Beranda Editorial Berharap Marzuki Mampu Singkirkan “Virus” di Aceh

Berharap Marzuki Mampu Singkirkan “Virus” di Aceh

BERBAGI
Penjabat Gubernur Aceh, Achmad Marzuki (seragam putih) didampingi istri dan Wakil Ketua DPRA, Hendra Budian, usai prosesi pelantikan di gedung dewan, Rabu (6/7/2022). (Foto/Kia Rukiah)

“Harapan rakyak Aceh, sebagai pemimpin berlatarbelakang militer, Achmad Marzuki tidak hanya kuat, tapi harus mampu menyingkirkan virus-virus tersebut agar tidak lagi menggerogoti kinerja SKPA dan SKPK”

Dalam diskusi ringan selama dua hari ini dengan seorang ASN dan akademisi, tanpa sengaja kemudian kami memunculkan sebutan “virus”. Di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), virus adalah ¬†mikroorganisme yang tidak dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa, hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron. Virus mikroorganisme¬† menjadi penyebab dan penular penyakit, seperti cacar, influenza dan rabies.

Hanya saja dalam konteks diskusi kami, virus dimaksud adalah oknum-oknum dari luar yang telah menggerogoti proyek-proyek di SKPA (Satuan Kerja Perangkat Aceh) dan SKPK (Satuan Kerja Perangkat Kabupaten/Kota) sehingga cukup mengganggu kinerja para ASN. Cara kerja mereka tentu tak tampak, bagai virus, yang hanya bisa dilihat menggunakan “mikroskop elektron”. Tentu saja akan sulit dibuktikan. “Ada tapi tak terkatakan.” Kecuali para SKPA, terutama yang bekerja mengurusi proyek pemerintah berani bersaksi dan membuka praktik-praktik itu.

Sebutannya juga virus, dengan kekuasaannya mereka ini mampu menekan para kepala SKPA untuk mendapatkan jatah proyek. Bila tidak diberi, maka siap-siaplah para SKPA mendapatkan serangan dari virus tadi. Bisa dalam bentuk pemanggilan, pemeriksaan dan tekanan lainnya, yang bisa membuat para kepala SKPA terserang “flu” atau bahkan “cacar” atau “rabies.” Sayangnya, pemimpin tertinggi di Aceh (gubernur) tidak memiliki keberanian membongkar praktik-praktik seperti itu. Rasa-rasanya tidak mungkin bila sang pemimpin tidak mengetahuinya. Bisa jadi sang pemimpin pun ikut menjadi korban yang mendapat ditekanan.

Institusi di luar Pemerintah Aceh yang memiliki wewenang, selayaknya membiarkan proses tender proyek pemerintahan bisa berjalan sesuai dengan aturan. Bila ternyata di kemudian hari ada penyimpangan, silahkan melakukan pengusutan dan menyeret pihak-pihak yang terlibat ke meja hijau. Bukan dengan menekan SKPA untuk memperoleh bagian atau jatah proyek, kemudian mendiamkan kasusnya lebih lanjut. Itu sama dengan pemerasan. Bisa juga disebut ikut menggerogoti uang negara (uang rakyat), bak virus yang menggerogoti tubuh manusia. 

Kini Provinsi Aceh dipimpin seorang mantan Panglima Kodam Iskandar Muda (IM), yakni Mayjen TNI Achmad Marzuki. Harapan rakyak Aceh tentu sebagai pemimpin berlatarbelakang militer, Achmad Marzuki tidak hanya kuat, tapi harus mampu menyingkirkan virus-virus tersebut agar tidak lagi menggerogoti kinerja SKPA dan SKPK. Apalagi ketika melantik Pj Gubernur Aceh, Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, berpesan kepada Achmad Marzuki agar menjaga dan melakanakan amanah Allah SWT.

Artinya, Pj Gubernur Achmad Marzuki nantinya harus bisa menjamin SKPA dapat bekerja dengan aman, nyaman dan bertanggungjawab. Tidak diintervensi oknum tertentu dari luar yang bagai virus menyebar mencari mangsanya di SKPA. Tidak seperti selama ini, para SKPA dan SKPK disebut-sebut hanya bekerja untuk memberi “makan,” menyenangkan dan menggemukkan virus-virus tadi. Karena hal itu berdampak pada penurunan kinerja SKPA sekaligus juga menghambat jalannya pembangunan di Aceh.

Di tangan Achmad Marzuki kita semua berharap Aceh akan semakin maju dan sejahtera. Di tangan Achmad Marzuki pula semua rakyat Aceh berharap Pemerintah Aceh menjadi lebih kuat, tanpa intervensi pihak luar, khususnya oknum-oknum yang selama ini telah menggerogoti para SKPA dan SKPK. Semoga (**)