Atasi Kopi Gayo Tercemar Kimia, Bardan Sahidi: Petani Kopi Butuh Mesin Potong Rumput

    BERBAGI
    Bardan Sahidi, Anggota DPR Aceh Fraksi PKS asal Aceh Tengah. (Foto/instagram).

    Banda Aceh (Waspada Aceh) – Anggota Komisi I DPR Aceh, Bardan Sahidi, meminta pemerintah melakukan langkah kongkrit penyelesaian masalah kopi gayo yang kini masih ditolak pasar Uni Eropa, karena terindikasi terkontaminasi zat kimia.

    Ia mengatakan, pemerintah tidak hanya melakukan edukasi atau pendampingan, namun perlu juga mendistribusikan mesin babat rumput kepada petani. Petani kata dia, membutuhkan mesin rumput sehingga tidak menggunakan racun kimia untuk mengatasi masalah rumput di kebun kopi petani.

    Sebagaimana yang diungkapkan Ketua AEKI Aceh, Armia, saat ini kopi gayo tidak lagi memenuhi syarat masuk ke pasar Eropa. Pembeli kopi dari Eropa menyebutkan, hasil uji laboratorium bahwa sampel kopi yang dikirim dari Aceh, khususnya dataran tinggi Gayo, mengandung kadar glifosat atau zat kimia. Zat kimia ini sebenarnya digunakan petani untuk mematikan rumput, tapi sayangnya penggunaan zat tersebut berada pada ambang batas.

    Kata anggota DPRA asal Gayo ini, langkah kongkrit dari pemerintah bukan sekedar pendampingan dan edukasi dengan teori kepada petani kopi. Perlunya distribusi mesin babat rumput kepada petani agar petani yang memiliki lahan kebun luas tidak lagi menggunakan racun rumput untuk membersihkan lahannya.

    Berita terkait: Belajar dari Penolakan Kopi Arabika Gayo oleh Uni Eropa, Petani Butuh Edukasi dan Pendampingan

    “Saya mengetahui bahwa petani kopi di Gayo sudah lama bercocok tanam kopi, sudah turun temurun dari muyang datu urang Gayo. Mereka tumbuh dan berkembang di kebun kopi dataran tinggi Gayo,” jelasnya kepada Waspadaaceh.com, Minggu (1/8/2021).

    Usulan ini, kata Bardan, telah berulangkali dia sampaikan kepada pemerintah melalui Dinas Pertanian Aceh, baik saat rapat kerja mau pun dalam musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang).

    Solusi tersebut, katanya, relatif lebih cepat dan mudah bagi petani kopi. Ia mengatakan, sepatutnya pemerintah mengajukan program jangka panjang untuk pemberdayaan petani kopi, dengan penyediaan bibit unggul kopi arabika Gayo (varietas Gayo 1/tim-tim dan varietas Gayo2/bornbon). Kedua varietas ini unggul tahan hama dan produktif. Selanjutnya perlu menyediakan pupuk alam (organik) dan penanganan pasca panen.

    Kopi gayo sebagai komoditas ekspor asal Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan sebagian dari Kabupaten Gayo Lues di daerah Pantan Cuaca, harus mendapat perhatian serius dari pemerintah.

    “Dalam berbagai kesempatan saya selalu sampaikan kondisi yang dialami petani. Harus dapat merasakan dan fahami, saya sendiri sebagai petani kopi,” tutur politisi PKS ini. (Cut Nauval Dafistri)