Kamis, Juni 20, 2024
Google search engine
BerandaLaporan KhususMenuju Hilirisasi Industri Nilam Aceh

Menuju Hilirisasi Industri Nilam Aceh

“Hasil penelitian menyebutkan nilam Aceh (Pogostemon cablin, Benth), terbaik di dunia dengan kandungan Patchouli Alkohol (PA) di atas 30 persen sehingga banyak dicari pihak luar negeri”

Ketua ARC- PUIPT, Syaifullah Muhammad–

Aceh memiliki riwayat panjang sebagai salah satu sentra penghasil minyak nilam terbaik (pogostemon cablin benth) di tingkat internasional. Saat itu, petani nilam sangat sejahtera dan antusias menanam nilam karena pendapatan yang menjanjikan. Namun euforia ini tidak bertahan lama, harga nilam pada masa berikutnya anjlok. Hal itu berpengaruh terhadap perkembangan pertaninan dan produktivitasnya.

Kini industri nilam kembali semakin bergairah untuk dikembangkan karena beberapa perusahaan internasional seperti Payan Bertrand, perusahaan parfum asal Prancis, menilai nilam Aceh merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Nilam juga termasuk sebagai salah satu dari sepuluh komoditi unggulan untuk investasi dan ekspor utama Aceh. Nilam dianggap berpotensi tinggi dalam memajukan ekonomi Aceh, karena sekitar 90% nilam dunia diekspor dari Indonesia, dan Aceh berkontribusi terhadap 10%-20% ekspor nilam Indonesia.

Tembus Pasar Eropa

Nilam dari beberapa daerah di Aceh, termasuk di Kabupaten Aceh Jaya memiliki kualitas yang sangat baik dengan kondisi geografisnya yang sangat mendukung. Hingga potensi nilam di Aceh Jaya bisa menembus pasar Prancis.

Ketua Koperasi Industri Nilam Aceh (KINA) Jaya, Hendra Yana mengatakan, kualitas nilam di Aceh Jaya berada di peringkat nomor 2 terbaik setelah dataran tinggi Gayo Lues.  “Kualitas nilam Aceh memang terbaik, Aceh Jaya dengan peringkat kedua terbaik setelah  Gayo Lues. Hal ini disebabkan oleh kondisi geografisnya yang cukup bagus,” sebut Hendra kepada Waspadaaceh.com, Rabu (27/7/2022).

KINA Jaya berdiri sejak tahun 2011 bergerak di bidang produksi minyak nilam. KINA Jaya berada di Gampong Panga, Kecamatan Panga. Ada sekitar 68 petani nilam yang tergabung di KINA Jaya, dengan luas lahan sekitar  13-15 hektare.

Hendra mengatakan, KINA Jaya dapat memproduksi sekitar 100 Kg minyak nilam perminggunya. Tak hanya di tingkat lokal, pemasaran produk KINA Jaya juga telah merambah Eropa. Sedangkan perusahaan nasional yang turut menjadi pelanggan KINA Jaya adalah PT General Aromatic, sebuah perusahaan yang memasok minyak nilam ke berbagai perusahaan parfum dan kosmetika dunia.

“Kita hanya pada tingkat produksinya saja, belum sampai kepada hilirisasi produk. Kita juga mengirimkan hasil minyak ke beberapa penampung, baik dari tingkat kecamatan maupun kabupaten,” Jelasnya.

Lanjutnya, KINA Jaya juga bermitra dengan berbagai pihak salah staunya dengan pihak akademisi yaitu dari Atsiri Research Center (ARC) Universitas Syiah Kuala (USK/Unsyiah).

Sejumlah produk inovasi baru dari Atsiri Research Center (ARC)-PUIPT Nilam Aceh, yang merupakan produk turunan dari minyak nilam. (Foto/ARC)

ARC -USK Dorong Hilirisasi

Ketua Atsiri Research Center (ARC)-Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUIPT), Syaifullah Muhammad, menyebutkan, ARC berupaya melakukan inovasi dari hulu ke hilir dalam pengembangan nilam.

