Beranda Sumut Dilema Kenaikan Harga Pakan: Petani Jagung Gembira, Peternak Ayam Menjerit

Dilema Kenaikan Harga Pakan: Petani Jagung Gembira, Peternak Ayam Menjerit

BERBAGI
Ketua Forda UKM Sumatera Utara, Sri Wahyuni Nukman, ketika mengunjungi lokasi peternakan ayam di Sumatera Utara. (Foto/Ist)

Medan (Waspada Aceh) – Memasuki akhir Ramadhan 2021 ini, para peternak ayam di Sumatera Utara, khususnya di sekitar Deliserdang dan Serdang Bedagai, Sumatera Utara, mengeluh dan terancam gulung tikar.

Hal itu teradi karena adanya kenaikan harga pakan di pasaran. Di satu sisi, kenaikan harga pakan juga mengungtungkan para petani jagung, karena harga jualnya naik. Tapi di lain sisi, terjadi peningkatan biaya produksi peternak ayam. Sedangkan untuk menaikkan harga ayam atau telur, sulit dilakukan oleh peternak dalam kondisi ekonomi seperti sekarang ini.

Memang terjadi kenaikan harga telur di pasaran. Meski belum naik secara signifikan, namun pelan-pelan dan pasti, harga telur merangkak naik. Tentunya harga daging ayam juga akan naik, walau tidak bisa seketika.

Pantauan pasar yang dilakukan Komisi Pengawas dan Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah I di sejumlah pasar tradisional di Medan, menemukan indikasi kenaikan itu. Hal ini kemudian memicu kekhawatiran para peternak ayam yang mengalami kerugian.

“Memang ada kenaikan harga pakan. Itu karena harga jagung pun mengalami kenaikan. Sebenarnya, di satu sisi ada baiknya. Karena harga jagung di tingkat petani naik, saat ini mencapai Rp5.800 per kilogram,” kata Kepala KPPU Wilayah I Ramli Simanjuntak, Jumat (7/5/2021).

Ramli mengatakan dia senang, petani jagung mulai menikmati hasil panen dengan harga yang naik. Namun, di lain sisi, efeknya juga terjadi kenaikan harga pakan ternak.

“Petani kita biar seneng dulu. Harga naik, petani jagung pun senang. Tapi memang di sisi lain membuat harga pakan naik, hingga harga telur juga jadi naik,” ujarnya.

Namun, dia menilai kenaikan harga telur masih belum terlalu signifikan dan mengkhawatirkan. Dia berharap untuk memberi kesempatan kepada petani jagung juga untuk menikmati hasil panen.

“Biar petani kecil kita seneng juga. Memang perlu adanya regulasi baku dari pemerintah daerah untuk mengatur rantai dan alur ini, agar semua bisa menikmati hasil dan tidak ada yang dirugikan,” jelasnya.

Sementara itu, Pengamat Ekonomi Kota Medan, Jufri Siregar menilai, tidak ada regulasi baku pemerintah daerah yang mengatur soal itu. Selama ini, pasar berjalan sendiri tanpa adanya pengawalan ataupun pendampingan pemerintah.

“Contoh kasus ini, peternak ayam dan petelur itu mengikuti pasar sendiri. Jika harga pakan naik, maka mereka akan menaikan harga jual juga. Pemerintah gak ada ruang di sini. Karena tidak ada pengawalan,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa harusnya pemerintah mengawal sisi ini. Bukan malah pelaku pasar yang menciptakan harga jual sendiri.

“Seperti ini harga jagung, harusnya ada binaan pemerintah bagaimana meski harga jagung naik, tapi tidak berdampak ke harga pakan hingga harga telur yang sampai ke masyarakat,” jelasnya.

Baru-baru ini, sejumlah pelaku usaha peternak ayam petelur menyampaikan keresahannya ke Forda UKM Sumatera Utara, tepatnya pada Senin (3/5/2021), Mereka diterima Ketua Forda UKM, Sri Wahyuni Nukman, Presidium Forda UKM, Lie Ho Pheng, dan juga Wakil Ketua Bidang Organisasi, Nur Halim Tanjung.

Dalam pertemuan tersebut, terungkap sejak mahalnya harga pakan ini sebenarnya sudah berlangsung sejak Desember. Setidaknya terjadi lima kali kenaikan harga dengan nilai yang bervariasi.

Besaran kenaikan harga pakan tersebut mencapai Rp1.400/kg, bahkan dalam waktu dekat disebutkan akan terjadi kenaikan lagi sebesar Rp300/kg.

“Sekarang ini, harga telur cenderung gak naik. Justru harga pakan yang naik. Naik dari Rp 5450/kg menjadi Rp6850. Dan katanya mau naik lagi, Rp300/kg jadi Rp7150/kg,” ujar Seng Guan salah satu peternak ayam petelur di Pantai Labu.

Menurutnya, kenaikan harga pakan ini, membuat pelaku usaha mengalami kerugian yang tidak sedikit. Apalagi untuk harga telur ayam untuk tingkat kandang dibandrol di kisaran Rp1.080 per butirnya. Disisi lain, HPP telur ini mencapai Rp1.250 per butirnya.(sulaiman achmad)