BerandaBeritaTuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Jakarta (Waspada Aceh) – Hanya berselang kurang dari 24 jam setelah kesepakatan gencatan senjata diumumkan, Iran kembali mengambil langkah tegas dengan menutup Selat Hormuz.

Keputusan ini diambil sebagai bentuk protes keras atas serangan mematikan yang dilancarkan Israel di Lebanon, yang dinilai telah melanggar semangat perdamaian yang baru saja dibangun.

Langkah Iran ini dilaporkan oleh kantor berita Associated Press, mengutip sumber-sumber media lokal di Teheran pada Rabu (8/4/2026). Padahal, sebelumnya Iran telah menyetujui syarat utama dalam perjanjian gencatan senjata dua minggu dengan Amerika Serikat (AS), yaitu membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut demi kelancaran pasokan energi global.

Serangan Israel Picu Kemarahan

Situasi berbalik arah setelah militer Israel dikabarkan melancarkan lebih dari 100 serangan udara secara serentak dalam kurun waktu hanya 10 menit di berbagai wilayah Lebanon. Serangan besar-besaran ini mengakibatkan korban jiwa yang sangat tinggi.

Badan Pertahanan Sipil Lebanon mencatat sedikitnya 254 orang tewas dan 1.165 lainnya terluka akibat serangan tersebut. Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menggambarkan situasi yang terjadi sebagai “eskalasi berbahaya” yang mengancam stabilitas kawasan.

Penutupan Selat Hormuz dilakukan Iran sebagai respons langsung terhadap serangan terhadap kelompok Hizbullah, yang merupakan sekutu utama Teheran.

Iran: AS Harus Bertindak

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pengakhiran konflik dan keamanan di Lebanon merupakan bagian integral dari rencana 10 poin dalam kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati dengan AS.

“Dunia menyaksikan pembantaian di Lebanon. Bola ada di tangan AS, dan dunia sedang mengamati apakah AS akan bertindak sesuai dengan komitmennya,” tulis Araghchi di akun media sosial X, dikutip Kamis (9/4/2026).

Pernyataan ini menyiratkan tuduhan bahwa AS dan Israel telah melanggar kesepahaman yang baru saja dicapai, sehingga Iran merasa berhak untuk mencabut jaminan keamanan navigasi yang sebelumnya telah diberikan.

AS Bantah dan Kecam

Sementara itu, muncul perbedaan informasi terkait kondisi terkini di perairan tersebut. Menanggapi laporan penutupan jalur laut itu, pejabat Gedung Putih memberikan reaksi keras.

Dilansir dari laman Time, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, sempat membantah laporan bahwa Iran telah menutup selat tersebut. Namun, ia menegaskan sikap keras pemerintah AS terkait kedaulatan jalur pelayaran.

“Setiap upaya yang dilakukan Iran untuk menghentikan lalu lintas maritim sama sekali tidak dapat diterima,” tegas Leavitt.

Hingga berita ini diturunkan, ketegangan kembali memuncak. Dunia internasional kini menunggu langkah selanjutnya, apakah gencatan senjata yang rapuh ini bisa diselamatkan atau justru akan memicu kembali konflik terbuka yang lebih luas. (*)

BERITA TERKINI
- Advertisment -
Google search engine

BERITA POPULER