Beranda Tausiah Nabi Ismail Mendakwahkan Zakat

Nabi Ismail Mendakwahkan Zakat

BERBAGI
Penulis, Dr. Abdul Rani Usman, M.Si.

“Kemuliaan Nabi Ismail mengajak keluarga dan umatnya menunaikan zakat sebagai keagungan seorang Nabi sepanjang zaman”

———

Oleh Dr. Abdul Rani Usman, M.Si

Zakat  diwajibkan Allah terhadap agama samawi. Menunaikan zakat telah disyariatkan Allah pada umat Nabi lainnya, seperti kaum Nabi Ismail. Keunggulan ajaran Tauhid adalah mengesakan Allah, mendirikan shalat dan menunaikan zakat.

Para Nabi mendakwahkan zakat  kepada keluarga dan umatnya untuk membentuk hubungan yang harmonis dalam masyarakat. Membayar zakat sebagai wujud dari keunggulan Islam dalam membangun umat di dunia ini. Umat terdahulu telah menunjukkan kesalehan mereka di antaranya membayar zakat. Manusia kini sedikit sekali peduli kepada ajaran Islam tentang membangun harmonisasi melalui berzakat.

Keagungan Nabi Ismail

Nabi Ismail merupakan anak Nabi Ibrahim. Namun mereka berpisah tempat tinggalnya. Nabi Ibrahim tinggal di Palestina sedangkan Nabi Ismail tinggal di Mekkah. Nabi Ismail diberi mukjizat  di waktu kecilnya di Mekkah. Saat itu tidak ada air, tetapi dengan keunggulan yang diberikan Allah kepadanya, di tempat hentakan kaki Ismail keluar air zam-zam yang dapat diminum sampai saat ini. Ismail menempati janjinnya kepada ayahnya Nabi Ibrahim  yaitu berkurban demi ayahnya. Keagungan dan keunggulan Nabi Ismail diceritakan lagi kepada umat Nabi Muhammad.

Keagungan Nabi Ismail menjadi teladan bagi umat Muhammad. Banyak manusia mengetahui mukjizat Nabi Ismail. Kemulian Ismail yang lainnya adalah menyuruh keluarganya menunaikan zakat. Allah berfirman: Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Ismail di dalam Kitab (Al-Quran). Dia benar-benar seorang yang benar janjinya, seorang Rasul dan Nabi. Dia menyuruh keluarganya untuk (melaksanakan shalat dan (menunaikan) zakat, dan dia seorang yang diridhai di sisi Tuhannya (Maryam:54-55).

Melaksanakan shalat dan menunaikan zakat menjadi anjuran pokok bagi umat terdahulu maupun umat Nabi Muhammad. Melaksanakan shalat dirangkaikan dengan menunaikan zakat menjadi kewajiban mutlak umat Nabi Muhammad. Umat terdahulu juga mewajibkan shalat dan zakat sebagaimana umat Muhammad saat ini.

Roh dan kewajiban shalat-zakat tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia baik dahulu maupun masa kini. Kewajiban shalat-zakat dua rukun Islam yang sering dipadukan dalam Al-Quran. Shalat sebagai wujud kebaktian mutlak manusia kepada Allah. Sedangkan zakat kewajiban mutlak manusia untuk membantu dhuafa guna membina kaum lemah bidang ekonomi.

Terkait dengan Nabi Ismail menyuruh keluarga dan umatnya menunaikan shalat-zakat dalam Maryam 54-55 ditafsirkan Shihab: Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya baik terhadap Allah maupun manusia dan terhadap dirinyanya sendiri, dan ia adalah seorang Rasul kepada kaumnya yakni Jurhum, salah satu suku Arab yang bertempat tinggal/berasal dari Yaman. Ia seorang Nabi yang memiliki kedudukan tinggi. Ia senantiasa menyuruh keluarganya melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan ia di sisi Tuhannya, karena ketepatan janjinya dan keikhlasannya seorang yang diridhai Allah dan manusia (Shihab, Volume 8:207).

Nabi Ismail sebagai putra Nabi Ibrahim selain sifat kenabian ditunjukkan sekaligus dia sebagai anak yang saleh. Nabi Ismail seorang Nabi yang memenuhi janjinya baik kepada keluarganya maupun kepada umatnya. Seorang Nabi memenuhi janji sebagai sifat yang terpuji.

