Beranda Tulisan Feature Mengintip Aktivitas Suluk di Dayah Darul Aman, Berzikir untuk Menenangkan Hati

Mengintip Aktivitas Suluk di Dayah Darul Aman, Berzikir untuk Menenangkan Hati

BERBAGI
Jamaah sedang bertawajjuh atau zikir ismu zat fi qalbi, salah satu aktivitas suluk selama Ramadhan di Dayah Darul Aman, Aceh Besar, Minggu (24/4/2022). (Foto/Cut Nauval Dafistri).

Jamaah tidak boleh memakan makanan yang berdarah dan mengandung lemak seperti daging dan ikan, bertujuan agar terhindar dari nafsu duniawi dan tidak mengantuk karena pengaruh makanan.

— Tengku Saifullah —

Puluhan jamaah tampak sedang menunduk, mereka duduk bersila. Memakai surban bagi pria dan mukena putih bagi wanita. Mereka mengusap muka usai berdoa dan berzikir yang dipandu oleh imam di Dayah Darul Aman, terletak di Gampong Lampuuk, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar.

Ruangan itu yang semula bergemuruh dengan lantunan zikir, lalu senyap. Tak ada suara yang terdengar. Mereka tidak hanya menutupi kepalanya, tapi juga mulai membalut wajah-wajah mereka dengan kain. Hanya tangan yang terlihat.

Beberapa saat kemudian, terdengar lagi lafaz zikir, senada dengan gerakan jemari mereka yang terlihat lincah memutar manik-manik tasbih. Tak lama berselang, isak tangis mulai terdengar dari balik penutup wajah beberapa jamaah tersebut.

Aktivitas berzikir dalam keadaan sepi, menutup wajah dengan kain, bahkan memejamkan mata itu, akrab dengan sebutan tawajjuh atau zikir ismu zat fi qalbi. Kegiatan ini merupakan salah satu bagian dalam pelaksanaan suluk.

Wakil Ketua Yayasan, Dayah Darul Aman Teungku Saifullah mengatakan, kegiatan suluk merupakan ibadah untuk membersihkan hati, memohon ampunan sekaligus bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Aktivitas berzikir dengan menutup wajah ini disebut tawajjuh atau zikir ismu zat fi qalbi. Ini adalah puncak pendekatan kepada Allah dalam aktivitas suluk. Menutup wajah ini agar jamaah benar-benar kusyuk berdzikir, terfokus mengingat Allah, tanpa terganggu pandangan dari luar,” tutur teungku Saifullah kepada Waspadaaceh.com, yang mengunjungi dayah itu, Minggu (24/4/2022).

Tawajjuh dilakukan empat kali dalam sehari, setelah salat Subuh, Zuhur, Ashar dan terakhir usai salat Tarawih.

Teungku Saifullah mengatakan, suluk dari tarekat Naqsabandiyah itu sendiri diperkenalkan oleh ulama Aceh, Syekh Muda Waly Al Khalidi.

Kegiatan suluk di Dayah Darul Aman ini telah menjadi rutinitas tahunan. Dalam setahun, suluk dilakukan tiga gelombang. Pertama, pada bulan Ramadhan. Kedua, pada bulan Haji atau Zulhijjah. Ketiga, pada musim Maulid, tepatnya saat Rabiul Awal. Selama suluk mereka tinggal di sana, ada yang menjalaninya selama 40 hari, 30 hari, 10 hari.

Pengamatan Waspadaaceh.com, jamaah suluk ini didominasi oleh wanita paruh baya. Peserta suluk bukan hanya dari warga sekitar maupun santri saja. Ada juga peserta datang khusus dari berbagai kabupaten di Aceh.

Teungku Saifullah menjelaskan, peserta yang ingin mengikuti suluk harus mendaftar terlebih dahulu dan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Mereka harus mandi taubat, shalat sunnah taubat dan mengikuti Tarekat Naqsabandiyah.

Jamaah juga tidak bisa sembarangan mengonsumsi makanan. Ada pantangan-pantangan tertentu yang harus diikuti. Jamaah tidak boleh memakan makanan yang berdarah dan mengandung lemak seperti daging dan ikan. Itu bertujuan agar terhindar dari nafsu duniawi dan tidak mengantuk karena pengaruh makanan. Mereka hanya mengonsumsi makanan mengandung nabati seperti sayur-sayuran.

“Aktivitas suluk ini mengurangi tidur semaksimal mungkin. Tidur yang berlebihan akan menyebaban gelapnya hati. Jadi waktu digunakan fokus hanya untuk ibadah,” jelasnya.

Makanan bagi peserta suluk telah tersedia di dapur yang khusus dibikin untuk memenuhi kebutuhan sahur dan berbuka puasa para jamaah.

Teungku Saifullah juga menjelaskan aktivitas suluk tersebut di antataranya shalat fardhu, shalat qadha. shalat tarawih, shalat sunat qabliah maupun ba’diah. Shalat sunat dhuha dan tahajud, tawajjuh, membaca Alquran, membaca nazam obat hati Tarekat Naqsabandiyah. Dalam pelaksanaan suluk para jamaah juga tidak dianjurkan untuk banyak berbicara.

Dalam pelaksaan suluk, tidak hanya memenuhi kebutuhan rohani, namun juga diimbangi oleh kebutuhan jasmani. Para jamaah juga melaksanakan riyadhah pagi yaitu bergotong rotong bersama di pagi hari sebelum melaksanakan shalat sunat dhuha.

Seorang jamaah, warga Aceh Besar, mengatakan dia mengikuti suluk ini karena batinnya terdorong untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri pada Allah melalui zikir.

“Chit na panggilan hate jak ikot sulok nyo, hate tanyo tenang dan tentram. (Mengikuti suluk ini panggilan hati, mendekatkan diri dengan Allah, hati saya jadi tenang dan tentram),” tuturnya dengan bahasa Aceh. (Cut Nauval Dafistri)

VIDEO LAINNYA:

BERBAGI