Beranda Entertainment Dirjen Kebudayaan: Milenial Perlu Nonton Film Tjoet Nja’ Dhien

Dirjen Kebudayaan: Milenial Perlu Nonton Film Tjoet Nja’ Dhien

BERBAGI
Kanan ke Kiri: Pendiri Atjeh Conncetion Amir Faisal, Christine Hakim, Ketua KPU Ilham Saputra, Dirjen kebudayaan Kemendikbud Himar Farid di Plaza Senayan Jakarta, Minggu (23/5/2021). (Foto/Ist)

Jakarta – Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar Farid, menyatakan pesan yang disampaikan kepada penonton dalam film Tjoet Nja’ Dhien sangat luar biasa.

Hilmar yang sudah menonton film ini berkali-kali menyatakan tidak pernah bosan menikmati adegan demi adegan dengan sutradara dan aktor terbaik yang tampil dalam film berdurasi sekitar 110 menit ini. Fay – sapaan akrab Hilmar Farid – mengajak generasi milenial menonton film kolosal ini setelah direstorasi di Belanda.

Dari film Tjoet Nja’ Dhien, ungkapnya ada semangat untuk terus berjuang dari sosok perempuan yang memimpin perjuangan melawan kolonial Belanda. Film ini adalah salah satu mahakarya film anak bangsa Indonesia.

“Generasi milenial perlu menonton film bermutu ini. Banyak pesan-pesan moral yang bisa dipetik dari film sejarah ini,” ungkap Hilmar Farid usai nobar yang digagas oleh The Atjeh Connection di Plaza Senayan, Jakarta, Minggu (23/5/2021).

Pendiri The Atjeh, Amir Faisal Nek Muhammad, inisiator nobar film ini menyatakan pada tahap awal nobar ini terbatas di Studio Premiere Plaza Senayan Jakarta. Dari kapasitas 60 kursi hanya untuk 20 penonton. Selanjutnya, ungkap Amir Faisal, akan ada nobar dengan penonton milenial mewakili 34 provinsi, lintas etnik, agama dan sebagainya.

“Tjoet Nja’ Dhien adalah milik bersama bangsa Indonesia.. Generasi milenial dapat memetik pelajaran dari narasi film ini untuk masa kekinian. Dari dialog-dialog dalam film ini selalu ada rasa optimis untuk bangkit,” ajak Amir Faisal.

Christine Hakim, aktris utama film Tjoet Nja Dhien yang hadir pada nobar ini mengucapkan terima kasih atas nobar film yang pertama diselenggarakan. Menurutnya, restorasi film ini sangat menguras energi dan waktu dan akhirnya bisa ditayangkan.

Ketika disinggung poster film ini tidak menampilkan wajah Tjoet Nja’ Dhien seperti poster 33 tahun lalu, Christine menjawab sengaja dengan poster terbaru.

“Di belakang gambar Pang Laot ada wajah samar yakni pengkhianat yang selalu ada di sepanjang masa dan kita harus waspadai,” jelas Kak Cut Christine Hakim.

Alzena Zafira salah satu penonton film itu menyatakan film ini sangat bagus dengan karakter tokoh yang sangat pas diperakan oleh Christine Hakim. Generasi milenial ini menyatakan film mudah dipahami alur ceritanya dan dengan durasi sekitar 2 jam tidak membosankan ditonton.

“Semoga dengan reborn film Tjoet Nja Dhien sebagai langkah awal bangkitnya film bermutu lagi seperti film Sunan Kalijaga dan lain-lain,” harap gadis 16 tahun ini.

Penayangan perdana film ini pada Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, dihadiri oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Film Tjoet Nja Dhien meraih 8 Piala Citra di Festival Film Indonesia (FFI) pada 1988 untuk Sutradara Terbaik (Eros Djarot), Pemeran Wanita Terbaik (Christine Hakim), Skenario Terbaik (Eros Djarot), Cerita Asli Terbaik (Eros Djarot), Tata Sinematografi Terbaik (George Kamarullah), Tata Artistik Terbaik (Benny Benhardi), dan Tata Musik Terbaik (Idris Sardi). (Ria)