BerandaAcehGuru Besar USK: Konektivitas Sabang-Andaman Buka Peluang Baru bagi Ekonomi Aceh

Guru Besar USK: Konektivitas Sabang-Andaman Buka Peluang Baru bagi Ekonomi Aceh

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Rencana pengembangan konektivitas Pelabuhan Sabang dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar, India, dinilai membuka peluang baru bagi Aceh untuk keluar dari pertumbuhan ekonomi yang selama ini cenderung melambat.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala (USK), Prof. Dr. Rustam Effendi, menyebut posisi strategis Sabang dapat menjadi pengungkit ekonomi jika dimanfaatkan secara maksimal.

Menurut Rustam, dukungan Presiden Prabowo Subianto terhadap pengembangan Pelabuhan Sabang sebagai penghubung Indonesia dengan Kepulauan Andaman dan Nikobar merupakan momentum yang harus dimanfaatkan untuk mendorong perdagangan, investasi, logistik, dan pariwisata di Aceh.

“Ini merupakan sinyal strategis bahwa Sabang tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran, melainkan gerbang ekonomi Indonesia di kawasan barat,” kata Rustam kepada Waspadaaceh.com, Jumat (10/7/2026).

Ia menjelaskan, selama ini pertumbuhan ekonomi Aceh masih bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah. Sementara itu, investasi produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan masih relatif terbatas.

Padahal, letak geografis Aceh yang berada di jalur pelayaran internasional menjadi modal penting untuk memperluas akses pasar berbagai komoditas unggulan daerah, seperti kopi, nilam, hasil perikanan, dan produk pertanian.

Meski demikian, Rustam mengingatkan peluang tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila diikuti dengan peningkatan kualitas produk, kapasitas produksi, standar mutu, serta sistem logistik yang memadai.

Ia menegaskan pembangunan pelabuhan saja tidak cukup untuk menciptakan dampak ekonomi yang signifikan. Pemerintah juga perlu mengembangkan kawasan industri dan industri pengolahan agar komoditas Aceh memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan ke luar daerah maupun luar negeri.

“Tanpa industri pengolahan, Aceh hanya akan menjadi tempat lalu lintas barang, bukan pusat penciptaan nilai tambah,” ujarnya.

Rustam juga mendorong pemerintah daerah memanfaatkan momentum tersebut dengan memperbaiki iklim investasi melalui penyederhanaan perizinan, penyediaan infrastruktur pendukung, dan kepastian hukum bagi investor.

Selain itu, pengembangan kawasan industri, pusat logistik, dan pusat distribusi dinilai penting agar Aceh mampu terhubung dengan pasar regional maupun internasional.

Menurutnya, konektivitas Sabang-Andaman berpotensi menarik investasi baru, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mempercepat pertumbuhan ekonomi Aceh.

Namun, Rustam mengingatkan keberhasilan pengembangan kawasan tersebut membutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS), pelaku usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat.

“Jika dikelola secara serius, Sabang dapat menjadi pintu masuk pertumbuhan ekonomi baru yang membawa Aceh keluar dari pertumbuhan yang selama ini relatif lambat,” tutupnya. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER