BerandaAcehGPIB Banda Aceh Peringati 30 Tahun Relokasi, Canangkan Gereja Tangguh Bencana

GPIB Banda Aceh Peringati 30 Tahun Relokasi, Canangkan Gereja Tangguh Bencana

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Tiga dekade setelah berpindah ke lokasi gereja yang digunakan hingga kini, Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Banda Aceh tidak hanya memperingati perjalanan relokasi gereja. Momentum tersebut juga digunakan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana sekaligus membangun jejaring kemanusiaan lintas iman.

Hal itu ditandai dengan pencanangan Gereja Tangguh Bencana dalam perayaan 30 Tahun Relokasi Gedung Gereja GPIB Banda Aceh di halaman gereja, Jalan Pocut Baren, Kelurahan Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Minggu (20/9/2026).

Pendeta sekaligus Ketua Majelis Jemaat GPIB Banda Aceh, Pdt. Yoel Robert Rampengan, mengatakan pencanangan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kesiapsiagaan di lingkungan gereja. Program itu diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun komunitas yang mampu bertahan dan saling membantu ketika bencana terjadi.

“Jadi, gereja tangguh bencana bukan hanya soal pernah melewati masa lalu, tetapi kita sekarang dan ke depannya mau membentuk satu komunitas yang bisa bertahan dalam kondisi bencana apa pun,” kata Pdt Yoel.

Menurut dia, GPIB Banda Aceh memiliki sejarah panjang dalam menghadapi berbagai peristiwa kebencanaan. Sebelum tsunami 2004, jemaat juga telah mengalami sejumlah peristiwa, termasuk gempa bumi dan kebakaran gedung serbaguna gereja.

GPIB Banda Aceh sendiri merupakan kelanjutan dari gereja Protestan pada masa Hindia Belanda atau Indische Kerk. Menurut Pdt Yoel, gereja tersebut sebelumnya berada di kawasan yang kini menjadi Taman Adipura Banda Aceh dan area halaman Kodim.

Pada 16 September 1996, gereja kemudian berpindah ke gedung yang saat ini digunakan.

“30 tahun lalu, tepatnya tanggal 16 September 1996, Gereja GPIB pindah ke gedung gereja yang sekarang. Tahun ini kita merayakan relokasinya, tetapi bukan hanya mau merayakan gedung. Kita mau merayakan gereja dan jemaatnya sebagai satu kesatuan umat,” ujarnya.

Belajar dari pengalaman bencana

Pengalaman menghadapi bencana tersebut menjadi salah satu alasan GPIB Banda Aceh mulai membangun kesadaran kebencanaan dari lingkungan internal gereja.

Yoel mengatakan edukasi akan diarahkan tidak hanya kepada orang dewasa, tetapi juga anak-anak. Mereka perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi, termasuk mengenali titik kumpul dan mengikuti pelatihan kebencanaan.

Menurutnya, pengetahuan tersebut nantinya diharapkan tidak berhenti di lingkungan gereja.

“Mulai dari pendidikan kepada anak-anak supaya mereka juga tahu bagaimana menghadapi bencana, titik kumpul di mana, kalau ada bencana harus bagaimana, sampai kemudian pelatihan-pelatihan,” katanya.

Pengetahuan dan keterampilan itu, kata pdt Yoel, diharapkan menjadi modal bagi jemaat untuk dapat membantu masyarakat sekitar ketika terjadi bencana.

Bagi GPIB Banda Aceh, kesiapsiagaan juga tidak dapat dibangun sendiri. Jejaring dengan berbagai kelompok masyarakat menjadi bagian penting dari gerakan tersebut.

Dalam perayaan 30 tahun relokasi itu, gereja mengundang berbagai pihak untuk hadir dalam ramah tamah, termasuk unsur masyarakat dan kelompok keagamaan lainnya.

“Kita membangun sisi kemanusiaan, sisi persaudaraan, dan sisi persahabatan sebagai satu warga bangsa dan warga negara,” ujarnya.

Bagi Pdt Yoel, keberadaan GPIB Banda Aceh juga memiliki makna lebih luas di tengah kehidupan masyarakat Kota Banda Aceh yang beragam.

Meski jumlah jemaatnya tidak besar, ia berharap gereja dapat menjadi salah satu simbol keberagaman dan ruang perjumpaan antarmanusia.

“Walaupun kami merupakan komunitas yang tidak terlalu besar, tetapi gereja ini menjadi simbol keberagaman. Artinya, dengan cinta kita bisa berkolaborasi bersama tanpa ada prasangka,” katanya.

Ia mengatakan prinsip tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan isu kebencanaan. Dalam situasi bencana, bantuan dan penanganan korban tidak semestinya dibatasi oleh identitas agama, kelompok maupun latar belakang seseorang.

“Justru karena kita bekerja sama lintas iman, lintas sektor, dan dengan berbagai macam pihak, kita mau menghargai orang karena orang adalah manusia,” ujarnya.

Menurut Yoel, pendekatan tersebut juga berkaitan dengan cara manusia memperlakukan alam. Dalam ibadah syukur yang digelar sebelum rangkaian ramah tamah, jemaat diajak merenungkan peran manusia terhadap alam ciptaan.

Karena itu, isu lingkungan dan kebencanaan ditempatkan sebagai bagian yang saling berkaitan. “Bagaimana kita merawat ciptaan, itu juga menjadi perhatian dari gereja dan gerakan tangguh bencana,” katanya.

Ia berharap kesadaran menjaga lingkungan berjalan beriringan dengan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai ancaman bencana.

Perayaan 30 tahun relokasi GPIB Banda Aceh diawali dengan ibadah yang dipimpin  Pdt. Henry Teddy Tamaela, S.Si.(Teol)., M.A., Ketua I Majelis Sinode Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB). Selanjutnya, pada siang hari, kegiatan dilanjutkan dengan ramah tamah serta penampilan seni, termasuk paduan suara dan pertunjukan dari anak-anak.

Sejumlah undangan, tokoh masyarakat, unsur Forkopimda, dan perwakilan DPRK Banda Aceh turut hadir dalam kegiatan tersebut. Pantauan Waspadaaceh.com, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana kekeluargaan. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER