BerandaNasionalGuncangan Caracas Merambat ke Jakarta

Guncangan Caracas Merambat ke Jakarta

Muncul kekhawatiran di tengah masyarakat dan kalangan politik, apakah skenario intervensi serupa berpotensi terjadi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo? 

Oleh: Firdaus, M.Si

Penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro di Caracas, oleh militer Amerika Serikat dalam operasi bertajuk “Operation Absolute Resolve” pada 3 Januari 2026, bukan sekadar berita perubahan kekuasaan di belahan bumi selatan. Peristiwa itu memicu efek domino global yang getarannya kini mulai terasa hingga ke Jakarta.

Di mata dunia internasional, aksi tersebut semakin mempertegas citra hukum internasional yang dinilai timpang atau “tebang pilih”. Aroma impunitas terasa sangat kuat, memunculkan persepsi bahwa hukum internasional sering kali hanya tajam untuk menundukkan pihak yang lemah, namun tumpul di hadapan kekuatan hegemoni global.

Bagi para pemimpin di negara-negara dunia ketiga, peristiwa di Caracas, Venezuela, mengirimkan pesan yang sangat jelas dari Washington: ada konsekuensi berat yang menanti bagi siapa saja yang berani berseberangan dengan kebijakan Gedung Putih.

Kekhawatiran Merambat ke Dalam Negeri

Getaran politik dari Amerika Selatan itu pun mulai membayangi lanskap geopolitik di Indonesia.

Muncul kekhawatiran di tengah masyarakat dan kalangan politik, apakah skenario intervensi serupa berpotensi terjadi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto?

Di tengah spekulasi tersebut, berkembang persepsi bahwa Jakarta perlu lebih adaptif dan cermat dalam menempatkan diri terhadap kepentingan Amerika Serikat, demi menjaga stabilitas kekuasaan dan keamanan nasional.

Merespons dinamika global yang semakin tak menentu ini, Presiden Prabowo Subianto segera melakukan konsolidasi kekuatan internal. Penguatan koordinasi antara TNI dan Polri dilakukan secara masif di berbagai lini, mulai dari sektor hukum, politik, ekonomi, hingga pengamanan program-program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pola komunikasi kepresidenan pun dirombak. Melibatkan berbagai tokoh lintas disiplin ilmu dan pemikir. Upaya ini ditujukan untuk meredam keresahan masyarakat serta menegaskan kepemimpinan nasional di tengah badai informasi.

Diplomasi Pragmatis dan Polemik Dalam Negeri

Di sisi lain, Presiden Prabowo mulai menunjukkan wajah diplomasi yang lebih pragmatis.

Pendekatan yang lebih erat dilakukan dengan Rusia, terutama dalam upaya mengamankan stabilitas energi dalam negeri yang menjadi tulang punggung ekonomi.

Namun, berbagai manuver strategis ini tak pelak memicu panasnya suhu politik di dalam negeri. Sejumlah tokoh publik, seperti pendiri SMRC Saiful Mujani dan pengamat keamanan Islah Bahrawi, secara terbuka melontarkan kritik tajam. Berbagai narasi bahkan berkembang hingga menggulirkan wacana mosi tidak percaya yang semakin memanaskan ruang politik domestik.

Situasi ini kian kompleks lantaran peran Ketua DPR RI dinilai belum sepenuhnya fokus mengonsolidasikan dukungan bagi pemerintah. Justru yang menjadi sorotan adalah upaya penguatan pengaruh personal melalui pengaturan posisi-posisi strategis di birokrasi, kepolisian, hingga jajaran BUMN, seolah tengah merangkak menyusun kekuatan tersendiri.

Strategi Menghadapi Gejolak

Guna menghadapi ketidakpastian global dan dinamika domestik tersebut, terdapat sejumlah langkah strategis yang dinilai perlu segera diambil untuk menjaga stabilitas negara:

Pertama, membendung segala isu yang berpotensi mengguncang pemerintahan. Kendali tunggal harus tetap kokoh di tangan Presiden, sekaligus memangkas peran “makelar politik” yang kerap bermain di parlemen.

Kedua, perlu adanya pembatasan dan penataan peran ketua umum partai politik yang menjadi utusan di DPR, agar fokus kerja legislasi dan pengawasan tidak terganggu oleh kepentingan kekuasaan partai semata.

Ketiga, melakukan pembenahan total dalam perang informasi di media sosial. Menertibkan peran buzzer atau pihak-pihak yang kerap menjadi bumerang dan merusak citra pemerintah sendiri.

Keempat, mengoptimalkan peran media nasional dan ekosistem startup teknologi secara terstruktur hingga ke tingkat desa. Upaya sistematis ini diperlukan untuk memenangkan narasi publik sebelum dampak ketidakpastian global benar-benar mengganggu sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sesungguhnya masa depan bangsa tidak ditentukan oleh badai yang datang dari luar, melainkan oleh seberapa kokoh persatuan dan kedaulatan yang kita jaga dari dalam. Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar sebuah negeri terletak pada kemampuannya berdiri tegak di atas kaki sendiri. (*)

  • Penulis, Firdaus, M.Si, adalah Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat.
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER