BerandaOpini“Bittern”, Limbah Produksi Garam yang Belum Maksimal Termanfaatkan

“Bittern”, Limbah Produksi Garam yang Belum Maksimal Termanfaatkan

Dalam industri kimia, cairan ini dapat diolah menjadi bahan dasar pembuatan berbagai senyawa untuk kebutuhan produksi kertas, deterjen, pupuk hingga campuran produk perawatan kulit.

Oleh: Dr. Gunawati, S.Si., M.Si.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, cairan sisa pengolahan garam dikenal dengan sebutan bittern. Di tengah masyarakat Aceh, zat ini lebih akrab disebut ie kuloeh.

Sejak turun-temurun, nenek moyang kita telah memanfaatkannya sebagai ramuan tradisional: dioleskan pada bagian tubuh yang terasa kaku, nyeri, kebas, atau gatal, dengan keyakinan dapat meredakan keluhan yang dirasakan. Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya kemajuan teknologi kesehatan, pengetahuan serta kebiasaan turun-temurun ini perlahan mulai terlupakan dan terpinggirkan.

Aceh telah lama dikenal sebagai wilayah penghasil garam rakyat, bahkan jauh sebelum masa penjajahan kolonial Belanda. Letaknya yang membentang di sepanjang pesisir menjadikan daerah ini memiliki akses mudah terhadap bahan baku utama, yaitu air laut.

Hingga kini, Aceh tetap menjadi satu-satunya sentra produksi garam di Pulau Sumatera, sehingga pemerintah terus mendorong berbagai upaya guna mewujudkan kemandirian penyediaan komoditas strategis ini.

Secara tradisional, masyarakat Aceh umumnya membuat garam melalui proses perebusan air laut hingga mengkristal. Seiring berkembangnya zaman, metode produksi pun mengalami pembaruan. Kini banyak petambak mulai menerapkan sistem penjemuran dalam ruang terowongan, yang dilapisi membran plastik geomembran di dasar lahan dan plastik tahan sinar ultraviolet sebagai penutup atap. Cara ini terbukti lebih efektif mempercepat proses penguapan air laut.

Baik melalui cara perebusan maupun penjemuran terowongan, setiap proses pembuatan garam senantiasa menghasilkan dua produk utama: butiran garam dan limbah cair yang disebut bittern.

Berdasarkan laporan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh, garam yang dihasilkan telah dimanfaatkan dan didistribusikan dengan sangat baik. Sebaliknya, limbah cair yang melimpah ini sama sekali belum tersentuh oleh pasar dan belum dikelola secara optimal.

Bittern berwujud cairan pekat, yang tampak bening atau agak keruh tergantung pada metode pembuatan garam yang digunakan. Cairan ini tersedia dalam jumlah yang sangat banyak, melimpah, dan diperoleh dengan biaya yang sangat murah.

Sayangnya, selama ini ia kerap dibuang begitu saja tanpa ada upaya pemanfaatan, terutama karena keterbatasan informasi dan pengetahuan di kalangan petambak mengenai nilai guna yang terkandung di dalamnya.

Padahal, bittern menyimpan kekayaan mineral yang tinggi dan bermanfaat bagi kehidupan. Kandungan ini tertinggal dalam cairan karena tidak ikut mengkristal pada saat proses pembentukan garam. Di dalamnya terkandung unsur-unsur penting seperti magnesium, natrium, kalsium, dan kalium dalam kadar yang cukup pekat.

Magnesium, misalnya, berperan krusial dalam menjaga kinerja otot, menyeimbangkan kadar elektrolit, memperkuat kepadatan tulang, serta mendukung berbagai proses biologis dalam tubuh. Sementara itu, kalsium yang juga melimpah menjadi unsur pokok untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi, serta berperan dalam fungsi seluler yang sehat.

Selain itu, terdapat natrium sulfat yang bermanfaat sebagai bahan baku industri kimia, farmasi, pembuatan kertas, hingga deterjen. Unsur kalium pun tidak kalah penting, berfungsi menjaga keseimbangan cairan tubuh serta menunjang kesehatan sistem saraf dan kerja otot.

