Di satu sisi, Iran membangun jaringan kokoh yang disebut “Poros Perlawanan”. Di sisi lain, AS memperkuat aliansi strategis dengan negara-negara sekutunya.
Oleh: Firdaus, M.Si
Di bawah langit Teheran yang muram, retorika perang bukan lagi sekadar kata-kata di atas kertas diplomasi. Ia telah menjelma menjadi nyata, sebuah ancaman yang terasa hangat di kulit dan berat di dada.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kini telah bergeser dari sekadar perang bayangan melalui kelompok proksi, menuju konfrontasi langsung yang tampak seperti sebuah keniscayaan sejarah.
Bagi jutaan pendukungnya di berbagai penjuru dunia, Iran bukan lagi sekadar sebuah negara yang mempertahankan batas wilayahnya. Ia telah menjelma menjadi simbol perlawanan global, representasi harga diri bagi “kaum mustad’afin” yang berdiri tegak menantang dominasi kekuatan besar.
Di mata dunia ketiga, perang ini melampaui sekadar hitungan siapa yang menang atau kalah di medan tempur. Teheran hadir sebagai kekuatan yang berani menampar standar ganda yang selama ini didiktekan Washington.
Di satu sisi, AS terus menggemakan nilai-nilai demokrasi dan kebebasan, namun di sisi lain, agresi militer dan sanksi ekonomi yang dilancarkan sering kali dipandang sebagai upaya kejam untuk melanggengkan hegemoni yang mencekik negara-negara berkembang.
Kemiskinan di Balik Mesiu
Di tengah gemuruh dentuman meriam dan deru jet tempur, realitas pahit terus menghantui negara-negara dunia ketiga. Konflik besar ini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal nasib jutaan manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan.
Data terbaru dari Bank Dunia per September 2025 menjadi saksi bisu luka yang belum kunjung mengering:
– 808 Juta Jiwa diperkirakan masih hidup dalam kemiskinan ekstrem di seluruh dunia pada tahun 2025, dengan mayoritas besar berada di wilayah-wilayah yang rawan konflik.
– Sub-Sahara Afrika menjadi wilayah dengan beban terberat, di mana hampir separuh penduduknya, sekitar 46%, hidup dengan keterbatasan yang menyakitkan.
Standar kemiskinan internasional kini pun dinaikkan menjadi US$ 3,00 per hari (setara sekitar Rp47.000). Kenaikan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan betapa mahalnya harga hidup saat ini, yang membuat jumlah penduduk miskin di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, terus bertambah.
Kesenjangan yang lebar inilah yang menjadi bahan bakar ideologis bagi Iran untuk memosisikan dirinya sebagai pembela mereka yang terpinggirkan oleh sistem ekonomi global yang didominasi oleh Barat.
Peta Keberpihakan yang Semakin Jelas
Konflik ini telah membelah peta dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah, menjadi dua kutub yang saling berhadapan. Di satu sisi, Iran membangun jaringan kokoh yang disebut “Poros Perlawanan”. Di sisi lain, AS memperkuat aliansi strategis dengan negara-negara sekutunya.
Bagi negara-negara dunia ketiga, peperangan ini adalah cermin. Ia menjadi ujian bagi tatanan dunia yang dirasa sudah usang dan tidak adil. Iran, dengan segala risiko yang dihadapi, telah memilih jalan untuk menjadi simbol perlawanan, bahkan jika itu harus berakhir sebagai pengorbanan demi sebuah prinsip.
Di Mana Posisi Indonesia?
Sejarah pernah mencatat, ketika dunia terbelah pasca Perang Dunia II, Bung Karno dan Bung Hatta mampu menempatkan Indonesia di posisi yang gagah dan berwibawa.
Mereka menjadi jembatan, menjadi pemimpin bagi negara-negara yang baru merdeka di tengah pusaran kekuatan besar.
Kini, di tengah arus perubahan lanskap dunia yang begitu deras dan kencang, pertanyaan besar muncul menggema: Di manakah posisi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran?
Akankah kita tetap teguh pada prinsip bebas aktif? Ataukah kita akan mengambil sikap yang lebih tegas dalam menentukan nasib bangsa di tengah gempuran perubahan zaman?
Jawabannya tentu akan menentukan wajah Indonesia di mata dunia. (*)
- Firdaus, M.Si, adalah Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat.



