Beranda Disbudpar Aceh Melirik Kasab Sulam Emas di Aceh Singkil, Nominator API Award 2021

Melirik Kasab Sulam Emas di Aceh Singkil, Nominator API Award 2021

BERBAGI
Pengrajian kasab sulam manik-manik, Asra, bersama putri bungsunya menunjukkan hasil sulaman untuk pakaian pengantin wanita, taplak meja, sarung bantal dan lainnya. (Foto/Arief Helmy)

“Kalau wanita di sini tidak ada yang ke sawah atau kerja lainnya. Semua usaha kasab, karena sudah menjadi mata pencaharian di sini. Anak gadis masih kecil juga sudah mulai ikut membantu”

— Pengrajin Kasab Sulam Emas —

Setiba di tambatan perahu (tangkahan) di Desa Kuala Baru Laut Kecamatan Kuala Baru, setelah menyusuri sungai dengan perahu mesin, mata kami langsung tertuju kepada gapura yang berdiri kokoh, bagaikan menyambut kedatangan jurnalis Waspadaaceh.com. Posisinya persis di persimpangan empat. Gapura itu bertuliskan, “Selamat Datang di Kampung Kerajinan Sulam Manik-Manik Kasab Kuala Baru Laut”.

Ya, desa ini memang sudah terkenal sebagai desa kreatif, di mana banyak pengrajin kasab sulam manik-manik yang tinggal dan melakukan aktivitasnya di desa ini. Sekitar 100 meter dari simpang empat, kami pun tiba di tempat tujuan, yakni kediaman Bu Asra, salah satu pengrajin Kasab Sulam Emas atau sekarang yang lebih dikenal dengan Kasab Sulam Manik-Manik. Karena hasil sulamannya ini, Bu Asra sudah pernah menginjakkan kakinya di Jakarta hingga kota negeri jiran, Kuala Lumpur, Malaysia.

“Kalau umumnya untuk Aceh disebut kasab sulam emas. Tapi khusus hasil kerajinan tangan Kuala Baru, lebih dikenal dengan khasnya, ada sulaman manik-manik nya,” ucap Bu Asra yang kini dipercaya sebagai Ketua Sentra Kelompok Usaha Bersama. Anggota kelompok ini para pengrajin kasab sulam.

Dari dalam lemari kaca dan ruang tengah kediaman Buk Asra, terlihat kilauan pernak-pernik berwarna-warni yang disulam rapi dengan benang emas di atas kain beludru. Manik-manik dengan berbagai bentuk itu dirajut dengan benang emas mengikuti pola dengan corak yang indah dan memiliki nilai estetis dan etnik.

Sulaman benang emas dengan manik-manik ini, membedakan kasab sulam khas Aceh dengan kasab di Kabupaten Aceh Singkil. Awal mulanya kasab sulam Aceh Singkil juga sama dengan umumnya kasab Aceh, hanya rajutan benang emas. Namun belakangan, berkat kreativitas dan inovasi pengrajin, telah dimodernisasi dengan tambahan kilauan manik-manik, hingga lebih dikenal sampai sekarang.

 

“Kalau untuk coraknya sesuai selera dan tergantung permintaan. Kalau khusus khas kasab Aceh Singkil biasa polanya banyak dibuat. Bisa corak bunga talipuk (berdaun lebar menyerupai teratai), dan ada juga pucuk rebung untuk corak baju pengantin,” lanjut Buk Asra yang hidup tanpa suami dalam membesarkan anak-anaknya. Suaminya meninggal dunia tahun 2008 silam.

Ibu lima anak ini mengaku telah menggeluti usahanya itu sejak 40 tahun yang lalu. Semenjak sang suami meninggal dunia, Buk Asra hanya sendiri membesarkan empat putri dan seorang putranya. Dan kini dua putrinya berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi, meraih gelar sarjana. Semua itu berkat usaha kasab sulam manik-manik tersebut.

“Kalau wanita di sini tidak ada yang ke sawah atau kerja lainnya. Semua usaha kasab, karena sudah menjadi mata pencaharian di sini. Anak gadis masih kecil juga sudah mulai ikut membantu,”sebut ibu berusia 58 tahun ini, yang akrab dipanggil Mak Itam.

Menariknya lagi, selain sebagai kerajinan tangan di daerah itu, ternyata kasab sulam manik-manik ini menjadi syarat para anak gadis di kampung tersebut untuk melangsungkan pernikahan. Anak gadis yang akan menikah harus menyulam kasab baru bisa melaksanakan resepsi.

Tradisi itu masih kental sampai saat ini, dan terus turun-temurun. “Tradisi ini dimulai sudah lama sekali, tapi gak tahu juga dari kapan. Pastinya sejak zaman nenek moyang kita dulu,” sebutnya.

Anak gadis diharuskan menyulam sendiri untuk alat perlengkapan pengantinnya, seperti tabir, pakaian pengantin, latar belakang pelaminan dan lainnya. Meski tidak menjadi kewajiban namun karena bisa membuat sendiri sehingga lebih baik disulam sendiri dari pada harus menyewa.

“Kalau sekarang sudah banyak juga yang menyewa, karena banyak kesibukan atau bekerja,” ujarnya.

Banyak jenis kasab sulam manik-manik hasil produksi masyarakat Kecamatan Kuala Baru, selain alat perlengkapan pengantin dan pakaian pengantinnya serta pakaian adat Aceh Singkil. Ada juga menyulam selendang, sandaran kursi, tas, dompet, sarung bantal, sulaman jamba, sarung air mineral, kipas hingga yang terkecil mainan kunci.

Untuk harganya juga bervariasi, dari mulai Rp10 ibu seperti gantungan kunci hingga alas gelas dan tutup gelas. Kemudian untuk selendang, pakaian pengantin bisa mencapai Rp700 ribu bahkan jutaan rupiah dengan modifikasi kain satin yang tidak panas bila dipakai. Ada juga mencapai puluhan juta untuk perlengkapan pelaminan pesta pernikahan komplit.

Bu Asra mengatakan, kalau ada pesanan kasab dalam jumlah besar, biasanya dia akan meminta panjar. Itu dilakukan karena keterbatasan modal untuk pengadaan bahan baku. Bahan bakunya sekarang lumayan mahal. Kalau perlu bahan dengan jumlah besar, bisa belanja langsung ke Medan dan bisa lebih murah harganya, kata Bu Asra.

“Untuk pemasaran kasab, di sini kami juga dibantu oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Aceh Singkil. Jika ada pesanan besar ke Dekranas kami membagi tugas dengan pengrajin di Kuala Baru,” sebutnya.

Hasil kasab manik-manik asal daerah Aceh Singkil ini juga sudah merambah sampai ke Malaysia, Bali, Jakarta, Medan (Sumatera Utara), Padang, Sumatera Barat (Sumbar), Banda Aceh dan Kabupaten tetangga Takengon serta daerah lainnya.

“Ibu Pangdam juga pernah langsung datang ke rumah ini, untuk pesan logo Kodam Iskandar Muda (IM) yang dirajut dengan sulaman kasab manik-manik. Kemudian Ibu Gubernur Nova juga pernah pesan kasab manik-manik di rumah ini,” ucap Bu Asra.

Nominator API Award 2021

Sekretaris Komunitas Generasi Pesona Indonesia (GENPI) Kabupaten Aceh Singkil, Nuraini, yang sempat berbincang dengan Waspada, turut membantu promosi secara digital hasil kerajinan tangan masyarakat Kuala Baru.

Katannya, saat ini hasil sulaman kasab manik-manik Aceh Singkil ini masuk sebagai nominator di Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2021. Kelompok pengrajin ini bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Aceh Singkil.

Dari 135 kabupaten/kota di 27 provinsi di Indonesia, masuk sebanyak 180 usulan nominasi dalam perlombaan.  Selain nominasi ”Festitival Pulau Banyak,” kasab sulam emas Aceh Singkil juga masuk nominasi 10 besar di API Award 2021. “Ini luar biasa, dan semoga bisa mendapat peringkat 3 besar,” ucap Nuraini.

Nuraini menyebutkan, selain Sekretaris GRNPI, dia juga terlibat sebagai pengurus di Dekranasda Aceh Singkil. Sehingga untuk kasab sulam ini, Dekranasda bekerjasama dengan para pengrajin melakukan promosi kasab sulam manik-manik. “Kalau ada pesanan langsung kami hubungkan ke pengrajin, ada juga yang langsung membeli barang pajangan yang ada di Dekranas,” tambahnya