Kandungan berharga ini membuka peluang luas pemanfaatan bittern di berbagai sektor kehidupan. Dalam industri kimia, cairan ini dapat diolah menjadi bahan dasar pembuatan berbagai senyawa untuk kebutuhan produksi kertas, deterjen, hingga pupuk. Di bidang kosmetik, kandungan mineralnya menjadikan bittern cocok dicampurkan ke dalam produk perawatan kulit guna menjaga kesehatan dan kesegaran jaringan kulit.

Untuk sektor pertanian, unsur magnesium, kalsium, dan kalium yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai penyusun pupuk guna meningkatkan kesuburan tanah dan merangsang pertumbuhan tanaman. Dalam bidang kesehatan dan suplemen pangan, senyawa mineralnya dapat diolah menjadi zat pendukung kesehatan tulang, otot, serta sistem saraf manusia.

Bahkan dalam pengobatan tradisional, bittern dipercaya mampu menjaga kesehatan jantung berkat kandungan magnesiumnya, membantu mengangkat sel kulit mati, serta memperkuat daya tahan tubuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, pemanfaatan bittern telah lama dikenal dalam industri pangan, khususnya sebagai bahan penggumpal protein pada proses pembuatan tahu. Ia juga mulai digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan masker wajah. Berbagai penelitian juga membuktikan bahwa cairan ini dapat diolah menjadi pupuk majemuk yang berkualitas.

Lebih jauh lagi, bittern memiliki potensi besar sebagai solusi ramah lingkungan. Dalam industri batik, yang selama ini menghadapi tantangan pencemaran limbah cair, bittern dapat berperan sebagai koagulan alami untuk mengendapkan zat pencemar.

Penelitian serupa pada industri kertas juga menunjukkan bahwa penambahan bittern secara signifikan menurunkan kadar zat padat tersuspensi dalam air limbah, sehingga kualitas air buangan menjadi lebih baik dan aman bagi lingkungan.

Memaksimalkan pemanfaatan bittern bukan hanya mengurangi risiko pencemaran lingkungan akibat pembuangan cairan pekat yang dapat mengubah keseimbangan salinitas perairan, melainkan juga menciptakan nilai tambah ekonomi yang cukup menjanjikan.

Di Pulau Jawa, misalnya, harga bittern kini terus meningkat, mencapai sekitar Rp15.000 per liter. Dahulu dianggap tidak berharga, namun seiring dengan pemahaman akan manfaatnya, komoditas ini kian dicari.

Tim peneliti dari Departemen Fisika FMIPA Universitas Syiah Kuala telah melakukan kajian mendalam terhadap karakteristik bittern yang dihasilkan di Desa Cebrek, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, baik dari metode perebusan maupun penjemuran terowongan. Pengukuran dilakukan terhadap kadar unsur kimia, daya hantar listrik, massa jenis, tingkat keasaman, kepadatan, hingga warna cairan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bittern dari metode perebusan memiliki kadar magnesium, kalium, natrium, dan sulfat yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil metode terowongan. Sementara itu, cairan dari penjemuran memiliki daya hantar listrik dan massa jenis yang lebih tinggi.

Dari segi tingkat keasaman, kepadatan, dan kejernihan, bittern hasil rebusan memiliki nilai yang lebih unggul. Temuan ini mempertegas bahwa limbah garam ini sangat berpotensi diolah menjadi bahan baku industri kimia, pupuk, logam, elektrolit baterai, maupun zat pengolah air limbah. Tentu saja, untuk mencapai standar industri, proses pemurnian lanjutan tetap diperlukan.

Sebagai penutup, penulis menghimbau kepada pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan pelaku usaha untuk bersama-sama mengembangkan potensi bittern asal Aceh. Dengan pengelolaan yang tepat, penelitian yang berkelanjutan, dan dukungan kebijakan yang memadai, limbah yang selama ini terbuang percuma dapat berubah menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi. Komoditi ini mampu bersaing di pasar yang lebih luas, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan para petambak garam di bumi Serambi Mekkah ini. (*)

  • Dr. Gunawati, S.Si., M.Si adalah Peneliti pada Departemen Fisika FMIPA Universitas Syiah Kuala (USK)
  • Sumber: Hasil Kajian Tim Peneliti Departemen Fisika FMIPA Universitas Syiah Kuala, 2026
BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER