Jumat, Mei 24, 2024
Google search engine
BerandaKabar TaniKetika Musim Panen Tiba, Petani di Aceh Bersuka Cita

Ketika Musim Panen Tiba, Petani di Aceh Bersuka Cita

“Penanganan panen dan pasca panen sangat penting pada komoditas padi karena dapat menentukan kuantitas dan kualitas gabah serta beras yang dihasilkan”

— Kadistanbun Aceh Ir. Cut Huzaimah, MP —

Suara mesin penggilingan menderu keras membisingkan telinga. Di mesin itu, tampak sekumpulan bilah berputar cepat, memisahkan butiran gabah dari tangkainya.

Lima petani terlihat cekatan berkutat dengan aktivitasnya. Sesekali mereka tertawa girang. Tampak seorang petani memasukkan padi bersama tangkainya ke dalam lubang pada mesin, kemudian mesin berputar akan memisahkan antara padi dengan jerami.

“Ini salah satu kegiatan yang kami lakukan ketika panen padi tiba. Setelah memotong padi, kami harus memisahkan padi dengan tangkainya menggunakan mesin ini,” tutur seorang petani.

Pekerja lainnya, tampak dengan sigap mengumpulkan padi, kemudian memasukkannya ke dalam karung. Ada juga yang mengumpulkan jerami kemudian dibawa pulang untuk pakan ternak.

Teriknya mentari tak menyurutkan semangat para petani. Tentu banjir keringat membashi pakaian mereka. Tapi petani ini tetap bersemangat, bahkan mereka masih sempat bersenda gurau sambil bekerja.

Ramli,60, petani yang sudah lama bercocok tanam di desa itu. Dia memakai topi untuk mengurangi rasa panas dari teriknya mata hari. Dia sedang bekerja merontokkan padi dengan menggunakan mesin power thresher.

Jurnalis Waspadaaceh.com menemuinya saat Ramli bersama petani lainnya baru memanen padinya di Desa Bakoi, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar, Jumat, (28/10/2022). Dia kemudian melakukan proses perontokan padi yang baru dipanen.

Ramli, salah seorang petani padi di Desa Bakoi, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Kabupaten Aceh Besar. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

Perawatan Tanaman

Sebelum melanjutkan pekerjaanya, Ramli menjelaskan kepada Waspadaaceh.com, untuk mendapatkan butiran beras sebenarnya memerlukan proses yang panjang. Proses tersebut, meliputi persiapan lahan pertanian, pembibitan padi, penanaman padi, pemeliharaan, pemanenan padi, proses penjemuran, pemisahan padi dari tangkainya (jerami) sampai tahap penggilingan padi hingga menjadi beras.

Ramli mengatakan, setelah padi ditanam kemudian berumur kurang lebih 95 hari atau tiga bulan, biasanya buah padi mulai menguning. Padi menunjukkan tanda-tanda siap dipanen.

“Usia tanaman padi yang siap dipanen dapat berbeda-beda. Ada yang sekitar 100 hingga 120 hari, semuanya tergantung dari jenis bibit padi yang ditanam dan lingkungan di sekitarnya,” tuturnya

Selama ini, kata Ramli, keberadaan alat berteknologi, seperti power thresher, telah mempermudah petani dalam merontokkan padinya. Proses memisahkan antara jerami dengan butiran padi dapat dilakukan dengan waktu yang singkat. Tidak seperti di masa lalu, petani harus melakukannya secara tradisional, sehingga berakibat banyaknya butiran padi yang terbuang.

Kata Ramli, dengan alat power thresher, petani dapat mengurangi jumlah kehilangan gabah saat perontokan. Alat ini juga mampu mengurangi kerusakan butir gabah sehingga petani dapat memperoleh nilai jual yang lebih tinggi.

Menurut Ramli, meski cuaca akhir-akhir ini sulit ditebak, namun kondisi itu menjadi tantangan bagi para petani. Apalagi jika musim hujan saat menjelang panen, petani harus berjuang agar tanaman padinya tidak mengalami kerusakan.

“Meski begitu kita tetap optimis melihat potensi panen padi, meski cuaca tak menentu,” jelasnya.

Ramli menjelaskan, tindakan yang perlu diperhatikan sebelum proses perontokan padi, antara lain memastikan bahwa padi sudah benar-benar kering sebelum dimasukkan ke dalam mesin. Jadi setelah dipanen, padi beserta tangkainya harus dijemur terlebih dahulu agar kering.

“Sebab bila padi masih dalan keadaan basah, maka butiran padi akan sulit untuk dipisahkan dari tangkainya. Akibatnya nanti banyak butiran padi yang terbuang,” kata Ramli.

Dia juga menjelaskan, setelah selesai melakukan perontokan, proses selanjutnya adalah penanganan penggilingan padi. Gabah yang sudah dirontokkan dijemur di atas lantai jemur atau bisa dijemur di atas terpal di bawah panas matahari. Setelah kering, padi tersebut bisa dijual dengan harga berkisar Rp4.500/kg. Bisa juga melakukan proses selanjutnya, yaitu menggilingnya menjadi beras.

Untuk menggiling padi menjadi beras, petani bisa membawanya ke kilang padi besar atau menggunakan jasa kilang padi keliling (Kipakel). Biasanya jasa kipakel ini dapat dipesan untuk datang langsung ke sekitar sawah milik petani.

Kegiatan Ramli sebagai petani padi di Kabupaten Aceh Besar, adalah potret aktivitas para petani di hampir semua daerah di kabupaten/kota di Provinsi Aceh. Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh terus memberikan dukungan kepada para petani sebagai upaya untuk memperkuat program ketahanan pangan.

Distanbun Aceh: Pentingnya Penanganan Panen dan Pasca Panen

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Cut Huzaimah mengatakan, penanganan panen dan pasca panen sangat penting pada komoditas padi karena dapat menentukan kuantitas dan kualitas gabah serta beras yang dihasilkan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh Cut Huzaimah. (Foto/Cut Nauval Dafistri)

Distanbun Aceh terus berupaya mendukung ketersediaan pangan semi kesejahteraan petani dengan menyediakan sarana pendukung untuk kelancaran usaha tani. Misalnya, bibit gratis, pupuk, alat mesin pertanian, pengendalian hama dan penyakit, hingga bimbingan terkait proses panen padi yang tepat waktu.

Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Distanbun Aceh, Sri Mulyani menyebutkan, Distanbun terus memberikan pembinaan atau bimbingan kepada para petani dalam penanganan pasca panen tersebut.

Di Aceh, kata dia, telah ada alat mesin pertanian (Alsintan) bantuan berupa mesin pemotong padi (combine) yang diberikan langsung oleh Kementerian Pertanian. Alat tersebut diberikan ke kabupaten/kota melalui Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA).

Alat mesin pertanian ini dapat memotong padi yang masih bertangkai dalam posisi berdiri, merontokkan padi dan membersihkan gabah dari jeraminya sambil berjalan di sepanjang sawah.

“Alat ini sudah diberikan langsung, dititipkan ke kelompok tani untuk proses pasca panen,” tuturnya.

Distanbun Aceh juga terus meningkatkan kemampuan para petani dengan memberikan penyuluhan, pendampingan dan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas petani. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER