Kamis, Juli 25, 2024
Google search engine
BerandaAcehBKKBN: Atur Jarak Kelahiran Cegah Stunting

BKKBN: Atur Jarak Kelahiran Cegah Stunting

Banda Aceh (Waspada Aceh) – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Aceh mengimbau masyarakat di provinsi ujung barat Indonesia tersebut mengatur jarak kelahiran guna mencegah lahirnya stunting atau kekerdilan.

“Kelahiran yang rapat bisa menyebabkan bayi dilahirkan stunting. Karena itu, kami mengimbau masyarakat mengatur jarak kelahiran anak,” kata Kepala BKKBN Provinsi Aceh Sahidal Kastri di Banda Aceh, Senin (3/10/2022).

Didampingi Sekretaris BKKBN Provinsi Aceh Husni Thamrin, Sahidal Kastri mengatakan saat ini pemerintah memfokuskan penanganan stunting guna mewujudkan generasi emas pada 2045.

BACA: TNI Kolaborasi dengan BKKBN untuk Percepatan Penurunan Stunting

Saat ini, kata Sahidal Kastri, angka stunting di Provinsi Aceh masih terbilang tinggi, mencapai 33,2 persen. Namun, dengan upaya semua para pemangku kebijakan di Provinsi Aceh, pihaknya optimis angka tersebut turun menjadi 14 persen pada 2024.

“Penanganan stunting tidak hanya BKKBN, tetapi juga melibatkan semua instansi pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun kabupaten kota. Dan ini tentu menjadi kekuatan bersama menurunkan angka stunting di Provinsi Aceh,” kata Sahidal Kastri.

BACA: 12 Ribu Anak di Aceh Alami Stunting

Sementara itu, Sekretaris BKKBN Provinsi Aceh Husni Thamrin mengatakan pihaknya terus mengampanyekan penanganan stunting. Selain menjaga jarak kelahiran, juga memberi pemahaman reproduksi kepada calon suami istri.

“Pemahaman reproduksi ini agar kelahiran bayi yang dilahirkan tidak mengalami stunting dan mengalami kekurangan nutrisi,” kata Husni Thamrin menyebutkan.

Selain reproduksi, penanganan stunting juga dilakukan dengan memantau perkembangan bayi usia nol hingga 23 bulan dengan mengaktifkan peran posyandu di desa-desa.

BACA: Ekonom USK: Dirut Bank Aceh Syariah Harus Paham Manajemen Keuangan, Bukan Sembarangan

“Termasuk perekaman kondisi bayi, baik pertumbuhan tinggi badan maupun berat badan. Jika pertumbuhan badan kurang, maka akan dilakukan intervensi dengan memberikan asupan gizi dan lainnya,” kata Husni Thamrin.

Di samping itu, penanganan stunting juga dilakukan dengan menciptakan lingkungan hidup yang sehat. Termasuk akses sumber air bersih yang memadai bagi keluarga yang memiliki bayi usia nol hingga 23 bulan.

“Persoalan stunting bukan hanya soal reproduksi dan asupan gizi bagi anak, tetapi juga lingkungan sekitar, termasuk akses bersih. Karena itu, sinergitas lintas sektoral dibutuhkan menangani stunting,” kata Husni Thamrin.

Waspada Aceh on TV

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER