Sabtu, Juli 13, 2024
Google search engine
BerandaGaya HidupKesaksian Aldin NL: Beratnya Tantangan Ibadah Haji di Tengah Banyak Jemaah yang...

Kesaksian Aldin NL: Beratnya Tantangan Ibadah Haji di Tengah Banyak Jemaah yang Wafat

“Jemaah fokus memanfaatkan waktu untuk beribadah hingga tengah malam, sehingga banyak yang kurang tidur”

Suhu yang ekstrem, perjalanan yang melelahkan, dan kondisi fisik yang tak lagi muda menjadi tantangan bagi para jemaah haji Indonesia yang menunaikan ibadah pada musim haji tahun 2024.

Ada banyak jemaah asal Indonesia yang jatuh sakit, bahkan wafat. Tercatat 378 jamaah haji Indonesia meninggal dunia selama ibadah haji tahun ini.

Data ini dipublikasikan oleh Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama (Kemenag) seperti dikutip Waspadaaceh.com, pada Jumat, 5 Juli 2024 pukul 16.00 WIB.

Sebagian besar jemaah yang meninggal dunia adalah lansia, dengan usia tertua 96 tahun. Sedangkan  jemaah termuda yang meninggal dunia berusia 31 tahun. Hampir seluruhnya termasuk dalam kategori kesehatan risiko tinggi (risti), kecuali 30 orang yang tidak termasuk risti.

Aldin NL, jurnalis senior Waspada, salah satu jemaah haji, yang tergabung dalam kloter 4 embarkasi Medan (KNO 4 Medan) berbagi cerita. Dia mengisahkan bagaimana kondisi selama menjalankan ibadah haji tahun ini.

Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh ini bercerita ketika berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armusna) yang membutuhkan energi fisik besar, banyak jemaah haji yang kelelahan, di antaranya meninggal dunia.

Aldin menjelaskan tahapan ibadah haji yang dimulainya saat jemaah memasuki masa ihram dengan niat untuk menjalankan ibadah haji tepat pada tanggal 8 Dzulhijjah, jamaah menuju Arafah dan bermalam.

Kemudian pada 9 Dzulhijjah, seluruh jamaah—yang tahun ini, diperkirakan berjumlah hampir 5 juta jemaah dari seluruh dunia, berkumpul di Padang Arafah untuk wukuf. Waktu wukuf paling afdal untuk berdoa adalah ba’da Zuhur sampai menjelang waktu Magrib. Ini adalah puncak ibadah haji di mana jemaah berdiri di bawah terik matahari, berdoa, berzikir, dan memohon ampunan Allah SWT.

Aldin NL bersama Pimpinan KBIH Multazam As Syafii Medan, Dr Syafii Siregar Lc, MA, saat wukuf di Arafah. (Foto/Ist)

“Kita harus bermalam di sana. Kemudian wukufnya pada tanggal 9 Zulhijjah. Jemaah berdoa setelah shalat Zuhur hingga Maghrib. Di situlah waktu paling mustajab untuk berdoa,” jelasnya.

Ustaz Dr Safi’i Siregar, pimpinan KBIH Multazam As-Syafii Medan, dalam ceramah wukuf, kutip Aldin NL, Allah beserta malaikatnya turun langsung saat wukuf dan Allah SWT malu bila menolak doa ummatnya saat Wukuf Arafah. Artinya, semua permintaan dan doa – doa kita didengar dan diterima Allah SWT. Makanya, dia menganjurkan agar jemaah memanfaatkan waktu tersebut untuk berdoa sambil curhat kepada Allah.

” Di tempat ini kita tak boleh pesimis. Harus yakin, kita berdoa ditempat yang terbaik di dunia. Dan Allah akan malu kalo tidak mengijabah doa-doa kita,” tegas ustaz Safi’i Siregar Lc, MA , yang tercatat sebagai alumni Madinah tersebut.

Suasana di Musdalifah, Makkah. (Foto/Ist)

Namun, menurut Aldin, kondisi tenda di Arafah yang sempit dan over kapasitas menjadi tantangan tersendiri. Wartawan ini menggambarkan suasana yang penuh sesak dan betapa jemaah harus berjuang untuk tetap khusyuk dalam beribadah di tengah kondisi panas tersebut.

Setelah wukuf di Arafah, malamnya diangkut dengan mobil rombongan jemaah melanjutkan perjalanan ke Muzdalifah. Seluruh jemaah, tua muda, kaya miskin berpangkat atau tidak, berkumpul dan bermalam (mabit) di Musdalifah. Tidur beralas karpet tanpa tenda. Setelah mabit, jemaah menunggu giliran mobil jemputan menuju Mina dalam rangkaian melempar jumrah.

“Saat menunggu mobil jemputan, jamaah, fokus memanfaatkan waktu itu untuk berzikir dan ibadah lainnya. Dan banyak yang kurang tidur,” tuturnya.

Pada tanggal 10 Zulhijjah, (tengah malam) jemaah berangkat menuju ke Mina sebelum Subuh untuk melaksanakan lempar jumrah aqabah, dengan berjalan kaki sejauh sekitar 7 Km.

Aldin, yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Multazam As-Syifii Medan menginap di hotel kawasan Mina yang jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari lokasi jumrah.

“Rombongan kami banyak yang tidak bermalam di Mina, melainkan kembali ke hotel. Berikutnya untuk lempar jumrah hari ke dua dan tiga, jemaah berangkat jalan kaki menuju Mina dan bermalam (mabit) selama tujuh jam,” jelasnya.

Mina terletak di antara Kota Makkah dan Muzdalifah, sekitar 4 Km dari Masjidil Haram dan 7 Km dari Muzdalifah. Mina merupakan tempat bagi Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putranya, yaitu Nabi Ismail.

Saat di Mina untuk melempar jumrah aqabah, suasana umumnya sangat ramai dan penuh dengan jemaah haji yang berkumpul dari seluruh dunia.

“Saya melihat banyak yang meninggal dunia karena kelelahan fisik. Jemaah yang memiliki risiko tinggi ini tetap ingin menjalankan semua rangkaian ibadah haji, padahal rukun haji ini bisa dibadalkan atau diwakilkan saat hendak melempar jumrah,” tambah Aldin.

Ditambah lagi, lanjut Aldin, jalan yang menanjak dan masuk ke dalam terowongan yang padat dengan jemaah menyebabkan kurangnya pasokan oksigen.

Selain faktor kelelahan, cuaca ekstrem juga menjadi penyebab. Suhu di Tanah Suci saat itu mencapai 40-50 derajat celsius pada siang hari, dan sekitar 36-37 derajat celsius pada malam hari.

“Jadi selain kelelahan para jemaah haji yang rata-rata sudah lansia harus bertarung dengan suhu panas ekstrem. Paling tidak kami harus sering minum dan mengonsumsi oralit untuk daya tahan tubuh, agar cairan tubuh tercukupi,” jelasnya.

Aldin yang menjabat Kepala Perwakilan Harian Waspada di Banda Aceh ini merasa bimbingan dari KBIH Multazam As-Syafii selama ia menjalankan ibadah haji sangat baik. Menurutnya bimbingan intensif yang diberikan oleh KBIH Multazam mulai dari sebelum keberangkatan (manasik) sangat membantu para jemaah untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik dengan baik.

Dia menyarankan calon jemaah haji ke depannya untuk memperhatikan pemilihan KBIH yang berpengalaman sehingga mendapat bimbingan dan persiapan yang matang dan dapat mengatasi risiko selama menjalankan ibadah haji.

“Ibadah haji memang memiliki tantangan berat, tetapi dengan persiapan dan bimbingan yang baik, risiko-risiko ini dapat diminimalisir,” tutup Aldin. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER