Suka Makmue (Waspada Aceh) – Kebakaran lahan dan hutan (Karhutla) yang melanda wilayah Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, tercatat telah melahap area seluas 70 hektare dalam kurun waktu sejak 29 Mei hingga 3 Juni 2026.
Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nagan Raya, meskipun sebagian besar titik api telah berhasil dikendalikan, masih tersisa sekitar 20 hektare lahan yang terus dipantau dan dipadamkan oleh gabungan petugas di lokasi kejadian.
Kepala Pelaksana BPBD Nagan Raya, Irfanda Rinadi, mengungkapkan perkembangan terkini penanganan bencana kebakaran tersebut saat memberikan keterangan pers pada Kamis (3/6/2026).
Menurutnya, dari total luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 70 hektare, tim gabungan telah berhasil memadamkan api di area seluas 50 hektare. Saat ini, upaya pemadaman masih difokuskan pada sisa seluas 20 hektare yang masih menyala, di dua kecamatan yang terdampak paling parah.
“Karhutla ini tercatat terjadi sejak tanggal 29 Mei lalu dan terus meluas hingga mencapai 70 hektare. Namun, berkat kerja cepat tim, 50 hektare sudah aman dan api sudah padam. Sekarang kami masih memfokuskan seluruh tenaga yang ada di sisa 20 hektare yang masih terbakar,” ujar Irfanda.
Api kebakaran dilaporkan melanda dua wilayah kecamatan, yaitu Gampong Kaye Unoe di Kecamatan Darul Makmur, serta Gampong Babah Lueng yang masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tripa Makmur. Kedua lokasi tersebut menjadi titik utama penyebaran api yang terus diawasi ketat oleh petugas.
Irfanda juga memperingatkan bahwa ancaman perluasan kebakaran masih sangat besar dan tidak bisa diabaikan. Kondisi cuaca yang sedang berada pada fase kemarau dengan suhu udara yang cukup panas, disertai hembusan angin yang cukup kencang, menjadi faktor utama yang membuat api berpotensi berpindah ke area lain dengan sangat cepat. Faktor alam ini juga menjadi kendala terberat bagi petugas di lapangan.
“Kondisi cuaca sangat tidak mendukung. Panas yang tinggi dan angin yang kencang membuat api mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Belum lagi tantangan dari segi pasokan air. Di lokasi kejadian, sumber air terbatas dan agak jauh jangkauannya, sehingga proses pemadaman berjalan lebih lambat dan lebih sulit dibandingkan kondisi normal,” jelas Irfanda Rinadi, menjabarkan kendala teknis yang dihadapi tim di lapangan.
Guna mengatasi keterbatasan sumber air tersebut dan mempercepat proses pemadaman, pihak BPBD Nagan Raya telah mengerahkan bantuan peralatan berupa 2 unit mesin pompa air yang disebarkan di titik-titik kritis. Alat ini berfungsi untuk memindahkan air dari sumber terdekat menuju lokasi kebakaran agar pasokan air untuk memadamkan api tetap terjaga.
Penanganan Karhutla ini tidak hanya menjadi tanggung jawab BPBD semata, melainkan melibatkan kolaborasi lintas instansi dan unsur keamanan.
Irfanda menyebutkan bahwa tim gabungan yang bertugas di lokasi terdiri dari personil BPBD Nagan Raya, anggota Polres Nagan Raya, personel Kodim Nagan Raya, tim Manggala Agni, hingga personel Brimob Batalyon C Pelopor.
Seluruh unsur tersebut bekerja secara terkoordinasi untuk melakukan pemadaman langsung, pengawasan penyebaran api, hingga upaya pencegahan agar api tidak merambah ke pemukiman warga maupun lahan pertanian warga.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus berada di lokasi dan berupaya sekuat tenaga agar sisa kebakaran seluas 20 hektare tersebut dapat segera dipadamkan sepenuhnya, sebelum cuaca semakin memburuk dan membuat api semakin sulit dikendalikan.
Pihak berwenang juga mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dan tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan yang dapat memicu kebakaran lebih luas. (*)



