Beranda Laporan Khusus Aceh Butuh 2,3 Juta Telur/Hari, Bagaimana Memenuhinya?

Aceh Butuh 2,3 Juta Telur/Hari, Bagaimana Memenuhinya?

BERBAGI
Salah satu peternakan ayam petelur milik Kelompok Ternak Saboh Hatee yang berada di Desa Kampung Blang, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. (Foto/ist)

“Peternak ayam di Aceh, khsusnya ayam petelur, membutuhkan ‘bapak angkat,’ yang dapat membina mereka, menyediakan bibit ayam, teknis pemeliharaan, penyediaan pakan hingga jaminan menampung produksinya”

-Kelapa Dinas Peternakan Aceh Zalsufran –

Kepala Dinas Peternakan Aceh Zalsufran menyampaikan update produksi telur di Aceh per tanggal 6 November 2022, yang diperkirakan mencapai 20.180 butir per hari.  Sementara Provinsi Aceh sendiri membutuhkan telur sebanyak 2,3  juta butir per hari.

Dari data kebutuhan telur yang cukup tinggi tersebut  sebenarnya menjadi peluang bisnis yang sangat potensial, lantaran produksi telur di Aceh masih sangat kecil,  hanya 0.08 persen. Aceh mau tidak mau harus menampung pasokan telur dari provinsi tetangga, seperti Sumatera Utara, mencapai sekitar 2,2 juta telur per-hari.

Zalsufran mengatakan, kegiatan industri ayam petelur di Aceh pasang surut. Rendahnya produksi karena pengembangannya yang belum berorientasi bisnis. Menurutnya, masyarakat masih memandang usaha peternakan ini sebagai usaha sampingan dan hanya memelihara beberapa ekor saja  sehinga prosuksinya sangat minim. Pola peternakannya pun masih ekstensif, belum intensif.

“Para peternak di Aceh selama ini beternak dengan  sistem pemeliharaan ekstensif. Kami terus memotivasi peternak agar punya visi wirausaha,” kata Zalsufran di ruang kerjanya, Senin (7/11/2022).

Butuh Kemitraan dengan Swasta

Untuk mendorong peningkatan produksi telur di Provinsi Aceh, kata Kepala Dinas Peternakan, Pemerintah Aceh akan memfasilitasi pola kemitraan, melibatkan pihak swasta, salah satunya dengan perusahaan pakan.

Salah satu peternakan ayam petelur milik Kelompok Ternak Saboh Hatee yang berada di Desa Kampung Blang, Kecamatan Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. (Foto/ist)

“Peternak ayam di Aceh, khsusnya ayam petelur, membutuhkan ‘bapak angkat,’ yang dapat membina mereka, menyediakan bibit ayam, teknis pemeliharaan, penyediaan pakan hingga jaminan menampung produksinya,” ujar Zalsufran.

Menurut Zalsufran, usaha bidang peternakan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Pemerintah Aceh telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi dan produktivitas ternak agar Aceh tidak lagi tergantung pada daerah lain dalam memenuhi kebutuhan telur ayam untuk masyarakat.

“Kita sudah komunikasikan, sesuai harapan PJ Gubernur, agar konsisten dengan ini agar produksinya bagus. Ketersediaanya kalau tidak 100 persen minimal bisa 50 persen dari produksi peternak lokal. Tentunya perlunya pola kemitraan dengan pihak swasta,“ sebutnya.

Kendala Dihadapi Peternak Ayam

Kata Zalsufran, kendala yang dihadapi peternak selama ini masih terkait pakan. Selama ini pakan juga masih didistribusikan melalui Sumatera Utara.

Salah satu solusinya, kata Zalsufran. Dinas Peternakan mendorong swasta untuk membangun pabrik pakan di Aceh sehingga bisa memberdayakan teman-teman peternak agar bisa mendapatkan pakan yang baik, murah dan terjangkau.

Untuk meningkatkan kapasitas peternak, kata Zalsufran, sebelumnya Pemerintah Aceh telah memberangkatkan 9 orang pengusaha peternakan ayam petelur ke Blitar dan Kendal. Keberangkatan tersebut untuk meningkatkan kapasitas peternak, produktivitas, efektivitas dan efisiensi pengolahan ternak dan pakan.

Oleh karena itu pengusaha ternak perlu menyiasati kebutuhan pakan ternak ayamnya, dengan mengolah pakan lokal. Namun pakan ternak ayam petelur, menurut Zalsufran, lebih rumit dibanding dengan pakan untuk ayam pedaging.

“Bila salah pakan, misalnya salah satu kandungannya kurang, maka ayam bisa tidak bertelur. Jadi semua nutrisinya harus komplit, termasuk untuk cangkangnya agar sesuai,” ujar Zalsufran.

Kepala Dinas Perternakan (Kadisnak) Aceh Zalsufran. (Foto/Sulaiman Achmad)

Peluang Bisnis Potensial

Pemerintah Aceh terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan telur di Aceh sebagai penunjang ketahanan pangan, agar tidak terlalu tergantung kepada Sumatera Utara.

Para peternak di Aceh selama ini menjalankan usahanya dengan pola ekstensif (tradisonal), yaitu budidaya ayam dengan cara dilepasliarkan. Meskipun memiliki kandang, tapi kondisi kandang belum memenuhi syarat kandang yang baik.

Dilansir dari website Pemerintah Aceh, saat ini Distanbun Aceh telah mengajukan permohonan untuk pengadaan bibit dan kandang ayam petelur. Rencananya permohonan itu untuk mendirikan kandang ayam petelur di 9 kabupaten/kota.

“Selain itu, Bappenas juga akan mendirikan 12 pabrik pakan mini untuk 9 kabupaten/kota. Saat ini, semua sedang berproses. Kita doakan bersama agar semua rencana ini segera terealisasi, sehingga Aceh mampu menjadi salah satu daerah dengan ketahanan pangan yang baik, sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional,” kata Zalsufran.

Selain mendorong masyarakat untuk melihat peluang bisnis tersebut, Dinas Peternakan juga ikut mengelola peternakan ayam petelur di Aceh. Beberapa sentra peternakan ayam petelur di antaranya di Aceh Besar, Sigli, Ngan Raya, Aceh Singkil, Aceh Selatan, dan Aceh Utara. Sementara itu persediaan dan harga telur ayam ras di pasaran tetap stabil. Harga enceran dijual pedagang berkisar Rp1.500 – Rp2.000 perbutir. (*)