Dengan masuknya kasab sulam dalam ajang API, diharapkan para pengrajin bisa lebih meningkatkan kualitas dan kreativitas hasil kerajinan tangannya. Seperti pembuatan bingkai-bingkai untuk ayat Kursi sehingga bisa dipajang di seluruh rumah, sebagai khas kerajinan tangan asal daerah sendiri. Atau dibuat kreasi yang bisa dijadikan cindremata para pengunjung yang masuk ke Aceh Singkil, harapnya

Kasab sulam manik-manik ini juga sudah banyak memboyong penghargaan untuk Aceh Singkil. Di antaranya, mendapat piagam dari Wali Naggroe dan meraih Juara I dalam ajang perlombaan kategori Pelestari Kerajinan dan Produk Budaya (Papah Buet Jaroe Aneuk Naggroe) dalam bahasa Aceh,  yang diserahkan langsung oleh Tengku Malik Mahmud Al-Haytar tahun 2015 silam.

Kemudian sertifikat dari Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu kepada pengrajin Ibu Asra atas keikut sertaannya pada Indonesia-Malaysia Business Networking, yang diselengarakan oleh Indonesia Archipelago Exibition tahun 2018 di Kuala Lumpur- Malaysia.

Penganugerahan UKM Naik Kelas diserahkan kepada Ibu Asra, atas Usaha Bersama dari Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Provinsi Aceh tahun 2018.

“Kita harapkan, setelah masuk ajang API ini, kedepan selain Malaysia negara lain juga bisa melirik dan menjadi pelanggan kasab sulam ini. Dan Genpi akan terus melakukan promosi secara digital hingga merambah pasar Internasional,” ucap lulusan S2 Unsyiah Banda Aceh ini.

Nominator API 2021 Selain Kasab Sulam Emas

Sebenarnya dari Provinsi Aceh, selain Kasab Sulam Manik-manik dari Kabupaten Aceh Singkil, ada beberapa nominator dari kabupaten lain di Aceh dengan kategori yang berbeda.

Beberapa nominator lain dari Aceh tersebut yakni; Kategori Minuman Tradisional, Kopi Khop  dari Kabupaten Aceh Barat, kategori Promosi Pariwisata Digital: IG@Explore_Gayo – Kabupaten Aceh Tengah, kategori Brand Pariwisata Charming Banda Aceh – Kota Banda Aceh.

Kemudian untuk kategori Destinasi Belanja: Paya Ilang – Kabupaten Aceh Tengah, kategori Cindera Mata: Kasab Sulam Emas – Kabupaten Aceh Singkil, kategori Ekowisata: Ujung Tamiang – Kabupaten Aceh Tamiang, kategori Dataran Tinggi: Sigantang Sira – Kabupaten Aceh Selatan,  kategori Festival Pariwisata: Festival Pulau Banyak – Kabupaten Aceh Singkil, kategori Destinasi Kreatif: Anjungan Tapak Tuan Tapa – Kabupaten Aceh Selatan, kategori Destinasi Unik: Kopi Seladang – Kabupaten Bener Meriah, kategori Destinasi Baru: Air Terjun Silelangit – Kota Subulussalam dan Surga Tersembunyi: Gua Sarang – Kota Sabang.

Berdasarkan data perolehan suara API 2021 untuk periode sampai dengan 31 Agustus 2021, terdapat lima provinsi dengan perolehan poin tertinggi, yaitu Aceh (21 poin), Sumatera Selatan (16 poin), Maluku (10 poin), Sumatera Barat (9 poin) dan Riau (6 poin).

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Jamaluddin, menyebutkan Aceh punya peluang besar untuk keluar sebagai juara umum tahun ini.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Jamaluddin. (Foto/Ist)

“Hingga saat ini Aceh masih di peringkat pertama dan berpeluang untuk menjadi juara umum. Namun, kita jangan terlalu cepat puas. Masa voting masih berlangsung hingga 31 Oktober 2021, provinsi lain juga punya ambisi yang sama untuk menjadi juara umum,” ujar Jamaluddin.

Jamaluddin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berkolaborasi guna membawa pulang predikat juara umum API Award 2021 ke Aceh. “Kami berharap kepada suluruh masyarakat untuk terus mendukung Aceh agar menjadi juara umum pada ajang API 2021. Caranya, dengan melakukan voting kepada masing-masing nominasi yang masuk ke dalam 12 kategori API Award 2021,” pintanya.

Kata Jamaluddin, masuknya Aceh di peringkat pertama berkat kolaborasi strategi dan upaya promosi dengan beragam inovasi yang telah dilakukan selama ini. (Arief Helmy)

BERBAGI