Ismail sebagai seorang Rasul bagi umatnya maupun bagi kaumnya. Kejujuran memenuhi janji sebagai mana ditafsirkan Shihab adalah selalu menempati janjinya. Ismail mempunyai kemulian yang selalu mengajak kepada kebaikan terutama kewajiban shalat-zakat bagi keluarganya maupun bagi kaumnya. Keikhlasan Nabi Ismail dalam mengajak keluarga dan kaumnya, dipuji Allah.

Memenuhi janji yang dilakukan Ismail menjadi bukti kemuliannya di sisi Allah. Keteladanannya memenuhi janji untuk mengajak kepada ajaran Islam melaksanakan shalat dan zakat menjadi simbol kemulian seorang Rasul. Firman Allah, Surat Maryam 54-55, menjadi acuan bagi umat Islam, umat terdahulu telah diwajibkan  shalat-zakat. Artinya agama Tauhid mengajarkan kepada manusia untuk mengabdi kepada Rabbnya sekaligus menjaga keharmonisan di lingkungannya dengan menunaikan zakat.

Demikian juga pemenuhan janji Nabi Islamil yang disimbolkan shadiqal wakdi (pemenuhan janji) menjadi ciri dan keunggulannya dapat diteladani oleh umat Islam saat ini. Nabi Ismail sebagai orang yang sabar dan tabah menghadapi cobaan, terutama menyediakan dirinya untuk disembelih. Memenuhi janjinya untuk bersedia mengorbankan jiwanya menjadi pemenuhunan janji yang tiada taranya. Janji yang diikat dengan Ayahnya, Nabi Ibrahim menjadi bukti kesetiaan seorang anak kepada ayahnya.

Keteladanan Nabi Ismail

Keteladanan Nabi Ismail mengajak keluarganya untuk menunaikan shalat menjadi simbol kesalehan seorang Nabi. Agama samawi adalah mengesakan Allah. Meyakini Allah sebagai pencipta dan penentu nasib manusia. Nabi Ismail mengajak keluarga untuk shalat. Kita ketahui  Ismail adalah keturunan para Nabi. Namun demikian Beliau tetap mengingatkan keluarganya untuk melaksanakan shalat. Shalat bagi kaum muslim wajib dilakukan. Namun tetap harus diingatkan, sebagai mana yang telah dipraktikkan oleh Nabi Ismail terhadap keluarga dan umatnya.

Keteladanan selanjutnya Nabi Ismail mengajak keluarga dan umatnya menunaikan zakat. Kemuliaan ini disifati Ismail sebagai kewajiban seorang Rasul. Akan tetapi iktibar yang dapat kita ambil adalah seorang keluarga Rasul yang suci dan mulia tetap mengingatkan keluarganya untuk menunaikan zakat. Zakat sebagai ciri utama kesalehan manusia diperuntukkan menolong sesama manusia di dunia ini.

Kemuliaan Nabi Ismail mengajak keluarga dan umatnya menunaikan zakat sebagai keagungan seorang Nabi sepanjang zaman. Memahami makna mengajak keluarganya berzakat menunjukkan bahwa Keluarga Ismail walaupun keturunan Nabi tetap wajib menunaikan zakat. Maknanya adalah Nabi Ismail tetap mengingatkan siapa saja wajib mengeluarkan  zakat.

Keteladanan lain Nabi Ismail adalah memenuhi janjinya baik kepada keluarganya maupun terhadap umatnya. Kejujuran Nabi Ismail memenuhi janjinya terutama kepada ayahnya dapat menjadi contoh kesetiannya seorang anak kepada Ayah. Demikian juga Ismail selalu memenuhi janji dengan umatnya sehingga Allah berfirman dalam surat Maryam, 54-55. Pemenhuhan janji yang dilakukan Nabi Ismail menjadi sifat yang diperlihatkan para Nabi sebelum Nabi Muhammad. Pemenuhan janji wajib ditepati. Namun ikatan janji seorang Rasul dan Nabi merupakan simbol kejujuran yang wajaib diikuti umatnya.

Seseorang yang telah mengucap dua kalimah syahadah maka ia telah berikrar dan berjanji kepada Allah dan dirinya mengikuti petunjukk Allah dan Rasulnya. Jika dianalisis mengikuti Firman Allah dan sabda Rasul maka  shalat-zakat merupakan janji yang akan dilaksanakan. Menunaikan zakat sebagai janji kita dalam Islam untuk meringankan beban ekonomi kaum dhuafa. Marilah berzakat agar umat makmur dan sejahtera. Jika juga wajib mendakwahkan sebagai Nabi Ismail mendakwahkan kepada keluarga dan umatnya. (**)

  • Penulis adalah Wakil Bidang Perencanaan Baitul Mal Aceh
BERBAGI