Pidie (Waspada Aceh) – Polisi masih memburu sejumlah orang yang masuk daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus pengungkapan laboratorium gelap produksi sabu di Kabupaten Pidie, Aceh. Aparat juga berkoordinasi dengan otoritas Tiongkok untuk mengejar pengendali utama jaringan narkotika internasional tersebut.
“Tim saat ini masih memburu para daftar pencarian orang (DPO) meliputi pengatur lapangan berinisial Z, ES, J, BR, SS serta berkoordinasi dengan NNCC Tiongkok untuk menangkap pengendali utama,” kata Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto dalam konferensi pers di sekitar lokasi penggerebekan pabrik sabu di Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, Jumat (23/10/2026).
Selain memburu para buronan, penyidik akan mendalami bukti digital dari enam telepon genggam yang disita di lokasi laboratorium. Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk mengungkap komunikasi dan keterlibatan pihak lain dalam jaringan tersebut.
“Kami akan mendalami forensik digital terhadap enam telepon genggam yang ditemukan di TKP dan menerapkan pasal tindak pidana pencucian uang atau TPPU guna memiskinkan seluruh jaringan ini,” ujar Suyudi.
Laboratorium gelap itu terbongkar di sebuah ruko di Gampong Beureueh Dua, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie. Dalam operasi tersebut, petugas menyita sekitar 500 kilogram sabu kristal, 20 drum berisi cairan yang diduga mengandung metamfetamina, serta bahan lain dengan total barang bukti dilaporkan mencapai sekitar 1,2 ton bruto.
Petugas juga mengamankan 60 kaleng bermerek Titan Pro, empat kompor dua tungku, tujuh tabung gas berkapasitas 12 kilogram, tiga mesin cuci, dan enam telepon genggam.
Kepolisian memperkirakan nilai ekonomis barang bukti mencapai Rp2,16 triliun berdasarkan asumsi harga Rp1,8 juta per gram.
Pengungkapan tersebut merupakan hasil operasi gabungan yang melibatkan Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, serta dukungan masyarakat. Polisi masih mengembangkan penyidikan untuk mengungkap seluruh pihak yang diduga terlibat dalam jaringan narkotika tersebut. (*)