Upaya tersebut diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi para petani dan masyarakat lokal serta berkontribusi untuk pembentukan ekosistem bisnis baru yang menguntungkan bagi para pelaku industri nilam di Aceh.

Kata Syaifullah, sejak beberapa tahun ini ARC mengembangkan sejumlah program inovasi untuk membangkitkan kembali industri nilam Aceh. Apalagi, kata dia, prospek ekonomi tanaman nilam cukup baik. 

Saat ini luas perkebunan nilam di Aceh terus meningkat. Sejak dikembangkan pada 2018, luas lahan nilam di beberapa kabupaten di Aceh terus bertambah. 

Lakukan Penelitian Nilam

Syaifullah mengatakan, ARC juga telah meneliti dan mengembangkan komoditas nilam selama kurang lebih tujuh tahun terakhir. Nilam merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia ke banyak negara terutama di Benua Eropa.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) yang juga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Dr. Bambang Brodjonegoro, meresmikan mesin Distilasi Molekuler (MD) dan Fraksinasi Nilam skala industri di Atsiri Research Center (ARC)-Pusat Unggulan Iptek (PUI) Nilam Aceh Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, pada Jumat, (28/2/2020). (Foto/ARC-USK)

“Hasil penelitian menyebutkan nilam Aceh (Pogostemon cablin, Benth), merupakan nilam terbaik dunia dengan kandungan Patchouli Alkohol (PA) di atas 30 persen sehingga banyak dicari pihak luar negeri,” tuturnya.

Sejauh ini, ARC telah membina petani dalam penanaman nilam masyarakat di Kabupaten Aceh Jaya, Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Utara, Pidie Jaya, Nagan Raya, Aceh Besar dan Sabang.

Salah satu satu sentra industri nilam berada di Aceh Jaya. Minyak nilam Aceh Jaya salah satu komoditas unggulan bagi Aceh, karena nilam dari Aceh telah mendapatkan sertifikat indikasi geografis. Produksi nilam dari Aceh Jaya tembus pasar hingga Prancis.

Syaifullah juga menyampaikan, dalam aktivitas pertanian dan industrinya, nilam memiliki masalah serius karena tanaman nilam menghabiskan banyak zat hara dalam tanah. Karena itu, banyak petani setelah memanen nilam akan berpindah membuka lahan baru. Hal ini dianggap masalah karena selain merusak hutan, juga tidak baik untuk bisnis nilam jangka panjang.

“Dunia internasional sekarang nggak mau beli produk kita kalau itu dihasilkan dari proses yang merusak lingkungan,” ujarnya.

Pada tahun-tahun terakhir ini Kabupaten Aceh Jaya terus berupaya agar produksi nilam kembali bangkit, baik melalui inovasi maupun industri. Jika dilihat dari letak geografis, lanjutnya, Aceh Jaya menjadi salah satu daerah yang sangat cocok untuk pengembangan budidaya tanaman nilam di Aceh saat ini. areal lahan  tanaman nilam yang terbagi di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Jaya, Sampoiniet, Setia Bakti, Krueng Sabee, Panga dan Teunom.

Baru-baru ini ARC menyelenggarakan pelatihan teknis  terkait produksi atau standarisasi turunan nilam pada Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah  (SIKM) nilam Kabupaten Aceh Jaya. (Dak Nonfisik PK2SIKM), pada  2 – 8 Juli 2022 di Calang.

“Di Aceh Jaya produksi nilam tetap berlanjut. Kita juga telah menyelenggarakan pelatihan teknis bagi pelaku UMKM nilam, dan penjualan ke Prancis tetap jalan,” tutur Syaifullah kepada Waspadaaceh.com, Selasa (26/7/2022). (Cut Nauval d)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER