Banda Aceh (Waspada Aceh) – Museum Aceh resmi membuka pameran temporer bertajuk “Hands of Time (Tangan-Tangan Terampil): Commodities, Power, Identity” di Gedung Pameran Temporer Lantai 2 Museum Aceh, Kamis (18/6/2026).
Pameran ini mengangkat perjalanan sejarah Aceh melalui komoditas, keterampilan para perajin, hingga benda-benda yang menjadi simbol kekuatan dan identitas budaya.
Berbagai koleksi dipamerkan, mulai dari minyak nilam, kopi Gayo, perhiasan emas, koin emas, rencong, siwah, ukiran kayu, hingga benang sutera. Koleksi tersebut menggambarkan bagaimana masyarakat Aceh mengolah hasil alam menjadi komoditas bernilai ekonomi sekaligus warisan budaya.
Salah satu koleksi yang mencuri perhatian pengunjung adalah perhiasan emas peninggalan masa lampau. Beragam kalung, gelang, cincin, hingga aksesori tradisional dipamerkan dalam etalase khusus.
Salah seorang pengunjung, Elza, mengaku tertarik mengamati koleksi perhiasan emas tersebut. Menurutnya, koleksi itu menjadi bukti bahwa Aceh pernah berada pada masa kejayaan dengan tingkat kemakmuran yang tinggi.
“Kalau melihat koleksi emas ini, saya jadi membayangkan Aceh dulu sangat kaya. Perhiasannya indah dan detail, menunjukkan bahwa masyarakat saat itu memiliki keterampilan tinggi sekaligus kehidupan yang makmur,” kata Elza saat ditemui di lokasi pameran.
Ia menilai pameran ini memberi pengalaman baru untuk mengenal sejarah Aceh dari sisi yang berbeda. Selama ini, sejarah Aceh lebih banyak dikenal melalui kisah kerajaan dan peperangan, padahal masih banyak peninggalan budaya yang menunjukkan kemajuan peradaban masyarakatnya.
Dalam keterangan yang disampaikan Museum Aceh, sejarah Aceh tidak hanya dibentuk oleh kekuasaan dan peperangan, tetapi juga oleh tangan-tangan terampil masyarakat yang mengolah hasil alam menjadi komoditas, karya seni, dan simbol identitas budaya.
Pameran “Hands of Time” terbuka untuk umum di Gedung Pameran Temporer Lantai 2 Museum Aceh dan diharapkan dapat menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat perjalanan sejarah dan kekayaan budaya Aceh. (*)



