Beranda Inforial Pemerintah Aceh Menyongsong Hardiknas, Ketua Komisi VI DPRA: Walau Langit Runtuh, Pendidikan Harus Tetap...

Menyongsong Hardiknas, Ketua Komisi VI DPRA: Walau Langit Runtuh, Pendidikan Harus Tetap Jalan

BERBAGI
Ketua Komisi VI DPRA, Tgk Irawan Abdullah. (Foto/Ist)

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Tgk Irawan Abdullah, meminta pendidikan harus tetap berjalan walaupun di masa pandemi COVID-19.

Hal tersebut disampaikan Tgk H.Irawan Abdullah menjawab pertanyaan Waspadaaceh.com, Rabu, (28/4/2021), terkait peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), pada 2 Mei 2021. Kata Irwan Abdullah, adanya COVID-19 telah berdampak besar pada pendidikan, bukan hanya berdampak bagi pendidikan Aceh tapi bahkan di seluruh dunia.

Untuk itu, dia mengharapkan kepada Dinas Pendidikan Aceh supaya tidak boleh berhenti dalam proses menjalankan roda pendidikan meski di masa pandemi sekarang ini.

“Istilahnya walaupun langit runtuh pendidikan harus tetap berjalan,” tegas politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Aceh itu memberi gambaran, betapa pentingnya pendidikan.

Dia mengatakan, COVID-19 yang sudah berjalan hampir dua tahun ini memberikan dampak yang besar terhadap dunia pendidikan. Untuk itu, menurutnya, Dinas Pendidikan perlu mengevaluasinya secara baik. Baik itu untuk proses belajar mengajar secara tatap muka maupun secara daring.

Tgk Irawan juga menegaskan, bagi siswa yang melakukan pembelajaran secara daring, harus dipastikan bahwa setiap siswa menerima pelajaran dengan baik juga, walaupun tidak sesempurna apabila dilakukan secara tatap muka.

Menurut Tgk Irawan, untuk meningkatkan pendidikan di Aceh, Dinas Pendidikan harus mengadakan evaluasi yang rutin. Evaluasi ini menyangkut tentang mutu pendidikan yang sudah dijalankan dan semua stakeholder. Apakah kemampuan para pengajar atau guru, kepala sekolah dan stakeholder lainnya, mempunyai kapasitas yang sesuai dengan upaya pengembangan kapasitas pendidikan yang ditetapkan.

Menurutnya, peletakan atau penugasan seorang tenaga profesional kadang-kadang tidak pada tempatnya. Misalnya seorang guru yang punya kemampuan yang bagus, harus ditempatkan di sekolah yang tingkat kemampuannya setara dengan guru tersebut. Begitu juga guru di sekolah yang kemampuan muridnya terbatas, harus pula menempatkan guru yang memiliki kemampuan untuk menangani hal itu.

Di samping itu, Tgk Irawan memberikan apresiasi terhadap program yang mengarah supaya lembaga-lembaga yang terkait dengan pendidikan, untuk dioptimalkan. Bagaimana memikirkan peningkatan kemampuan peserta didik dapat dilaksanakan dengan baik dalam kontek Aceh Carong.

Namun menurutnya, hal itu tidak bisa berjalan maksimal, jika tidak ada dukungan yang optimal dari stakeholder penyelenggara pendidikan.

“Selain itu muatan-muatan yang perlu dikuatkan bahwa melihat siswa kita atau katakanlah dalam konteks yang menyeluruh, termasuk anak-anak yang berada di pesantren dan di tempat-tempat lain, muatan pendidikan yang menyangkut dengan kearifan lokal, baik dalam kontek bahasa ataupun prilaku nilai-nilai etitud (sikap) dan moral anak-anak perlu kita kuatkan dalam muatan-muatan Aceh Carong,” ucapnya.

Muatan lain menurutnya, menyangkut dengan pendukung pendidikan, yakni tersedianya alat-alat pendidikan seperti komputer dan lain-lain sebagainya. Hal tersebut harus diberikan dukungan kuat, sehingga Aceh Carong bukan hanya menjadi narasi dan visi misi gubernur, tapi dapat teraktualisasi dalam proses pendidikan.

“Jadi kita berharap Aceh Carong ini akan terwujud dengan baik, tentu dengan dukungan penuh dari pemerintah dan tim teknis pelaksana pendidikan itu sendiri,” kata Tgk H.Irawan Abdullah.

Irawan menyampaikan kritiknya terhadap perjalanan dunia pendidikan di Aceh, yang menurutnya masih belum mendapatkan prestasi memuaskan, meski anggaran untuk sektor pendidikan relatif besar, yakni mencapai Rp3,5 triliun. (Kia Rukiah)