Beranda Tulisan Feature Derita Warga Panca Kubu, Setiap Hari Menerobos Arus Sungai di Lembah Seulawah

Derita Warga Panca Kubu, Setiap Hari Menerobos Arus Sungai di Lembah Seulawah

BERBAGI
Warga di Desa Panca Kubu, Kabupaten Aceh Besar, harus menerobos arus sungai untuk mencapai ke seberang, karena belum tersedia jembatan. (Foto/cut nauval d)

“Kalau musim hujan, masyarakat yang mau ke desa sebelah tidak bisa menyeberang karena arus sungainya sangat deras. Kasihan anak-anak yang mau ke sekolah”

— Kepala Desa Panca Kubu, Mayasari —

Pada Kamis siang itu, 5 Maret 2022, Muhammad Yasir, 26, berusaha menyalakan sepeda motornya. Motor Yamaha RX King itu tidak mau menyala lantaran kemasukan air hingga ke dalam mesin. Beberapa menit sebelumnya dia terpaksa menerobos arus sungai karena hingga kini di desanya itu belum ada jembatan.

“Sudah biasa kok, paling setengah jam sudah hidup lagi,” ujar Yasir, warga Desa Panca Kubu, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

Panca Kubu sendiri adalah sebuah desa di pedalaman Aceh Besar. Sebenarnya tidak terlalu jarak dari jalan nasional Banda Aceh – Medan. Namun jalan menuju ke desa itu masih berupa jalan tanah dan berlubang. Panca Kubu berbatasan dengan hutan Seulawah. Akses yang buruk membuat desa itu tertinggal dalam banyak hal.

Belum lama ini, jurnalis Waspadaaceh.com, mengunjungi desa ini. Yasir adalah satu dari ratusan penduduk desa yang harus berjuang ekstra hati-hati setiap kali melintasi sungai berarus deras tersebut.

Muhammad Yasir sedang berusaha menyalakan mesin sepeda motornya setelah menyeberangi arus sungai Krueng Panca di Aceh Besar,(Foto/Cut Nauval D).

Yasir tidak putus asa. Dia tetap berusaha menyalakan motornya. Dua keranjang rotan berisi barang dagangan dia letakkan begitu saja di tepi sungai. Yasir mengaku memiliki kios kecil, berjualan kebutuhan sehari-hari untuk warga di sana. Di dalam keranjang itu terdapat popok bayi, makanan ringan, mi instan, dan telur.

Barang dagangan itu dibeli dari toko grosir di Lamtamot, sebuah desa di tepi jalan nasional Banda Aceh – Medan. Yasir tidak peduli harus menerobos sungai dan membelah hutan yang sunyi. Sebab dari berjualan itulah Yasir bertahan hidup.

Di desa itu pernah terjadi banjir bandang tahun 2004 silam, yang menyisakan derita bagi kehidupan warga Panca Kubu. Jembatan gantung satu-satunya yang menghubungkan Panca Kubu dengan Desa Panca, ambruk diterjang arus. Sejak itulah kedua desa itu terpisah oleh sungai. Alhasil, akses ke Desa Panca Kubu hanya dapat dilalui dengan menerobos sungai.

Pada tahun 2008, Pemerintah Aceh mulai membangun pondasi jembatan rangka baja. Yasir bahagia karena nantinya dia tidak perlu lagi menerobos sungai. Harapan untuk memiliki jembatan menjadi harapan semua warga di situ. Namun harapan warga Panca Kubu untuk memiliki jembatan, hanya tinggal harapan. Sampai sekarang jembatan itu tak pernah rampung dikerjakan.

Keuchik (Kepala Desa) Gampong Panca Kubu, Mayasari (kiri) saat berbincang dengan jurnalis Waspadaaceh.com. (Foto/Ist)

Pengamatan Waspadaaceh.com saat mengunjungi desa itu, kondisi jembatan baru dibangun pada bagian abutmen di sisi sungai Desa Panca dan Desa Panca Kubu. Jembatan rangka baja itu dibangun belum sampai setengahnya. Masih memerlukan puluhan meter lagi agar jembatan bisa terhubung hingga ke seberang, menghubungkan antara kedua desa itu sebagai menunjang sarana transportasi warga setempat.

Keuchik (Kepala Desa) Gampong Panca Kubu, Mayasari, mengatakan, jembatan yang menghubungkan kedua desa itu sangat penting bagi kehidupan warga sekitar. Mengingat warga Panca Kubu terdiri dari 75 KK atau 300 jiwa. Minimnya akses untuk menyeberangi sungai yang memisahkan dua desa itu berdampak bagi kehidupan perekonomian masyarakat serta pendidikan.

“Kalau musim hujan, masyarakat yang mau ke desa sebelah tidak bisa menyeberang karena arus air sungainya sangat deras. Kasihan anak-anak yang mau ke sekolah,” kata Mayasari.

Tidak hanya mereka, namun mobilitas warga di dua perkampungan yang berseberangan ini juga terhambat, terutama untuk mencapai pasar, serta puskesmas.

Mayasari mengatakan, abutmen kiri-kanan dari jembatan tersebut telah dibangun pada tahun 2008 hingga 2010. kemudian sempat terhenti, selanjutnya tahun 2018 satu bentang rangka juga telah dibuat. Namun tahun 2019 hingga 2021 tidak ada pengerjaan sama sekali.

Terkait pembangunan lanjutan jembatan itu, Mayasari mengatakan, akhir tahun 2022 ini Pemerintah Aceh akan mewacanakan untuk merealisasikan pembangunan jembatan yang belum selesai tersebut.

“Ya kita berharap, semoga tidak hanya menjadi sekadar harapan,” tuturnya. (Cut Nauval Dafistri)

BERBAGI