Manado (Waspada Aceh) – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi pada Senin pagi tadi (8/6/2026) berdampak nyata bagi wilayah Sulawesi Utara.
Selain memicu gelombang tsunami setinggi kurang dari satu meter, guncangan tersebut juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan tempat tinggal dan fasilitas umum di kepulauan bagian utara provinsi ini.
Berdasarkan data resmi yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Utara, ketinggian gelombang tsunami yang terbentuk akibat gempa bervariasi di setiap titik pemantauan pesisir. Gelombang tertinggi tercatat di wilayah Talengen, Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), mencapai 0,75 meter dan teramati sekitar pukul 09.20 WITA.
“Tertinggi di Talengen, Kabupaten Kepulauan Sitaro, dengan ketinggian 0,75 meter sekitar pukul 09.20 WITA,” tegas Kepala BPBD Sulawesi Utara, Adolf Tamengkel, dalam keterangan persnya.
Selain di Sitaro, gelombang tsunami dengan ketinggian lebih rendah juga terdeteksi di lokasi lain. Di Melogguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, gelombang tercatat setinggi 0,32 meter. Di Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, tinggi gelombang mencapai 0,3 meter.
Pemantauan juga mencatat gelombang setinggi 0,29 meter di Kota Bitung dan 0,18 meter di wilayah lain di Sitaro. Menurut pemutakhiran data sensor alat pengukur pasang surut, gelombang yang terbentuk tergolong kecil dan tidak berpotensi menimbulkan kerusakan parah.
Di sisi lain, dampak guncangan gempa secara langsung menyebabkan kerusakan pada lebih 30 unit bangunan yang tersebar di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud. Bangunan yang terdampak terdiri dari rumah tempat tinggal warga, gedung gereja, sekolah, hingga rumah dinas tenaga pendidik.
Adolf Tamengkel menyampaikan rincian kerusakan menunjukkan bahwa wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe menjadi yang paling banyak terdampak. Di sana tercatat 20 unit rumah warga mengalami kerusakan, disusul satu unit rumah dinas guru dan dua unit gedung gereja yang rusak.
Sementara itu, di Kabupaten Kepulauan Talaud, kerusakan dilaporkan terjadi di Kecamatan Rainis, di mana banyak rumah warga mengalami kerusakan akibat guncangan.
Diketahui, gempa berjenis dangkal ini terjadi pada pukul 06.37 WIB dengan pusat gempa berada di kedalaman 47 kilometer, sebelah barat laut Pulau Karatung. Kejadian ini sempat memicu kekhawatiran luas dan membuat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengaktifkan status Siaga hingga Waspada tsunami yang mencakup wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, hingga Kalimantan Timur.
Merespons potensi bahaya tersebut, pemerintah daerah bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, dan relawan telah bergerak cepat mengimbau masyarakat untuk menjauhi garis pantai dan mengevakuasi diri ke tempat yang lebih tinggi. Langkah antisipasi ini dilakukan meskipun hasil pemantauan menunjukkan gelombang tsunami yang terjadi tidak mencapai tingkat berbahaya.
Hingga siang hari, tim gabungan BPBD di lapangan terus melakukan pemantauan dan pendataan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada kerusakan tersembunyi maupun korban jiwa. Pihak berwenang memastikan situasi di lapangan terkendali dan mengimbau masyarakat tetap tenang serta mengikuti informasi resmi yang disampaikan melalui saluran komunikasi pemerintah. (*)



