Minggu, Juli 21, 2024
Google search engine
BerandaPelatih Kempo asal Jepang Berharap PORA XIII Lahirkan Atlet Berprestasi

Pelatih Kempo asal Jepang Berharap PORA XIII Lahirkan Atlet Berprestasi

Jantho (Waspada Aceh) – Sekretariat Pantia Pusat Pekan Olahraga Aceh (PP PORA) XIII 2018 Aceh Besar, Rabu (3/10/2018), mendapat kehormatan dikunjungi Sensei (pelatih-red) Kempo asal Jepang, Shozo Sato.

Pada kesempatan itu Sato berharap event PORA XIII 2018 yang akan digelar di Kota Jantho 18-25 November 2018 mampu melahirkan atlet berprestasi.

“Sebuah kejuaraan olahraga tentu harus mampu melahirkan atlet yang berprestasi, dan saya pribadi sangat terkesan dengan perkembangan olahraga di Aceh, khususnya kempo,” kata Sato.

Kunjungan sensie Shozo Sato ke Sekretariat PORA XIII, bersama Muhammad Djumhana Sidik, Majelis Pertimbangan Kensi/guru PB Perkimi dan Sekretaris Umum Pengprov Perkemi Aceh disambut Sekretaris Umum PP PORA XIII, T Dahsya K Putra.

Dalam pertemuan itu, Shozo Sato mengatakan, selama beberapa hari di “Tanah Rencong,” dia sangat berkesan dengan olahraga di Aceh. Menurutnya event PORA harus bisa menjadi ajang untuk meraih prestasi bagi atlet-atlet Aceh khususnya di cabang olahraga kempo.

“Dengan adanya event olahraga di Propinsi Aceh, ini merupakan salah satu langkah bagi atlet Aceh untuk meraih prestasi di tingkat nasional bahkan ke mancanegara,” katanya.

Shazo Sato yang merupakan salah satu pelatih yang dikirim Pusat Kempo Jepang pada tahun 1968-1970 untuk melatih Indonesia di cabang olahraga beladiri kempo. Olahraga ini selanjutnya dikembangkan oleh pengurus kempo di Indonesia.

Menurutnya, olahraga beladiri ini kalau di Jepang namanya taikai, kalau di Indonesia namanya kempo. Dalam kunjungan beberapa hari ke Aceh, pelatih gaek asal Jepang itu juga ikut melihat latihan para atlet kompo Aceh.

“Atlet kempo Aceh sangat bagus teknik beladirinya dan ini perlu dipertahankan,” pungkas Shazo.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Majelis Pertimbangan Kensi PB Perkemi, Muhammad Djunhana Sidik. Menurutnya, olahraga kempo di Aceh ini sudah sangat bagus, begitu pun masih ada yang kurang dibandingkan dengan Jakarta, NTT dan Bali. “Aceh harus banyak belajar dari tempat lain supaya lebih bagus lagi kedepan,” katanya.

Sementara terkait Pekan Olahraga Aceh (PORA) XIII yang akan digelar pada 18-25 November 2018, kata Muhammad Djumhana Sidik, PORA di tingkat propinsi merupakan salah satu event untuk menyeleksi para atlet dalam mengikut Pekan Olahraga Nasional (PON).

“Walaupun nanti dari sini mereka harus kirim Pra PON, nanti baru bisa mengikuti PON atau tidak,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, dia juga menyarankan, untuk wasit yang akan memimpin pertandingan nanti, panitia penyelenggara PORA harus menggunakan wasit yang mempunyai sertifikat, supaya lebih diterima di semua daerah khususnya kempo.

“Kalau diwasiti oleh orang sini juga nanti banyak masalah. Taulah di olahraga apapun juga sama, kalau wasit dari Aceh sendiri jadi masalah nantinya. Sebetulnya banyak wasit yang belum mempunyai sertifikat. Di kempo itu, wasit harus punya sertifikat, baru wasit itu bisa memimpin satu pertandingan,” lanjut Muhammad Djumhana Sidik.

“Kami khawatirkan, jika PP PORA menggunakan wasit yang belum lisensi untuk memimpin pertandingan, takutnya akan bermasalah. Maka itu harus menjadi pertimbangan panitia,” demikian Muhammad Djumhana Sidik. (Adv)

BERITA TERKINI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER