Beranda Aceh Mengintip Produksi Kolang Kaling di Aceh Besar

Mengintip Produksi Kolang Kaling di Aceh Besar

BERBAGI
Pengolahan kolang kaling yang dikerjakan para ibu-ibu warga Desa Lam Aling, Aceh Besar. (Foto/Dani Randi)
Pengolahan kolang kaling yang dikerjakan para ibu-ibu warga Desa Lam Aling, Aceh Besar. (Foto/Dani Randi)

Aceh Besar (Waspada Aceh) – Siapa yang tidak mengenal kolang-kaling, cemilan kenyal bewarna putih transparan ini memiliki rasa tawar yang menyegarkan. Berasal dari biji buah aren, namun siapa sangka proses pengolahannya tak semudah mengunyahnya, pembuatannya agak rumit dan memakan waktu.

Di Desa Lam Aling, Kecamatan Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, dikenal sebagai salah satu centra penghasil kolang kaling di Aceh. Di bulan Ramadhan, warga di sana disibukkan memenuhi pesanan kolang kaling yang meningkat hingga seratus persen.

Bahkan para anak-anak juga antusias untuk membantu orang tua mereka memproduksi kolang-kaling. Mulai mengupas, hingga memisahkan buah dari dahannya.

Untuk mengolah buah aren menjadi kolang kaling sangat sederhana dan butuh waktu. Di Desa Lam Aling para pria bertugas memetik buah aren dari pohonnya yang berada di perbukitan desa setempat. Lalu kaum wanita yang mengupas dan memprosesnya hingga buah aren menjadi kolang kaling.

Para ibu-ibu ini melakukan proses pemisahan buah dari tangkai pohon. Ini juga harus berhati-hati, sebab jika terkena getah buah aren bisa menderita gatal-gatal. Buah tersebut kemudian direbus sekitar satu jam dalam sebuah drum.

Hal ini dilakukan untuk menghilangkan getah gatalnya. Selanjutnya, buah kolang kaling direbus agar kulitnya yang bertekstur keras bisa lunak. Lalu dibelah menjadi dua untuk mengambil isinya yang sudah mengeras.

Cara pengambilan bijinya pun, warga Lam Aling hanya menggunakan gagang sendok untuk mencongkel isinya agar bisa keluar. Setelah itu dipipihkan untuk mendapatkan tekstur kenyalnya.

Sebelum dijual ke pengepul, kolang kaling harus kembali direndam selama dua hari. “Caranya masih manual, dan masih menggunakan alat seadanya,” kata Leila, warga sekitar yang sibuk merebus buah aren.

Di bulan Ramadhan ini, permintaan makanan berbentuk lonjong ini meningkat drastis. Sebagian pengepul memesan kolang kaling asal Desa Lam Aling ini jauh sebelum memasuki bulan puasa. Tentunya harga jual kolang kaling juga jauh meningkat di bulan Ramadhan.

Biasanya mereka hanya menjual kolang kaling seharga Rp5 ribu/Kg. Namun di bulan Ramadhan, harga meningkat hingga Rp8 ribu hingga Rp10 ribu perkilonya. “Ongkos produksinya naik, kadang kita harus tambah pekerja lagi,” ujar Leila kepada Waspadaaceh.com, Sabtu (26/5/2018).

Dalam sehari, petani kolang-kaling bisa memproduksi hingga 20 kilogram di bulan puasa. Tingginya permintaan kolang-kaling tentu saja memberi berkah bagi warga Desa Lam Aling. Meski pengolahannya masih tradisional, namun kolang-kaling dari desa ini cukup diminati warga Kota Banda Aceh dan sekitarnya.(cdr)

BERBAGI