilai peningkatan serapan biomassa dan kepastian pasar tetap menjadi faktor penting agar rantai pasok yang telah dibangun dapat terus bertahan.
(*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER